Angin malam di tanah Parahyangan berembus dingin, membawa serta keheningan yang mencekam dan bau amis yang asing. Di bawah naungan cahaya rembulan yang pucat, Zahra berlutut di atas rerumputan basah. Jemarinya yang terampil bergerak cepat, membuka kotak peralatan medis darurat yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Di sebelah kanannya, Chafia berdiri siaga dengan obor bernyala terang, menerangi pemandangan mengerikan di hadapan mereka: belasan prajurit dan warga desa tergeletak tak bernyawa dengan kulit membiru dan bibir menghitam.
"Bagaimana keadaannya, Zahra?" suara Chafia terdengar bergetar, memecah keheningan malam yang pekat. Matanya menyapu sekeliling, memastikan tidak ada ancaman susulan yang bersembunyi di balik semak-semak gelap.
Zahra tidak langsung menjawab. Ia mengambil tabung kaca kecil, dengan hati-hati meraup embun yang menempel di daun-daun sekitar jasad para korban, lalu menggunakan jarum khusus untuk mengambil sampel cairan dari luka kecil di leher salah satu prajurit. Ia menutup tabung tersebut rapat-rapat, mengangkatnya sejajar dengan mata, dan mengamatinya di bawah pantulan cahaya obor Chafia.
"Udara di sekitar sini terkontaminasi berat, Chafia," ucap Zahra akhirnya, suaranya terdengar serak namun sarat akan ketegasan seorang tabib senior. Ia mengalihkan pandangannya pada jasad seorang prajurit paruh baya yang matanya masih terbuka lebar, menatap kosong ke langit malam. "Dan jasad-jasad ini... kematian mereka bukan karena luka senjata biasa."
"Racun?" tebak Chafia, alisnya bertaut tajam. Tangannya secara refleks menggenggam hulu pedang yang terselip di pinggangnya erat-erat.
"Ya. Dan bukan racun sembarangan," jawab Zahra pelan. Ia berdiri, membersihkan lutut jubahnya yang kotor oleh tanah basah. Wajahnya terlihat sangat pucat, bahkan lebih pucat daripada kulit para korban di hadapannya. "Aku butuh waktu untuk menganalisis sampel ini di tenda pengobatan, tapi dari ciri-ciri fisiknya—kulit membiru pekat, pembuluh darah yang mengeras seperti es, dan aroma manis bercampur bau bangkai—aku sangat mengenali tanda-tanda ini."
"Katakan padaku, Zahra. Apa yang sedang kita hadapi?" desak Chafia, langkahnya mendekat, menuntut kejelasan yang bisa menyelamatkan pasukan mereka.
"Racun Teratai Salju," bisik Zahra, seolah menyebut nama kutukan yang teramat tabu. "Sejenis racun jahat yang diracik dari gabungan ekstrak tanaman berbisa tingkat tinggi dan hawa es kematian yang hanya bisa ditemukan di puncak pegunungan es abadi di ujung utara."
Chafia menelan ludah kelat. Nama racun itu bahkan pernah ia dengar dalam dongeng-dongeng mengerikan masa kecilnya—sebuah senjata pemusnah massal yang legendaris, yang konon hanya digunakan oleh para pembunuh bayaran bayangan di masa lalu untuk menghancurkan sebuah dinasti dalam satu malam.
"Jika racun ini sudah disebarkan di udara dan sumber air wilayah ini," lanjut Zahra dengan suara bergetar, menatap nanar ke arah lembah Parahyangan yang terbentang luas di bawah sana, "maka ini bukan sekadar pembunuhan biasa. Jika tidak segera dihentikan, wabah ini bisa memusnahkan seluruh kehidupan di Parahyangan dalam hitungan hari."
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam tenda utama Komando Pasukan Parahyangan terasa sangat menyesakkan. Pelita minyak di atas meja kayu memancarkan cahaya kekuningan yang menari-nari gemetar, menciptakan bayangan panjang di dinding kain tenda yang tebal. Di sekeliling meja, para perwira tinggi berdiri dengan wajah tegang, menunggu laporan resmi dari Zahra dan Chafia yang baru saja memasuki ruangan dengan tergesa-gesa.
"Jelaskan situasi sebenarnya, Tabib Zahra," perintah Jenderal Bima dengan suara berat berwibawa. Tangannya mengepal di atas peta tua yang terbentang lebar di atas meja. "Pasukan penjaga perbatasan utara baru saja lumpuh total tanpa sempat mengangkat senjata. Apakah ini ulah pemberontak?"
Zahra meletakkan kotak sampel di atas meja, membuka penutupnya dengan gerakan hati-hati. Aroma dingin yang menusuk hidung langsung menguar ke udara tenda, membuat beberapa perwira di dekatnya mengernyit dan mundur setengah langkah.
"Bukan sekadar pemberontak, Jenderal," kata Zahra, tatapannya lurus menatap sang pemimpin militer. "Ini adalah serangan biologis terencana. Racun Teratai Salju telah dilepaskan melalui aliran angin malam dan mencemari sumur-sumur utama di desa perbatasan."
