SERI 5: PENDEKAR TERATAI EMAS

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Mekarnya Kesaktian Teratai Emas

Dengan pencerahan sempurna, Arka mengepalkan tangan dan melompat maju. Ia memperagakan jurus puncak Pendekar Teratai Emas. Sepasang telapak tangannya memancarkan pendaran cahaya keemasan murni bagaikan matahari mekar di dada telaga.

Udara di lembah pusaka bergetar hebat, memantulkan gelombang panas yang membakar kulit siapa saja yang berada dalam radius sepuluh tombak. Di tengah kawah batu purba itu, Arka berdiri tegak dengan mata terpejam rapat. Jantungnya berdetak seirama dengan denyut nadi alam semesta, menyerap setiap zarah energi murni yang terpancar dari lembaran Kitab Teratai Emas yang melayang di hadapannya.

"Arka! Jangan gegabah! Tenaga dalam itu belum sepenuhnya menyatu dengan pembuluh darahmu!" teriak Kirana dari balik reruntuhan batu besar, suaranya tersenggap oleh kepulan debu tebal dan angin badai yang berputar kencang mengelilingi pemuda tersebut.

Arka tidak menjawab. Pikirannya kini telah menembus batas kesadaran duniawi. Di dalam rongga dadanya, inti tenaga dalam yang tadinya kacau balau kini berputar tenang bagaikan pusaran air zamrud yang dikelilingi kabut emas. Setiap helaan napasnya menarik masuk energi langit dan bumi, merajut kembali urat-urat darah yang sempat putus akibat pertarungan sengit sebelumnya melawan dedengkot Lembah Hitam.

"Kalian mengira aku akan menyerah begitu saja?" sebuah suara parau namun penuh angkuh memecah keheningan badai.

Dari balik kabut, sesosok bayangan hitam melesat cepat. Ki Bajra—pimpinan sisa gerombolan durjana—muncul dengan mata merah menyala penuh nafsu membunuh. Sepasang cakar besinya memancarkan pendaran ungu beracun yang siap merobek dada Arka tanpa ampun. Ia tahu bahwa jika pemuda itu berhasil menyempurnakan jurus warisan leluhur tersebut, riwayat seluruh perguruan sesat akan tamat dalam waktu kurang dari separuh dupa dibakar.

"Matilah kau, bocah sombong!" bentak Ki Bajra, melayangkan serangan pamungkas Cakar Setan Pembelah Jiwa.

Arka membuka matanya perlahan. Kilatan cahaya keemasan yang menyilaukan meluncur tajam dari kedua bola matanya, menghalau kegelapan malam yang menyelimuti lembah. Dengan pencerahan sempurna yang baru saja ia raih, Arka mengepalkan tangan dan melompat maju. Ia memperagakan jurus puncak Pendekar Teratai Emas. Sepasang telapak tangannya memancarkan pendaran cahaya keemasan murni bagaikan matahari mekar di dada telaga.

❖ ❖ ❖

Benturan pertama antara cakar ungu beracun dan telapak tangan keemasan menciptakan suara gemuruh yang menggetarkan isi bumi. Percikan api menyebar ke segala arah, membakar rumput liar dan memecah batu-batu karang di sekitar kawah menjadi serpihan debu halus.

Ki Bajra merasakan gelombang tenaga dalam yang luar biasa besar menghantam telapak tangannya. Tulang-tulang di lengannya berderak ngilu, seolah-olah ia sedang menahan hantaman sebuah meteor yang jatuh dari langit. Wajah sang pemimpin sesat mendadak pucat pasi. Keringat dingin bercampur darah segar meleleh dari sudut bibirnya.

"I-Ilmu apa ini...?" gerutu Ki Bajra dengan suara bergetar hebat, mencoba mengerahkan sisa tenaga hitamnya untuk mendesak maju. "Bagaimana mungkin anak sepertimu mampu menguasai tingkat kesempurnaan Kitab Teratai Emas secepat ini?!"

"Ilmu yang kaupelajari selama puluhan tahun didapat dari jalan darah dan kelicikan, Ki Bajra," jawab Arka dengan suara tenang namun berwibawa, menggema di setiap sudut lembah. "Sedangkan kesaktian ini lahir dari ketulusan dan tekad untuk melindungi mereka yang tertindas. Jurang di antara kita tidak bisa dijembatani oleh ambisi murahan."

Arka tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk menarik mundur tangan. Ia mengerahkan dorongan tenaga dalam tahap kedua dari jurus puncak tersebut. Cahaya keemasan di telapak tangannya tiba-tiba membesar sepuluh kali lipat, membentuk kelopak-kelopak bunga teratai raksasa yang mengurung tubuh Ki Bajra rapat-rapat.

"Arka, jangan beri ampun pengkhianat itu!" seru Kirana dari kejauhan, kembali mengingatkan bahaya jika musuh diberi celah untuk melarikan diri.

"Aku tidak akan membiarkannya lolos membawa malapetaka lagi," balas Arka mantap.

Lihat selengkapnya