Udara di dalam ruang utama candi mendadak membeku, menyisakan ketegangan yang begitu pekat hingga membuat siapa pun yang bernapas merasakan sesak di dada. Di hadapan Arka, Iblis Emas berdiri dengan mata melotot merah penuh angkara murka. Jubah keemasannya berkobar-kobar dikelilingi oleh kobaran api hitam legam yang memancarkan aura busuk kekejaman dunia persilatan masa lampau. Auranya begitu pekat, seolah ingin menelan setiap jengkal cahaya yang tersisa di ruangan suci tersebut.
Arka berdiri tegak tanpa rasa gentar sedikit pun. Di kedua telapak tangannya, Kitab Teratai Emas memancarkan pendar cahaya keemasan yang sangat terang, menyinari wajahnya yang tenang namun berwibawa. Di belakang Arka, Tera, Dimas, dan Kirana berdiri siaga mengawal, menjaga sudut-sudut ruangan agar tidak ada pengikut musuh yang berani mencampuri pertarungan hidup dan mati ini.
"Kau sudah berada di ambang kehancuranmu sendiri, Arka!" geram Iblis Emas, suaranya menggelegar memecah kesunyian malam di lereng gunung. "Ilmu sesat yang kupelajari selama puluhan tahun di lembah terkutuk tidak akan bisa dikalahkan oleh omong kosong tentang kedamaian!"
Arka menatap tajam ke arah pemimpin musuh itu dengan tatapan penuh belas kasih sekaligus ketegasan seorang pendekar sejati. "Ilmu yang kau banggakan itu lahir dari kebencian dan ketamakan, Iblis Emas. Dan segala sesuatu yang dibangun di atas fondasi kejahatan pada akhirnya akan runtuh oleh kebenaran."
"Cukup omong kosongnya!" teriak Iblis Emas hilang kesabaran.
Ia langsung melompat maju dengan kecepatan kilat, mengerahkan seluruh inti tenaga dalam tembaganya yang telah diasah selama puluhan tahun. Tubuhnya dikelilingi oleh perisai energi hitam berkilau logam yang sangat padat, menciptakan suara deru angin yang memekakkan telinga. Golok raksasa di tangannya diayunkan lurus ke depan, mengincar dada Arka dengan tebasan maut yang siap membelah apa saja di jalurnya.
Arka tidak menghindari serangan itu. Ia justru melangkah maju menyongsong terjangan musuh, mengangkat Kitab Teratai Emas tepat di depan dadanya. Dari kitab tersebut, gelombang cahaya keemasan yang suci mulai memancar keluar, membentuk perisai lembut namun kokoh yang menyambut kedatangan hantaman Iblis Emas.
Bum!
Benturan hebat antara tenaga dalam tembaga hitam dan cahaya keemasan menciptakan gelombang kejut yang luar biasa kuat. Lantai batu candi di sekitar mereka retak seketika, dan angin badai akibat benturan energi itu meniup kencang jubah serta rambut orang-orang yang ada di ruangan tersebut. Iblis Emas menyeringai lebar, menyalurkan seluruh sisa tenaga dalamnya untuk menembus pertahanan Arka, yakin bahwa kekuatan fisiknya yang keras bagai logam akan mampu meremukkan dada sang pendekar.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat mata Iblis Emas membelalak lebar penuh rasa tidak percaya. Cahaya keemasan dari Kitab Teratai Emas sama sekali tidak hancur; sebaliknya, cahaya itu mulai merayap naik melalui bilah golok musuh, membakar habis lapisan hawa hitam legam yang menyelubungi tubuh Iblis Emas bagaikan es yang tersiram air mendidih.
❖ ❖ ❖
"Argh! Apa ini?!" teriak Iblis Emas kaget setengah mati, merasakan sensasi panas membakar yang tidak biasa menjalar dari telapak tangannya hingga ke seluruh aliran darah di dalam tubuhnya.
