SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Pengintai Mungil di Desa Kelam

Kabut tebal menggantung rendah di atas tanah retak Desa Kertajaya, sebuah permukiman yang kini tinggal nama. Tiga hari lalu, desa ini masih dipenuhi suara tawa anak-anak dan kepulan asap dapur dari rumah-rumah panggung kayu. Namun, sejak wabah racun tak kasat mata menyapu wilayah lembah barat, para penduduk melarikan diri menyelamatkan nyawa, meninggalkan ladang-ladang yang telantar dan lorong-lorong sunyi yang kini dikuasai angin malam.

Kamil melangkah pelan di atas jalanan tanah berdebu, matanya awas memindai setiap sudut bayangan yang tercipta dari sisa-sisa cahaya senja. Di belakangnya, Rafar berjalan tanpa suara, jemarinya secara refleks selalu siap menggenggam hulu belati di balik jubah abu-abunya yang mulai kotor oleh debu perjalanan. Sementara itu, Yafid berada di posisi paling belakang, membawa gulungan peta usang yang sesekali ia amati menggunakan bantuan batu api kecil demi memastikan arah kompas tidak meleset.

"Desa ini terlalu sunyi, bahkan untuk ukuran desa mati," bisik Rafar pelan, hampir tak terdengar di antara deru angin yang menghantam dinding-dinding papan yang lapuk.

"Kesunyian adalah topeng terbaik bagi mereka yang menyembunyikan rahasia besar," balas Kamil tanpa mengalihkan pandangannya dari sebuah gubuk di ujung jalan utama. "Perkumpulan Bayangan Beracun tidak akan memilih tempat sembarangan untuk meracik muatan maut mereka. Tempat ini terisolasi, memiliki pasokan air dari aliran sungai bawah tanah, dan yang paling penting, tidak ada orang usil yang akan mengganggu."

Mereka bertiga adalah ahli strategi dari persekutuan benteng timur yang diutus khusus untuk memutus rantai pasokan racun kelam tersebut. Misi ini bukan sekadar pertarungan fisik, melainkan permainan catur maut di mana salah langkah kecil berarti kematian bagi ribuan prajurit di garis depan.

Kamil memberi isyarat tangan agar mereka berdua berhenti di balik reruntuhan lumbung padi. Di hadapan mereka, sebuah jejak tapak kaki baru tercetak jelas di atas tanah basah dekat sumur tua. Jejak itu tidak lazim; bagian tumitnya tampak lebih dalam, menandakan seseorang yang membawa beban berat di punggungnya, sementara ujung jarinya menunjuk ke arah tebing curam di sebelah utara desa.

"Perhatikan itu," bisik Kamil sambil menunjuk tanah. "Bukan jejak penduduk lokal. Sol sepatu bot mereka menggunakan pola tempaan besi dari pandai besi Lembah Hitam. Anggota Bayangan Beracun."

Rafar mengangguk pelan, matanya menyipit meneliti jejak tersebut hingga ke semak-semak liar. "Mereka tidak hanya lewat. Mereka mondar-mandir secara teratur. Lihat rumput yang terinjak itu? Polanya menunjukkan ada pergantian penjaga setiap beberapa jam sekali."

"Dan bukan hanya jejak kaki," tambahnya lagi sambil menunjuk ke langit kelabu. "Coba lihat ke sana, di celah tebing batu."

Yafid merapatkan posisinya, mengangkat dagu untuk melihat lebih dekat ke arah yang dimaksud. Di antara kerindunan pohon pinus purba di puncak tebing, segaris tipis kepulan asap kelabu mengepul pelan, bersembunyi di balik kabut tebal. Asap itu tidak menyebar secara alami; ia terputus-putus, seolah sengaja diatur menggunakan semacam tudung pengarah agar tidak terlihat dari dataran rendah.

"Perapian tersembunyi," kata Yafid dengan nada rendah penuh perhitungan. "Mereka menggunakan kayu bakar kering jenis damar hitam yang minim asap. Orang biasa tidak akan tahu ada aktivitas di sana."

"Itu sarang mereka," ucap Kamil mantap. Keputusan telah bulat. Ketiganya bersiap menaiki jalur pendakian curam yang tersembunyi di balik reruntuhan kuil tua desa.

❖ ❖ ❖

Pendakian menuju puncak tebing bukanlah hal mudah. Jalur setapak yang mereka pilih tertutup akar-akar gantung yang licin oleh embun pagi dan lumut tebal. Setiap gerakan harus diperhitungkan dengan matang agar tidak menimbulkan suara gemerisik ranting yang dapat memecah keheningan hutan.

