Suasana di dalam aula utama candi purba mendadak membeku dalam keheningan yang menyesakkan dada. Debu-debu halus berterbangan di bawah temaram cahaya obor yang bergoyang hebat diterpa angin malam dari luar dinding yang retak. Di tengah ruangan yang dipenuhi oleh para pengungsi dan pejuang yang terluka, udara terasa begitu berat dan beracun. Kepulan asap hitam tipis mulai merayap masuk melalui celah-celah ventilasi batu, membawa bau belerang dan aroma busuk yang mematikan.
Di ambang pintu gerbang yang separuh hancur, sisa-sisa pasukan Iblis Emas menyeringai mengerikan. Di antara mereka, seorang petarung bertubuh raksasa dengan kulit berkilau seperti emas murni melangkah maju. Tangannya menggenggam beberapa bola bola bundar berwarna hitam pekat yang mengeluarkan desisan halus—bom racun maut yang diracik khusus di lembah kegelapan untuk memusnahkan seluruh kehidupan dalam radius puluhan tombak tanpa sisa.
"Jika kami tidak bisa merebut candi ini secara utuh, maka tidak seorang pun dari kalian yang boleh keluar dari tempat ini dalam keadaan bernyawa!" bentak raksasa Iblis Emas itu dengan suara menggelegar, matanya menyala merah penuh nafsu membunuh.
Tanpa membuang waktu atau memberi kesempatan bagi para penghuni candi untuk memohon ampun, sang raksasa mengambil kuda-kuda, mengayunkan tangannya dengan kekuatan penuh, dan melemparkan rentetan bom racun pekat itu meluncur deras menembus udara, mengarah tepat ke tengah-tengah kerumunan orang yang tidak berdaya di dalam aula candi.
Di sudut ruangan yang agak tinggi, dekat pilar batu besar yang dihiasi ukiran relief kuno, Azalia dan Risha berdiri berdampingan. Keduanya memegang busur panjang berukir lambang angin yang terbuat dari kayu jati hitam pilihan. Tanpa perlu saling bertukar kata, ikatan batin dan latihan bertahun-tahun membuat gerakan mereka selaras sempurna bagaikan satu tubuh dengan dua jiwa.
❖ ❖ ❖
Waktu seolah melambat bagi Azalia dan Risha. Mereka melihat bola-bola hitam beracun itu melayang di udara, berputar pelan dengan asap hijau beracun yang mulai mendesis keluar dari pori-pori wadahnya. Jerit ketakutan mulai pecah dari mulut para wanita dan anak-anak yang meringkuk di sudut ruangan, menyadari maut sedang meluncur cepat ke arah mereka.
"Risha, arahkan bidikanmu ke bola di sebelah kiri. Aku akan mengambil yang di sebelah kanan!" seru Azalia dengan nada tegas, tidak menyia-nyiakan sepersekian detik pun yang tersisa.
"Baik! Tarik napas bersamaan, lepaskan pada hitungan ketiga!" balas Risha, matanya menyipit tajam, mengunci setiap pergerakan benda-benda mematikan itu di udara terbuka.
Mereka berdua mengangkat busur secara serempak, menarik tali busur hingga melengkung sempurna membentuk bulan sabit yang tegang. Urat-urat di lengan mereka menonjol, menyalurkan tenaga dalam berbasis elemen angin ke ujung anak panah berbulu putih bersih. Hawa dingin berputar di sekitar mata panah, menciptakan pusaran angin kecil yang menderu pelan di telinga mereka.
Tekanan di dalam ruangan mencapai puncaknya. Setiap detik terasa begitu berharga, sementara bola-bola racun itu semakin mendekati kerumunan di bawah. Jika anak panah mereka meleset bahkan sejauh sehelai rambut saja, wadah rapuh berisi racun pekat itu akan membentur lantai candi dan meledak, menewaskan ratusan jiwa dalam sekejap mata tanpa ampun.
"Satu... dua... tiga!" teriak mereka berdua dalam hati, melepaskan cengkeraman jari-jari mereka dari tali busur secara bersamaan.
❖ ❖ ❖
Dua anak panah meluncur keluar dari busur dengan kecepatan yang melampaui suara angin biasa. Mereka membelah udara aula candi, meninggalkan jejak kilatan cahaya putih kebiruan yang menyilaukan mata siapa saja yang melihatnya di dalam kegelapan ruangan.
Syuuuk! Syuuuk!
Dua desau angin tajam berpadu menjadi satu harmoni kematian. Panah angin yang dilepaskan Azalia dan Risha bergerak sejajar secara sempurna, mempertahankan jarak yang presisi di antara keduanya seolah dihubungkan oleh sehelai benang tak kasat mata. Target mereka bukanlah menghancurkan bola bom itu secara serampak di tempat, melainkan menembus wadah logam rapuh di udara sebelum bahan kimianya sempat bercampur dan memicu ledakan masif.
Anak panah pertama milik Azalia menembus tepat di bagian tengah bola racun pertama, sementara anak panah kedua milik Risha melesat sepersekian detik kemudian, menghantam wadah kedua dengan ketepatan yang luar biasa mengerikan.
Namun, benturan itu tidak menghentikan momentum benda tersebut. Tenaga dorong dari panah angin justru bertindak sebagai baling-baling raksasa yang mengubah arah laju bola-bola bom racun itu secara drastis. Alih-alih jatuh ke lantai aula dan meledak di tengah para pengungsi, hantaman sejajar tersebut melontarkan wadah-wadah beracun itu berputar kencang ke atas, mengarah lurus menembus celah ventilasi sempit di dinding batu bagian atas candi.