Hawa iblis yang selama ini menjadi sumber kesaktian terlarangnya mendadak berontak, menjerit-jerit dalam kesakitan seiring dengan merambatnya pendar suci dari Kitab Teratai Emas. Iblis Emas mencoba mengerahkan seluruh tenaga dalam tembaganya untuk menahan gelombang cahaya tersebut, tetapi setiap kali ia menambah tekanannya, rasa sakit di dadanya semakin menghujam tajam, merusak jalur pernapasan utamanya.
"Tenaga dalammu dibangun di atas penderitaan orang lain, Iblis Emas," ucap Arka dengan suara berat yang menggema di seluruh ruangan. "Dan hari ini, hukum alam akan menuntut balas atas semua itu."
Tera yang mengamati pertarungan dari jarak beberapa langkah mengepalkan kedua tangannya erat-erat, merasa lega melihat dominasi musuh mulai runtuh. "Pertahanannya mulai goyah, Arka! Teruskan!" serunya memberi semangat.
Dimas dan Kirana bersiap siaga di tempat masing-masing, mengawasi kalau-kalau masih ada sisa pengikut Iblis Emas yang nekat mencoba membantu pemimpin mereka. Namun, atmosfer di dalam ruangan kini sepenuhnya dikuasai oleh benturan energi antara kegelapan mutlak dan kesucian murni.
Iblis Emas mendesis marah, urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol keluar akibat mengerahkan tenaga secara berlebihan. "Aku tidak akan tunduk pada anak muda sepertimu, Arka! Aku adalah penguasa mutlak dunia persilatan!" bentaknya dengan sisa-sisa tenaga yang meluap-luap.
Ia menarik mundur goloknya, lalu memutarnya dengan kecepatan tinggi membentuk roda kematian berlapis api hitam. Dengan sekali dorongan terakhir yang menguras seluruh sisa energi di dalam tubuhnya, ia menghantamkan serangan itu langsung ke arah kepala Arka.
Arka tetap tenang. Ia menutup matanya sejenak, memusatkan pikiran dan menyatukan seluruh jiwa raganya dengan intisari Kitab Teratai Emas. Ketika ia membuka kembali matanya, sinar keemasan berpendar terang dari kedua bola matanya, memancarkan wibawa agung yang membuat Iblis Emas tanpa sadar melangkah mundur setengah langkah karena gentar.
Dengan gerakan tangan yang sangat lembut namun penuh tenaga, Arka mengibaskan Kitab Teratai Emas ke hadapan musuh. Aliran energi suci meluncur bagaikan ombak emas yang agung, menyambut hantaman roda kematian Iblis Emas secara langsung tanpa perlawanan fisik yang kasar, melainkan melalui penetrasi energi murni yang langsung menghantam inti tenaga dalam musuh.
❖ ❖ ❖
Duar!
Ledakan energi yang tidak bersuara namun memancarkan cahaya silau terjadi di tengah ruangan. Guncangan itu membuat dinding-dinding candi bergetar hebat, merontokkan debu dan serpihan batu dari langit-langit. Roda kematian berlapis api hitam milik Iblis Emas hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya hitam yang langsung lenyap ditelan udara kosong.
Iblis Emas terlempar mundur hingga menubruk pilar batu candi di belakangnya. Suara hantaman keras itu diiringi oleh jeritan tertahan dari mulutnya. Jubah keemasannya robek di bagian dada, dan dari balik robekan tersebut, kepulan asap tipis berwarna hitam mengepul keluar, menandakan hancur berkeping-kepingnya inti tenaga dalam tembaga yang selama ini dibanggakannya.
"Tidak... Tidak mungkin!" rintih Iblis Emas dengan napas tersengal-sengal, memegang dadanya yang terasa kosong dan hampa. Ia merasakan seluruh aliran darah di tubuhnya mendadak berhenti mengalir dengan normal, sementara kekuatan gaib yang selama ini melindunginya musnah tanpa sisa dalam sekejap mata.