SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Mayat-Mayat Muka Kebiruan

Kabut pagi di lereng Gunung Rinjani biasanya membawa kesegaran embun dan aroma pinus yang menenangkan. Namun, pagi itu, angin membawa sesuatu yang sama sekali berbeda—sebuah kematian tanpa suara yang merambat perlahan dari balik jurang berkabut.

Di sepanjang jalan setapak desa kaki gunung, puluhan warga dan pesilat lokal ditemukan terkulai kaku di atas tanah. Pemandangan itu begitu mencekam. Mereka tidak jatuh dalam posisi bertarung, melainkan tergeletak lemas seperti boneka kain yang kehabisan tenaga. Warga desa yang biasanya sibuk menyambut pagi dengan deru lesung kini terbungkam selamanya dalam keheningan abadi.

"Jangan sentuh!" teriak Ki Demang, sesepuh perguruan silat Tapak Angin, sambil melompat turun dari kudanya. Napasnya memburu, matanya terbelalak menatap sesosok muridnya yang terbujur kaku di dekat rumpun bambu.

Ki Demang bergegas berlutut, memeriksa nadi pemuda itu. Kosong. Dingin.

"Guru, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" tanya Raga, seorang murid senior dengan ikatan kain merah di kepalanya. Suaranya bergetar hebat, mencerminkan ketakutan yang mulai merayap di dada para pesilat muda yang mendampingi Ki Demang.

Ki Demang tidak langsung menjawab. Ia meneliti setiap jengkal tubuh korban di hadapannya. "Perhatikan wajah mereka, Raga," bisik Ki Demang lirih, sarat akan ketegangan.

Raga menunduk, mengamati lebih dekat. Mayat-mayat itu menunjukkan ciri yang identik dan mengerikan: muka kebiruan pekat, sementara bibir mereka menghitam seolah menelan jelaga terbakar. Yang paling membuat bulu kuduk merinding, tidak ada satu pun bekas luka sayatan senjata tajam, tusukan tombak, atau lebam akibat hantaman pukulan tenaga dalam pada tubuh mereka.

"Tidak ada luka... sama sekali tidak ada," gumam Raga tak percaya. Ia meraba dada korban, mencari tanda-tanda kematian akibat serangan jantung mendadak, tetapi kulit itu terasa dingin yang tidak wajar. "Bagaimana mungkin puluhan pesilat tangguh dan warga desa tewas tanpa perlawanan?"

"Racun," sahut sebuah suara berat dari balik rerimbunan semak.

Seorang pria paruh baya bertubuh kurus kering dengan jubah abu-abu kusam muncul perlahan. Dia adalah Ki Wira, tabib tua yang tinggal seorang diri di ujung lembah. Di tangannya, ia memegang sepotong kain basah yang menutupi separuh wajahnya.

"Racun udara, Ki Demang," lanjut Ki Wira sambil mendekat. Ia menatap mayat-mayat tersebut dengan tatapan penuh duka dan amarah yang tertahan. "Mereka tewas seketika hanya karena menghirup kabut beracun yang sengaja dilepaskan di sepanjang lereng gunung ini menjelang subuh tadi. Racun ini bekerja menyerang saluran pernapasan, membekukan darah di dalam pembuluh, dan merusak paru-paru dalam hitungan detik tanpa memberi kesempatan bagi korban untuk menarik napas terakhir atau berteriak."

Raga mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Siapa yang memiliki ilmu sekeji ini? Racun macam apa yang mampu membunuh puluhan orang sekaligus tanpa meninggalkan jejak pertempuran?"

"Bukan sekadar racun biasa," jawab Ki Wira tajam. "Ini adalah racun Bunga Salju Hitam, pusaka terlarang yang konon hanya dikuasai oleh Sekte Bayangan Merah—kelompok sesat yang telah lama hilang dari daratan ini."

Mendengar nama Sekte Bayangan Merah, wajah Ki Demang yang biasanya tenang langsung berubah pucat. Kenangan kelam tentang pertumpahan darah puluhan tahun lalu kembali berkelebat di benaknya. Sekte itu dihancurkan karena menggunakan cara-cara biadab untuk menguasai jalur perdagangan persilatan. Jika benar mereka telah kembali, maka bencana besar sedang mengancam seluruh perguruan di bawah kaki gunung.

"Kita tidak boleh tinggal diam," tegas Ki Demang bangkit berdiri, jubahnya berkibar ditiup angin pagi yang mendadak terasa menusuk tulang. "Kumpulkan semua pesilat yang tersisa. Kita harus selidiki dari mana asal kabut beracun ini sebelum korban jatuh lebih banyak."

❖ ❖ ❖

Penyelidikan membawa Ki Demang, Raga, dan segelintir pesilat pilihan menuju ke sebuah lembah tersembunyi yang dikenal sebagai Lembah Batu Hitam. Tempat itu jarang dijamah oleh warga karena konon diselimuti kabut abadi yang menyesakkan.

