Perjalanan Arka, Tera, dan kedelapan sahabatnya kini tiba di lereng Gunung Ciremai. Suasana di kawasan tersebut teramat mencekam. Kabut tebal berwarna agak kebiruan menyelimuti pedesaan, menyebarkan aroma aneh yang menusuk hidung dan membuat tenggorokan siapa pun yang menghirupnya terasa terbakar.
Arka merapatkan jaket tebalnya, sementara matanya menyipit menembus pekatnya kabut yang merayap di antara batang-batang pohon pinus. Di sebelah kirinya, Tera terbatuk kecil, menutup hidung dan mulutnya menggunakan kain scarf rajut berwarna abu-abu. Udara di sini tidak hanya dingin; udara ini terasa hidup, seolah merangkak masuk ke dalam paru-paru dan membawa beban yang berat.
"Kalian merasakannya?" suara Bagas memecah keheningan di antara kelompok itu. Ia adalah yang bertubuh paling tegap di antara mereka, namun saat ini, pundaknya tampak menegang. "Aromanya... seperti belerang yang dicampur sesuatu yang membusuk. Ini sama sekali tidak wajar untuk ukuran kabut gunung biasa."
"Bukan cuma aromanya, Bagas," sahut Rian sambil meraba tali ranselnya dengan gugup. "Coba lihat ke arah jalan setapak itu. Tidak ada suara burung, tidak ada suara serangga. Sunyi sekali. Terlalu sunyi."
Kelompok pendaki yang berjumlah sepuluh orang ini terdiri dari Arka, Tera, Bagas, Rian, serta enam sahabat lainnya: Laras, Dimas, Naya, Fajar, Kirana, dan Yoga. Niat awal mereka akhir pekan ini adalah melakukan pendakian ringan sekaligus menikmati keindahan alam Ciremai. Namun, sejak mereka memasuki desa terakhir sebelum pos pendakian, situasinya berubah drastis. Desa itu tampak kosong, pintu-pintu rumah terkunci rapat, dan jalanan lengang tanpa jejak kehidupan manusia.
"Kita harus tetap bersama," Arka berkata dengan nada tegas, berusaha menenangkan diri sendiri sekaligus teman-temannya. "Jangan ada yang terpencar. Kita pastikan semua masker kain dan buff menutupi hidung dengan rapat. Kalau kabut ini semakin pekat, kita harus memutuskan apakah lanjut ke pos pantau atau turun kembali ke lembah."
"Turun ke mana, Arka?" tanya Kirana dengan suara bergetar, matanya membelalak ketakutan saat menatap jalan setapak di belakang mereka yang kini sudah tertutup rapat oleh kabut kebiruan. "Jalan pulang sudah tidak kelihatan. Kita terjebak."
Tera melangkah mendekati Arka, menyentuh pelan lengan sahabat lelakinya itu. "Kirana benar, Arka. Kita sudah berjalan terlalu jauh ke dalam kawasan ini. Mundur bukan lagi pilihan yang aman, terutama dengan jarak pandang yang tidak sampai dua meter."
Arka menelan ludah, merasakan tenggorokannya sendiri mulai gatal akibat uap kabut yang lolos dari sela-sela kain penutup wajahnya. Ia tahu Tera benar. Mereka maju salah, mundur pun sudah tertutup. Satu-satunya jalan adalah terus bergerak ke atas, mencari tempat yang lebih tinggi di mana udara mungkin lebih bersih dari endapan gas beracun ini.
"Baiklah," putus Arka. "Kita bentuk barisan rapat. Bagas di depan sebagai pembuka jalur, aku di tengah menjaga ritme, dan Rian di belakang memastikan tidak ada yang tertinggal. Pegang tangan atau tali tas orang di depan kalian. Jalan pelan-pelan, jangan terburu-buru."
Satu per satu, kesepuluh sahabat itu mulai melangkahkan kaki menyusuri jalur tanah basah yang dikelilingi akar-akar pohon besar. Setiap langkah terasa berat, seolah gravitasi di tempat ini menarik mereka lebih dalam ke dalam tanah. Suara gesekan sepatu bot pada dedaunan basah menjadi satu-satunya bunyi yang menemani perjalanan mereka, selain desau angin tipis yang membawa kabut kebiruan itu semakin pekat berputar di sekitar kepala mereka.
