Dentuman logam yang beradu dan teriakan para prajurit memenuhi setiap jengkal ruang bawah tanah candi utama. Suasana begitu mencekam, bau anyir darah bercampur dengan aroma dupa purba yang terbakar akibat percikan api dari obor-obor yang terjatuh. Di tengah keriuhan medan pertempuran yang brutal itu, Arka berdiri terpaku di hadapan dinding altar emas raksasa. Napasnya memburu, keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya, namun tatapannya sama sekali tidak lepas dari guratan-guratan relief kuno yang berkilau diterpa pantulan cahaya api.
"Arka! Bertahanlah! Mereka mendesak sisi timur!" teriak Yafid di tengah suara bising pedang yang saling berbenturan. Pemuda itu tampak kewalahan menangkis serangan dua orang pengawal bayaran musuh menggunakan belati pendeknya, sementara Rafar sibuk melindungi Siti yang merawat seorang pejuang lokal terluka parah.
Arka tidak menjawab. Pikirannya seolah tersedot ke dalam ukiran teks hieroglif kuno yang terpahat di dinding emas tersebut. Setiap simbol itu memancarkan getaran energi aneh yang selaras dengan detak jantungnya. Naskah itu menceritakan tentang asal-usul tenaga dalam purba yang selama ini ia pelajari, sebuah rahasia besar tentang penyatuan dua elemen kosmik yang bertolak belakang: kehangatan matahari yang membara dan kesucian Teratai Emas yang menenangkan.
"Waktu kita tidak banyak, Arka!" seru Rafar lagi sambil melayangkan tendangan telak yang merobohkan musuh di dekatnya. "Barisan pertahanan kita hampir jebol!"
Arka menarik napas dalam-dalam. Di dalam benaknya, ribuan kepingan petunjuk yang ia kumpulkan sejak awal perjalanan mulai menyatu dengan sempurna. Selama ini ia mengira tenaga dalam matahari dan ajaran Teratai Emas adalah dua jalan yang berbeda. Namun pahatan di dinding altar ini membuka matanya bahwa keduanya adalah satu kesatuan yang utuh—dua sisi mata uang dari energi universal yang sama.
"Yafid, Rafar, tahan mereka beberapa saat lagi!" suara Arka akhirnya memecah keheningan batinnya, terdengar tenang namun tegas di tengah kekacauan perang.
"Apa yang sedang kau lakukan di sana?" tanya Siti dengan cemas, melirik ke arah Arka dari balik pilar batu tempat ia berlindung bersama korban luka. "Musuh sudah mengepung altar!"
Arka tidak lagi memperdulikan teriakan di sekelilingnya. Ia menutup matanya perlahan, membiarkan kesadarannya melayang menembus batas fisik. Ia merasakan aliran energi panas yang bergolak di dalam dadanya, bagaikan lahar matahari terbit yang penuh ambisi dan kekuatan mentah. Namun, alih-alih menolaknya, ia teringat pada filosofi Teratai Emas—ketenangan jiwa, kemurnian niat, dan keseimbangan mutlak yang meneduhkan.
❖ ❖ ❖
Situasi di sekitar altar mendadak semakin menegang ketika pimpinan pasukan musuh, seorang petarung berparang besar dengan bekas luka melintang di wajahnya, menerobos maju menembus barisan pertahanan. Ia menyeringai buas melihat Arka yang sedang memejamkan mata di depan dinding suci.
"Habisi anak itu sebelum ia menyelesaikan ritualnya!" bentak sang pemimpin musuh sambil mengayunkan parangnya dengan kekuatan penuh ke arah Arka.
"Jangan berani-berani mendekat!" seru Rafar berang. Ia melompat menghadang, menahan terjangan parang musuh menggunakan pedang panjangnya. Benturan keras itu menghasilkan percikan api yang menyilaukan mata. Wajah Rafar memerah menahan beban berat, sementara lututnya hampir menyentuh lantai akibat dahsyatnya dorongan musuh.
"Rafar!" teriak Yafid panik. Ia hendak berlari membantu, namun tiga orang pengawal musuh lainnya langsung mengepungnya, menghujani tikaman cepat yang memaksanya fokus mempertahankan diri.
Siti menggigit bibirnya, mencengkeram erat batu kecil di tangannya, merasa tidak berdaya menyaksikan kawan-kawannya mulai terdesak hebat di garis depan. Ruangan altar emas itu terasa semakin sempit, dipenuhi oleh kepulan debu dan hawa panas pertempuran yang mematikan.
Di tengah desakan maut tersebut, Arka masih berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun. Di dalam dirinya, konflik batin berkecamuk hebat. Ketika ia mencoba menyatukan energi matahari dengan ajaran Teratai Emas, gelombang kejut yang luar biasa kuat menghantam meridian tubuhnya. Rasanya seperti ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk pembuluh darahnya, memaksa energinya berontak dan saling menghancurkan.
"Arhgh..." Arka mendesis tertahan, darah segar perlahan mengalir dari sudut bibirnya.
"Cepatlah, Arka! Kami tidak bisa bertahan lebih lama lagi!" erang Rafar, napasnya tersengat oleh kelelahan yang amat sangat sementara pedangnya mulai bergetar hebat menahan tekanan musuh yang terus mendesak maju.
Pimpinan musuh tertawa terbahak-bahak melihat kondisi Arka. Ia berhasil memukul mundur pedang Rafar hingga terlepas dari genggaman, lalu mengarahkan ujung parangnya tepat ke dada Arka yang sedang lengah. "Permainan berakhir, anak muda. Serahkan artefak itu dan terimalah kematianmu!"
Detik-detik penentuan itu berjalan begitu lambat. Seluruh mata di dalam ruangan tertuju pada ujung parang yang bergerak cepat menembus udara, mengarah lurus untuk mengakhiri riwayat Arka dalam hitungan detik.
❖ ❖ ❖
Tepat saat ujung parang itu berjarak beberapa sentimeter dari dada Arka, sebuah ledakan energi murni meledak dari tubuh pemuda itu.
Bukan ledakan destruktif yang menghancurkan, melainkan sebuah gelombang kehangatan yang luar biasa lembut namun mendesak keluar dengan kekuatan ribuan kuda. Arka membuka matanya. Sepasang bola matanya kini berpendar memancarkan cahaya keemasan yang terang benderang, memantulkan kemegahan dinding altar di sekelilingnya.
Pimpinan musuh yang tadinya menyeringai buas mendadak terpental mundur secara misterius, seolah dihantam oleh dinding tak kasat mata yang sangat kuat. Ia terlempar jauh ke belakang, menabrak pilar batu hingga pingsan seketika.
"Apa... apa yang terjadi?" gerutu salah seorang pengawal musuh yang lain, menjatuhkan senjatanya karena telapak tangannya terasa terbakar begitu menyentuh radius aura yang dipancarkan Arka.