"Racun Teratai Salju?" seru Ki Ageng, penasihat senior kerajaan, sambil membelalakkan mata tua kelabunya. "Bukannya tanaman itu hanya tumbuh di Lembah Kematian Utara? Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sebulan melintasi badai salju. Bagaimana mungkin racun itu bisa berada di sini, di dataran rendah Parahyangan?"
"Itulah inti masalahnya, Ki Ageng," Chafia menyela, melangkah maju untuk menegaskan situasi. "Seseorang atau sekelompok pihak telah menyelundupkan ekstrak racun ini dalam jumlah besar. Dan mereka tidak sekadar meracuni sumur, tetapi membakar wadah khusus di titik-titik strategis agar uapnya terbawa angin ke permukiman padat."
"Dampaknya tidak main-main," tambah Zahra, mengambil alih penjelasan dengan nada mendesak. "Racun ini bekerja dengan cara membekukan aliran darah dari dalam. Dalam waktu kurang dari dua jam, korban akan mengalami kejang otot, kehilangan kesadaran, dan akhirnya organ dalam mereka hancur total karena kristal es beracun. Obat penawar biasa tidak akan mempan."
Jenderal Bima terdiam sejenak. Sorot matanya menyapu wajah setiap orang di dalam tenda, mencari secercah harapan di balik keputusasaan yang mulai merayap. "Berapa lama waktu yang kita miliki sebelum racun ini mencapai ibu kota kabupaten?"
"Kurang dari tiga hari, Jenderal," jawab Zahra tanpa ragu. "Jika angin terus berhembus ke arah selatan dengan kecepatan seperti malam ini, penduduk ibu kota akan mulai menghirup partikel racun tersebut lusa pagi. Kita harus segera menutup seluruh jalur air, mengevakuasi warga, dan menemukan penawar secepatnya."
"Evakuasi? Ke mana?" hardik salah seorang perwira bawahan dengan nada panik. "Seluruh lembah ini sudah terkepung oleh kabut beracun itu! Jika kita keluar dari benteng, kita justru menjemput kematian di luar!"
Perdebatan sengit langsung pecah di dalam tenda. Suara-suara beradu argumen memenuhi ruangan, menciptakan kebingungan yang semakin memperkeruh keadaan. Chafia mengepalkan tangannya, merasa geram dengan kepanikan yang mulai melanda para pemimpin militer yang seharusnya menjadi pelindung rakyat.
"Tenang semuanya!" bentak Jenderal Bima, suaranya menggelegar meredam seluruh keributan dalam sekejap. Ia menoleh kembali ke arah Zahra. "Tabib Zahra, abaikan mereka yang hanya bisa berteriak ketakutan. Katakan padaku apa yang kau butuhkan untuk meracik penawar racun terkutuk ini. Kerajaan akan menyediakan apa saja, berapapun harganya."
Zahra menghela napas panjang, beban berat terpampang jelas di bahunya yang ramping. "Aku butuh tanaman Akar Matahari Emas yang tumbuh di gua tersembunyi di tebing curam Gunung Gede, dan darah segar dari seekor Harimau Putih penjaga hutan larangan. Tanpa dua bahan utama itu, racun ini tidak akan bisa dinetralkan."
❖ ❖ ❖
Perjalanan menuju Gunung Gede bukanlah perkara mudah, terutama ketika langit Parahyangan mulai diselimuti kabut tipis berwarna kebiruan—tanda bahwa partikel Racun Teratai Salju mulai merambah lebih jauh ke dataran yang lebih tinggi. Zahra dan Chafia bergerak dalam diam, mengenakan masker kain tebal yang telah direndam dalam cairan cuka khusus untuk menyaring udara beracun agar tidak terhirup ke dalam paru-paru.
"Tetaplah dekat di belakangku, Zahra," bisik Chafia setengah berteriak di tengah deru angin gunung yang mulai bertiup kencang. Tangannya memegang erat tali kekang kuda penuntun mereka yang berjalan lambat di jalur pendudukan yang licin.
"Aku tahu, Chafia," balas Zahra dari balik masker kainnya. Suaranya terdengar teredam namun penuh konsentrasi. Ia terus mengawasi kantong obat di punggung kudanya, memastikan tabung-tabung sampel tidak pecah akibat guncangan medan yang terjal.
Mereka tiba di mulut Gua Batu Hitam, tempat di mana berdasarkan naskah kuno kerajaan, Akar Matahari Emas seharusnya tumbuh. Suhu di sekitar mulut gua terasa jauh lebih dingin daripada udara luar, seolah-olah ada kekuatan gaib yang membekukan waktu di tempat tersebut. Dinding-dinding batu dipenuhi oleh kristal es berkilauan yang memantulkan cahaya obor Chafia dengan warna kebiruan yang menyeramkan.