Kemenangan besar yang diraih di kompleks reruntuhan Candi Sewu masih menyisakan kehangatan di dada para pendekar muda Perguruan Tapak Batara. Langit senja yang membentang di atas pelataran candi memantulkan pendar jingga kemerahan, seolah ikut merayakan tuntasnya pertarungan sengit yang menguji batas kemampuan fisik dan mental mereka. Di tengah barisan para pendekar yang berdiri tegak penuh wibawa, Arka melangkah maju perlahan menuju altar utama. Angin malam lembah berdesir lembut, menerbangkan ujung jubah putihnya yang bersulam benang keemasan.
Di hadapan para sesepuh perguruan dan kesembilan rekan seperjuangannya, Arka menerima pengesahan agung yang telah lama dinantikan. Sesepuh Tertua Tapak Batara, seorang kakek berusia lanjut dengan janggut putih panjang menyapu dada, mengangkat sebuah pusaka lencana berbentuk teratai bercorak emas murni. Lencana itu disematkan secara resmi di dada kiri Arka, menandakan bahwa ia kini secara sah menyandang gelar tertinggi sebagai Pendekar Teratai Emas.
Sorak-sorak kekaguman dan tepuk tangan menggema di antara pilar-pilar batu candi kuno. Tera, pendekar wanita berkeahlian pedang angin yang berdiri di barisan depan, tersenyum bangga melihat pencapaian sahabat karibnya itu.
"Selamat, Arka," bisik Tera pelan, namun cukup jelas terdengar di tengah riuhnya suasana. "Gelar itu memang pantas kau sandang setelah semua pengorbanan dan ketulusan yang kau pertaruhkan di medan laga."
Arka menundukkan kepala sejenak, meresapi kehormatan besar yang baru saja dipikulnya. "Terima kasih, Tera. Gelar ini bukan hanya milikku seorang, melainkan hasil dari keringat, darah, dan keyakinan kita bersama dalam mempertahankan keadilan di tanah perdikan ini."
Kesepuluh sahabat karib Arka—termasuk Tera, Bima, Kirana, Kamil, dan Fathan—maju serempak memberikan penghormatan hormat kepada pemimpin baru mereka. Suasana kebersamaan itu terasa begitu sempurna, menghapus sejenak bayang-bayang kelam dari pertempuran-pertempuran mematikan yang baru saja mereka lalui di berbagai penjuru wilayah. Mereka mengira kedamaian sejati akhirnya berhasil direbut kembali.
Namun, hukum rimba persilatan tidak pernah memberikan waktu yang cukup bagi para pahlawan untuk berlama-lama menikmati ketenangan.
Tiba-tiba, suara derap kuku kuda melesat kencang membelah kesunyian malam di luar gerbang kompleks candi. Seekor kuda hitam berbulu legam tampak basah oleh keringat dan busa di sekitar lehernya, berhenti mendadak di pelataran utama. Di atas punggung kuda tersebut, seorang utusan berseragam prajurit pengawal perbatasan melompat turun dengan tergesa-gesa. Napasnya terengah-engah, wajahnya pucat pasi ketakutan, dan langkah kakinya hampir limbung sebelum akhirnya ia berlutut di hadapan Sesepuh Tertua dan Arka.
"Lapor... Lapor kepada Sesepuh dan Pendekar Teratai Emas!" teriak utusan itu dengan suara gemetar, mencengkeram tanah pelataran dengan jemarinya yang kaku. "Sebuah bencana besar baru saja melanda wilayah pegunungan barat!"
Arka mengerutkan keningnya, rasa curiga mendadak merayap di dadanya. "Ketenangan apa yang telah kauusik? Katakan dengan jelas, apa yang terjadi di pegunungan barat?"
Utusan itu mendongak, menatap Arka dengan sorot mata penuh teror. "Sebuah kelompok misterius berjubah gelap dan bertopeng bayangan telah menyerbu desa-desa di lereng gunung. Mereka menyebarkan sebuah racun mematikan bernama Racun Teratai Salju ke dalam sumber-sumber air warga. Ratusan penduduk dan pendekar penjaga pos perbatasan jatuh terkapar dalam waktu singkat dengan tubuh membiru dan aliran darah yang membeku!"
❖ ❖ ❖
Berita mengerikan itu langsung mengubah suasana suka cita di pelataran Candi Sewu menjadi tegang dan membeku. Angin malam yang tadinya terasa sejuk mendadak berubah menjadi embusan dingin yang menusuk tulang. Nama Racun Teratai Salju bukanlah racun sembarangan; racun legendaris itu dikenal di kalangan dunia persilatan sebagai zat mematikan tingkat tinggi yang diciptakan dari sari bunga es abadi di puncak utara, yang mampu melumpuhkan aliran chi sesepuh perguruan dalam hitungan jam tanpa obat penawar yang pasti.
