SERI 5: PENDEKAR TERATAI EMAS

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Keteguhan Jiwa Sang Benteng Utama

Getaran hebat mengguncang fondasi situs purbakala itu, menciptakan suara gemuruh yang memekakkan telinga dan meruntuhkan pilar-pilar batu andesit berukir relief masa lampau. Debu tebal mengepul pekat, membatasi jarak pandang hingga hanya beberapa jengkal saja. Di tengah kekacauan yang mengancam nyawa, sebuah balok batu berukuran raksasa terlepas dari struktur atap candi utama dan meluncur deras ke arah Chafia serta Zahra yang sedang terjebak di sudut altar.

Melihat bahaya maut yang datang tanpa ampun, Fathan dan Galin tidak berpikir dua kali. Tanpa memperhitungkan keselamatan diri mereka sendiri, kedua pemuda itu langsung melesat bagaikan kilat menerobos kepulan debu. Fathan meregangkan kedua tangannya lebar-lebar, sementara Galin membanting tubuhnya ke depan, menjadikan punggung mereka sebagai perisai hidup bagi kedua gadis tersebut.

Bruk!

Suara benturan keras terdengar saat pecahan batu candi yang cukup besar menghantam punggung Fathan dan Galin secara telak. Tubuh kedua pemuda itu terdorong ke depan akibat beban berat, sementara luka-luka robek langsung menganga di balik pakaian mereka yang koyak, mengeluarkan darah segar yang membasahi lantai batu. Meskipun rasa sakit yang luar biasa menusuk hingga ke tulang belakang, Fathan dan Galin tetap mengatupkan rahang mereka rapat-rapat, menahan seluruh bobot runtuhan tersebut agar tidak menimpa Chafia dan Zahra barang sedikit pun.

Chafia terkesiap kaget, air matanya seketika tumpah melihat punggung kedua rekan mereka yang kini berlumuran darah. "Fathan! Galin! Kalian terluka parah!" serunya dengan suara bergetar hebat di antara deru batu yang terus berjatuhan di sekitar mereka.

Zahra segera merangkek maju, berusaha membantu mengangkat sebagian kecil serpihan batu yang menekan sisi tubuh Galin. "Bertahanlah, jangan menyerah! Kami ada di sini!" teriak Zahra dengan panik, mencoba mencari cara untuk meringankan beban berat yang ditanggung oleh kedua pemuda itu.

Di balik cucuran keringat dan rasa sakit yang membakar sekujur tubuh, Fathan menggeleng pelan. Napasnya tersengal-sengal, namun sorot matanya menyiratkan keteguhan jiwa yang luar biasa kuat. "Jangan pedulikan kami, Zahra... yang terpenting adalah keselamatan kalian berdua," ucap Fathan dengan suara parau namun penuh keyakinan.

Galin mengangguk menyetujui, meskipun wajahnya sudah pucat pasi karena kehilangan banyak darah. Keteguhan jiwa mereka sebagai benteng utama kelompok ini tidak tergoyahkan sedikit pun. Baginya dan Fathan, nyawa kawan-kawan adalah harga mutlak yang harus dijaga, melampaui rasa sakit fisik yang sedang mereka derita saat ini.

❖ ❖ ❖

Situasi di dalam ruang reruntuhan candi semakin memburuk dari detik ke detik. Getaran kedua susulan kembali datang, jauh lebih kuat dari sebelumnya, membuat dinding-dinding candi di sebelah kiri mulai miring dan terancam ambruk total. Debu dan pasir berjatuhan bagaikan hujan lebat, menambah berat beban yang harus ditahan oleh Fathan dan Galin di punggung mereka.

"Fathan, Galin, struktur batu di atas kita terus bergeser! Kita harus segera keluar dari sini sebelum semuanya runtuh sepenuhnya!" seru Chafia dengan nada cemas yang teramat sangat, matanya menatap nanar ke arah luka di punggung Fathan yang darahnya terus mengalir tak henti-henti.

Galin menggertakkan giginya, mengerahkan sisa tenaga dalam yang ia miliki untuk menahan dorongan batu raksasa agar tidak semakin menekan ke bawah. "Kalian berdua mundurlah perlahan ke arah celah pintu selatan! Cepat, jangan buang waktu!" titah Galin tegas, menolak untuk mundur meski tubuhnya sendiri sudah bergetar hebat menahan beban.

"Kami tidak akan meninggalkan kalian di sini!" balas Zahra dengan nada penuh penolakan, bersikeras mencengkeram lengan baju Galin untuk membantunya bangkit. "Kita keluar bersama, atau kita tetap di sini bersama!"

Fathan menarik napas dalam-dalam, merasakan denyutan nyeri yang luar biasa di setiap tarikan napasnya. Ia menatap tajam ke arah Zahra dan Chafia, melembutkan tatapannya di balik peluh dan debu yang menutupi wajahnya. "Zahra, dengarkan aku. Tugas kami di sini adalah memastikan kalian selamat keluar dari tempat ini. Jika kalian ragu dan tetap tinggal di sini, pengorbanan kami akan sia-sia. Jadilah kuat untuk kami."

Kata-kata Fathan menghunjam relung hati kedua gadis itu. Chafia menggigit bibirnya hingga berdarah, menahan sesak di dada sebelum akhirnya mengangguk pelan dengan linangan air mata. "Baiklah... kami akan mencari jalan keluar di luar, tapi kumohon, bertahanlah!"

Dengan hati yang berat, Chafia dan Zahra mulai merangkek mundur melalui celah reruntuhan yang masih menyisakan ruang sempit. Namun, tepat saat mereka berhasil bergerak beberapa langkah, sebuah balok batu besar mendadak meluncur jatuh dari langit-langit, tepat di jalur jalan keluar utama, menutup rapat jalur pelarian tersebut dan membuat mereka kembali terjepit dalam situasi yang nyaris tanpa harapan.

❖ ❖ ❖

Jalur keluar utama kini telah tertutup sepenuhnya oleh tumpukan batu berat, menyisakan ruang sempit tempat Fathan, Galin, Chafia, dan Zahra terperangkap tanpa celah untuk melarikan diri. Suara gemeretak batu yang saling bergesekan menandakan bahwa aula utama candi ini sebentar lagi akan runtuh total menjadi puing-puing berserakan.

Lihat selengkapnya