❖ ❖ ❖
Kabut kebiruan itu perlahan berubah menjadi kelabu gelap, membatasi penglihatan hingga mereka hanya bisa melihat punggung orang yang berdiri tepat di depan mereka. Di titik ini, jalur pendakian menyempapit drastis. Di sebelah kanan mereka terdapat tebing curam yang tertutup semak-semak lebat, sementara di sebelah kiri adalah jurang terjal yang dasarnya tidak kelihatan karena tertutup gulungan kabut.
"Tunggu sebentar!" seru Bagas dari posisi paling depan. Suaranya terdengar tertahan oleh masker tebalnya. Ia berhenti mendadak, membuat Fajar yang ada di belakangnya hampir menabrak punggungnya.
"Ada apa, Gas?" panggil Arka dari tengah barisan, berusaha melangkah maju melewati beberapa orang temannya.
Begitu Arka tiba di depan, ia mendapati jalur setapak yang biasa mereka lewati telah terhalang oleh batang-batang pohon besar yang tumbang melintang. Bukan hanya satu atau dua pohon, melainkan puluhan pohon pinus tua yang tumbang bersamaan, seolah disapu oleh hantaman angin raksasa dari arah puncak. Akar-akarnya yang besar mencuat ke udara, mencengkeram gumpalan tanah yang tampak kehitaman dan basah.
"Ini tidak masuk akal," gumam Laras yang ikut merangsek maju. "Pohon-pohon ini tidak mungkin tumbang secara bersamaan tanpa ada badai besar semalam. Tapi kita tidak mendengar suara badai apa pun."
"Dan lihat batangnya," tambah Dimas sambil menyorotkan senter kecilnya ke permukaan kayu yang tumbang. Sinar kuning redup itu memperlihatkan bagian kayu yang tampak menghitam, seolah baru saja terpapar panas yang luar biasa, namun tidak ada tanda-tanda abu sisa kebakaran hutan. "Kayunya seperti... gosong dari dalam."
Suasana mendadak menjadi semakin tegang. Bau belerang dan bau busuk yang tadi mereka rasakan kini bercampur dengan bau sengatan besi berkarat. Naya mulai terisak pelan di belakang barisan, tubuhnya gemetar hebat. Yoga, yang berdiri di sampingnya, merangkul bahu Naya erat-erat sambil terus memindai kegelapan di sekitar mereka dengan pandangan waspada.
"Kita harus melewati rintangan ini atau mencari jalan memutar," kata Arka, memeriksa sela-sela tumpukan batang pohon. "Tapi di sebelah kanan adalah tebing batu yang terlalu licin, dan di sebelah kiri jurang. Pilihan kita cuma memanjat tumpukan kayu ini."
"Memanjat?" seru Rian tidak percaya. "Arka, kayu-kayu itu licin sekali karena lumut dan embun beracun. Kalau ada yang terpeleset, kita langsung jatuh ke jurang."
"Kita tidak punya pilihan lain, Rian," jawab Tera dengan suara tenang namun tegas, meskipun tangannya sendiri yang memegang senter tampak bergetar kecil. "Semakin lama kita berdiri di sini, semakin banyak gas beracun yang kita hirup. Kepalamu mulai pusing, kan? Aku bisa melihat keringat dingin di pelipis semua orang."
Tera benar. Arka sendiri merasakan denyutan nyeri di pelipisnya, efek samping dari udara beracun yang mulai meresap ke dalam aliran darah mereka. Jika mereka berlama-lama di zona sempit ini, kesadaran mereka akan segera hilang sebelum sempat mencapai tempat yang aman.
"Baiklah. Bagas, bantu aku naik duluan untuk memeriksa kestabilan batang pohon di atas," instruksi Arka. Ia melepas ranselnya sejenak untuk meringankan beban, lalu mulai memanjat tumpukan kayu dengan sangat hati-hati. Setiap pijakan diuji kekuatannya sebelum ia memindahkan seluruh berat badannya.
Di bawah, kesepuluh sahabat itu saling mengawasi. Ketegangan menggantung di udara, begitu pekat hingga rasanya bisa dipotong dengan pisau. Di tengah keputusasaan itu, sebuah suara berderak keras terdengar dari dalam hutan di seberang jurang, disusul oleh suara desisan panjang yang membuat bulu kuduk mereka berdiri seketika.
❖ ❖ ❖