Sesepuh Tertua melangkah mendekati utusan yang masih terduduk lemas di tanah, wajah keriput sang kakek mengeras penuh amarah dan kekhawatiran. "Racun Teratai Salju? Apakah kau yakin itu bukan racun biasa? Siapa dalang di balik penyebaran senjata pemusnah masif tersebut?"
"Para penyintas yang sempat melarikan diri mengatakan bahwa kelompok misterius itu menyebut diri mereka sebagai Aliansi Bayangan Teracuni," jawab utusan itu terbata-bata sambil menahan rasa sakit di dadanya akibat kelelahan berkuda. "Mereka mencari artefak kuno yang disembunyikan di kuil tua pegunungan barat, dan tidak segan-segan membantai siapa saja yang menghalangi jalan mereka."
Arka mengepalkan tinjunya erat-erat hingga lencana teratai emas di dadanya bergetar halus. Ia menatap tajam ke arah kesembilan sahabatnya yang kini langsung memasang ekspresi siaga penuh. Tidak ada lagi senyum di wajah mereka; kesadaran akan tugas dan tanggung jawab besar kembali memanggil jiwa pendekar di dalam diri mereka masing-masing.
"Racun Teratai Salju tidak boleh dibiarkan menyebar lebih luas ke wilayah permukiman warga lainnya," ucap Arka dengan suara berat dan berwibawa, menegaskan posisinya sebagai Pendekar Teratai Emas. "Jika racun itu mencapai sungai utama, ribuan nyawa rakyat tak berdosa di lembah bawah akan melayang."
Tera melangkah mendekati Arka, menyandang pedang angin di pinggangnya dengan gerakan mantap. "Arka benar. Kita tidak bisa tinggal diam di sini merayakan kemenangan semu, sementara saudara-saudara kita di pegunungan barat sedang sekarat menghadapi teror kelompok bertopeng bayangan itu."
"Aku setuju dengan Tera," sahut Bima, pendekar berbadan tegap yang baru saja pulih dari luka-lukanya, sambil mengangkat gada bermata dua ke atas pundaknya. "Mari kita siapkan pasukan kecil kita dan berangkat malam ini juga ke pegunungan barat. Kita basmi kelompok bajingan bertopeng itu sampai ke akar-akarnya!"
Namun, Kamil mengangkat tangan kanannya, mengingatkan rekan-rekannya dengan nada suara yang lebih tenang dan penuh perhitungan. "Tunggu dulu, Bima. Jangan gegabah. Racun Teratai Salju bukanlah ancaman fisik biasa yang bisa diselesaikan hanya dengan kekuatan otot dan hantaman senjata. Kita memerlukan strategi khusus dan persiapan penawar racun sebelum memasuki wilayah mereka, atau kita justru akan menjadi korban pertama di sana."
Arka menganggukkan kepalanya menyetujui pendapat Kamil. "Kamil benar. Perjalanan kali ini akan menjadi ujian yang jauh lebih berbahaya daripada pertempuran kita di Candi Sewu. Kita memasuki Seri Ke-6: Bayangan Teratai Beracun—sebuah medan pertempuran di mana musuh tidak hanya menyerang dengan pedang, tetapi juga dengan racun tak kasat mata yang mencemari udara dan air."
Sesepuh Tertua menepuk pundak Arka pelan dengan tangan keriputnya. "Pergilah membawa nama baik Tapak Batara, Arka. Bawalah Kitab Penawar Suci dari perpustakaan rahasia candi ini sebagai bekal kalian. Semoga leluhur senantiasa melindungi langkah kalian."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, kesepuluh pendekar muda itu segera mempersiapkan perlengkapan perjalanan mereka. Pedang diasah, kantong obat dipenuhi ramuan penawar darurat, dan kuda-kuda tangguh disiapkan di gerbang candi.
❖ ❖ ❖
Perjalanan panjang menuju lereng pegunungan barat memakan waktu dua hari dua malam penuh tanpa henti. Rombongan sepuluh pendekar muda di bawah pimpinan Arka bergerak cepat menembus hutan lebat yang semakin lama semakin diselimuti oleh kabut putih tebal berbau aneh—bau khas bunga es yang mulai mencemari kelembapan udara di dataran tinggi tersebut.