Di tengah perjalanan, jalur mendadak menyempit diapit oleh dinding batu cadas yang curam di sebelah kiri dan jurang menganga di sebelah kanan. Tempat itu merupakan sebuah titik jepit alami yang sangat berbahaya bagi penyusup.

"Tunggu sebentar," bisik Rafar sambil menahan bahu Kamil. Ia berlutut, mengamati tanah tipis di sela-sela bebatuan. "Jangan melangkah ke sana."

Kamil menghentikan langkahnya tepat sebelum sepatu botnya menyentuh batu pipih yang tampak sedikit berbeda warna. "Ada apa?"

"Kawat pancing tembaga," jawab Rafar pelan, menunjuk dengan ujung belatinya ke sebuah kawat tipis yang direntangkan nyaris tak terlihat di antara dua akar pohon. Kawat itu terhubung langsung ke sebuah batu besar yang bertumpu tidak stabil di atas lereng. "Jika tali itu tersenggol, batu-batu di atas akan runtuh, memicu longsoran kecil yang tidak hanya akan menghantam kita ke jurang, tetapi juga memberikan alarm instan bagi para penjaga di atas."

Yafid mendekat secara hati-hati, merunduk rendah untuk mengamati mekanisme jebakan tersebut. "Ini jebakan klasik khas pemburu bayaran utara. Sederhana, namun sangat efektif di medan sempit seperti ini. Mereka benar-benar mengantisipasi kemungkinan ada penyusup dari jalur bawah."

"Bisa kita lewati tanpa memicunya?" tanya Kamil, matanya menatap tajam ke depan, memperhitungkan jarak aman.

"Bisa, tetapi membutuhkan waktu dan kelincahan ekstra," kata Rafar. Ia mengeluarkan pisau kecil bermata tipis dari kantong pinggangnya. "Aku akan memotong tegangan kawatnya secara perlahan dari bawah, sementara kalian menahan beban tubuhku jika ada batu yang bergeser."

Suasana di sekitar mereka mendadak terasa jauh lebih sunyi. Hanya suara angin lembah yang mendesing di telinga dan detak jantung yang bergemuruh di dada. Rafar menarik napas panjang, menenangkan saraf-sarafnya. Dengan tangan yang sangat stabil, ia menyelipkan ujung pisaunya ke bawah kawat tembaga yang tegang.

Ketik...

Sebuah suara gesekan kecil terdengar saat batu penahan di atas bergeser beberapa milimeter. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Rafar. Kamil dan Yafid segera merapatkan posisi, menahan tubuh Rafar agar tidak kehilangan keseimbangan di atas tebing yang sempit itu.

"Tahan... sedikit lagi..." bisik Yafid pelan.

Dengan satu gerakan cepat namun terukur, Rafar memotong kawat tersebut menggunakan tekanan penuh pada bilah pisaunya. Srek! Kawat tembaga itu terlepas dengan bunyi nyaring tertahan. Beban yang tadinya menahan batu besar kini hilang, namun beruntung batu tersebut tidak sempat meluncur jatuh karena tertahan akar pohon yang kuat di bawahnya.

"Bagus," napas Rafar terdengar sedikit memburu. Ia mengusap keringat di dahinya. "Jebakan pertama berhasil dilumpuhkan. Tapi aku yakin, ini bukan satu-satunya pengaman yang mereka pasang di sepanjang jalur tebing ini."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan tingkat kewaspadaan yang jauh lebih tinggi. Setiap jengkal tanah, setiap ranting pohon, dan setiap bayangan kini dicurigai sebagai ancaman mematikan.

❖ ❖ ❖

Setelah melewati jalur tebing yang curam, ketiganya akhirnya tiba di dataran tinggi tempat persembunyian Bayangan Beracun berada. Tempat itu berupa sebuah kompleks gua alami yang diperluas dengan dinding-dinding batu buatan manusia. Di depan mulut gua, dua orang penjaga bertopeng kain hitam berdiri mengawasi area sekitar sambil membawa tombak pendek berujung bilah melengkung.

Kamil, Rafar, dan Yafid bersembunyi di balik rumpun bambu besar yang tumbuh subur di tepi tebing. Jarak mereka dengan para penjaga tidak lebih dari dua puluh langkah.

"Kita tidak bisa menerobos begitu saja tanpa menimbulkan keributan," bisik Kamil, merumuskan strategi kilat di kepalanya. "Yafid, gunakan kemampuanmu untuk mengalihkan perhatian penjaga sebelah kiri ke arah semak-semak di ujung barat. Rafar, lumpuhkan penjaga sebelah kanan dalam satu gerakan senyap begitu perhatian mereka terpecah."

Lihat selengkapnya