Setibanya di mulut lembah, bau aneh mulai tercium tajam—bau belerang bercampur amis darah yang memuakkan.

"Tutup hidung kalian rapat-rapat dengan kain basah!" perintah Ki Demang memperingatkan.

Mereka berjalan mengendap-endap di antara bebatuan besar yang licin. Kabut putih tipis mulai turun, menyelimuti kaki mereka. Namun, alih-alih menyegarkan, kabut tersebut terasa pekat dan membuat tenggorokan terasa terbakar setiap kali dihirup.

"Guru, lihat itu!" bisik Raga sambil menunjuk ke arah sebuah pelataran batu di hadapan mereka.

Di sana, beberapa sosok bertopeng merah sedang berdiri mengelilingi sebuah kawah kecil yang mengeluarkan asap kehitaman. Mereka tampak sedang merapikan beberapa tabung bambu besar yang dihubungkan dengan saluran air dari dalam tanah. Asap beracun itu ternyata sengaja dialirkan ke arah jalur perkampungan warga di bawah melalui tiupan angin pagi.

"Keparat!" geram salah satu pesilat muda di belakang Raga yang tidak bisa menahan emosi. Tanpa menunggu aba-aba, ia melesat maju menerjang salah satu orang bertopeng dengan jurus Benturan Harimau.

"Tunggu, bodoh!" seru Ki Demang terlambat mencegah.

Sosok bertopeng merah itu menoleh dengan tenang. Tanpa kepanikan sedikit pun, ia mengangkat sebelah tangannya dan mengibaskan lengan bajunya. Semburan angin hitam berputar deras, menghantam dada pesilat muda tersebut telak.

Bum!

Pesilat muda itu terpental mundur sejauh belasan tombak, menabrak dinding batu hingga muntah darah segar. Wajahnya langsung berubah kebiruan dalam hitungan detik. Ia meronta-ronta sesaat sebelum akhirnya terkulai lemas, tewas seketika dengan gejala yang persis seperti para korban di jalan desa tadi.

"Ilmu Angin Lembayung Hitam!" desis Ki Demang dengan mata membelalak. "Kalian benar-benar sisa-sisa pengikut Sekte Bayangan Merah!"

Ketiga orang bertopeng merah itu perlahan berbalik. Pemimpin mereka tertawa dingin di balik topengnya, suaranya terdengar menggema di dinding lembah yang sempit.

"Ki Demang... ketua perguruan Tapak Angin yang terhormat," ucap pemimpin bertopeng itu merendahkan. "Ternyata kau masih hidup dan cukup berani mendatangi kuburanmu sendiri."

"Buka topengmu!" bentak Raga, menghunus pedang panjangnya yang memantulkan kilau perak di bawah cahaya matahari pagi yang tertutup kabut. "Kalian pembunuh berdarah dingin! Apa salah warga desa dan saudara-saudara seperguruanku hingga kalian bantai dengan cara pengecut seperti ini?"

"Salah mereka?" pemimpin bertopeng itu mendengus sinis. "Tanah ini milik kami. Perguruan-perguruan munafik seperti kalian telah merampas hak kami puluhan tahun lalu. Pembantaian ini hanyalah permulaan. Sebelum rempah-rempah dan jalur perdagangan di gunung ini jatuh ke tangan kami, siapa pun yang menghalangi akan merasakan dinginnya racun kami."

Suasana mendadak tegang. Angin lembah berhembus kencang, menerbangkan debu dan serpihan asap beracun di sekitar mereka. Ki Demang tahu, mereka sedang berada dalam posisi terjepit. Jumlah musuh memang sedikit, tetapi lingkungan lembah ini telah dikuasai sepenuhnya oleh racun ciptaan mereka.

"Raga, bersiaplah," bisik Ki Demang tanpa mengalihkan pandangannya dari musuh. "Kita harus merebut tabung pengendali racun itu, atau seluruh desa di bawah akan musnah hari ini juga."

❖ ❖ ❖

Pertempuran pecah dalam sekejap mata. Pemimpin bertopeng merah mengibaskan tangannya, memberi isyarat kepada dua anak buahnya untuk maju menyerang.

"Habisi mereka!" perintahnya dingin.

Kedua pengikut Sekte Bayangan Merah itu bergerak dengan kecepatan luar biasa. Gerakan mereka lincah bagai bayangan di antara kabut tebal, mengandalkan jurus tangan kosong yang dilapisi tenaga dalam beracun. Raga langsung menyambut serangan salah satu dari mereka. Pedang di tangannya berkelebat membelah udara, menciptakan desingan tajam yang memecah kesunyian lembah.

Lihat selengkapnya