Azalia dan Risha bergerak secepat kilat mengikuti petunjuk Kamil. Dengan ilmu ginkang tingkat tinggi yang membuat tubuh mereka seringan kapas, kedua pesilat wanita ini melompati pepohonan pinus tanpa menerbitkan suara sedikit pun untuk mengintai benteng pertahanan musuh di balik celah tebing terjal.
Suasana pagi di lereng Gunung Salak terasa sangat mencekam. Kabut tebal merayap di antara batang-batang pohon, menciptakan tirai putih alami yang menyembunyikan setiap gerakan mereka. Di bawah sana, aliran sungai menggemuruh pelan, memantulkan bayangan langit kelam yang tertutup awan mendung.
Azalia mendarat tanpa suara di atas dahan pinus yang basah oleh embun. Ia memberi isyarat tangan kepada Risha yang berada di dahan seberang. Risha mengangguk kecil, jemarinya meraba hulu pedang pendek di pinggangnya untuk memastikan senjata itu siap ditarik kapan saja.
"Kita sudah terlalu dekat dengan garis pertahanan musuh," bisik Azalia, suaranya hampir tak terdengar, menyatu dengan desau angin pegunungan. "Pancaran hawa murni dari para penjaga gerbang itu mulai terasa pekat. Mereka bukan pesilat sembarangan."
Risha merapatkan tubuhnya ke batang pohon, matanya tajam mengamati celah sempit di antara dua dinding tebing batu cadas di depan mereka. "Aku bisa merasakan setidaknya ada empat jalur pengintaian siluman dari kelompok bayangan hitam. Gerakan mereka terlatih rapi. Jika kita salah melangkah sedikit saja, alarm alami berupa burung ornit atau monyet hutan akan membongkar posisi kita."
"Kamil mempercayakan tugas ini kepada kita karena dia tahu kemampuan kita," balas Azalia dengan nada tenang namun tegas. "Ingat tujuan utama kita. Bukan untuk memicu perang terbuka, melainkan mencari titik lemah dari formasi pertahanan musuh sebelum pasukan utama pimpinan Ki Ageng bergerak."
"Aku tahu, Azal," Risha menarik napas panjang, mencoba meredam degup jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat. "Hanya saja, instingku mengatakan musuh kali ini jauh lebih berbahaya dari apa yang kita perkirakan di markas."
"Karena itulah kita harus bergerak sebagai satu kesatuan angin," ujar Azalia sebelum kembali melesat, meninggalkan jejak bayangan tipis yang segera buyar diterpa angin lembah.
❖ ❖ ❖
Keheningan hutan mendadak pecah ketika suara gesekan bilah logam beradu dengan batu karang terdengar dari arah jurang sebelah barat. Azalia dan Risha seketika menghentikan langkah, merendahkan postur tubuh hingga menempel erat pada dinding tebing. Di hadapan mereka, sebuah pemandangan mengerikan terhampar di balik kabut yang mulai menipis.
Sebuah pos terdepan musuh berdiri kokoh. Puluhan prajurit bertopeng besi dengan lambang ular melingkar di dada jubah hitam mereka tampak berjaga dengan formasi ketat. Di tengah-tengah mereka, seorang perwira musuh berbadan tegap tengah membentak bawahannya dengan suara serak yang memantul di dinding ngarai.
"Kalian dengar laporan dari regu pengintai?" bentak perwira berwajah parau itu, matanya melotot tajam menatap tiga orang prajurit yang berlutut di tanah. "Penyusup dari perguruan Lembah Angin telah mencium jalur logistik kita! Jika sampai dalam waktu dua jam pasokan senjata dari utara tidak sampai ke tangan Panglima Jagat, kepala kalian bertiga akan digantung di gerbang benteng!"
"Ampun, Jenderal!" sahut salah seorang prajurit dengan suara gemetar. "Kami telah menyisir seluruh jalur pendakian barat, tapi tidak menemukan tanda-tanda manusia. Yang kami temukan hanyalah bangkai kijang yang mati dengan luka tusukan di leher, sepertinya ulah binatang buas."
"Binatang buas Gundulmu!" sang Jenderal melayangkan tendangan keras yang mendarat telak di dada prajurit tersebut, membuat tubuh malang itu terpental hingga membentur dinding batu dan tak sadarkan diri. "Binatang buas mana yang mampu memotong urat nadi leher dengan tebasan pedang selebar rambut? Itu perbuatan pesilat aliran putih!"
Dari balik semak belukar tempat persembunyian mereka, Risha mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melirik Azalia, memberikan tatapan penuh tanya apakah saat ini waktu yang tepat untuk menyergap.
Azalia menggelengkan kepala perlahan, bibirnya nyaris tak bergerak saat berbisik, "Tahan emosimu, Risha. Perwira itu memegang kunci gerbang utama. Jika kita menyerang sekarang, mereka akan membunyikan lonceng peringatan dan seluruh pasukan musuh akan mengepung kita."
"Tapi kita tidak bisa selamanya bersembunyi di sini, Azal," balas Risha dengan suara serendah desisan ular. "Titik jepit ini adalah satu-satunya akses menuju benteng dalam. Jika kita kehilangan momentum, Kamil dan pasukan utama akan terjebak dalam pembantaian."
"Percaya padaku. Kita tunggu sampai regu patroli mereka terpecah," jawab Azalia, matanya tidak lepas dari gerak-gerik sang perwira yang kini mulai berjalan menjauh menuju tenda komando di balik dinding batu.
Situasi di pos terdepan itu semakin menegang. Udara terasa semakin panas meskipun kabut gunung masih menyelimuti tanah. Setiap detik terasa begitu berharga, sementara tekanan mental kian menghimpit dada kedua pesilat wanita tersebut.
❖ ❖ ❖
Di tengah ketegangan yang kian memuncak, sebuah suara gemerisik ranting patah terdengar tepat di belakang tempat persembunyian Azalia dan Risha. Tanpa aba-aba, Risha memutar tubuhnya dengan kecepatan kilat, menghunus pedang pendeknya ke arah sumber suara.