SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Racun Melawan Racun

Malam melingkupi pelataran markas dengan selimut pekat, menyisakan desau angin dingin yang membawa bau lembap tanah kuburan dan aroma aneh yang menusuk hidung—tanda khas dari wilayah kekuasaan musuh yang sudah berada di ambang batas jangkauan mereka. Di dalam tenda komando utama yang hanya diterangi oleh sebuah lentera minyak kecil, nyala api berkedip lemah, melemparkan bayang-bayang panjang yang menari di dinding kain kasar. Suasana di dalam ruangan itu begitu tegang hingga seolah-olah udara pun membeku, mengharuskan setiap orang bernapas secara perlahan agar tidak memecah keheningan yang rapuh.

Arka berdiri di dekat meja kayu kasar yang dipenuhi gulungan peta tua dan catatan strategis, kedua tangannya mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah dua sosok wanita yang duduk bersila di sudut ruangan, dikelilingi oleh berbagai macam botol giok kecil, daun-daun kering beracun, serta mangkuk perak yang memantulkan kilau kelam cahaya lentera.

"Waktu kita tidak banyak," suara Arka memecah keheningan, berat dan penuh tekanan. "Pengintai melaporkan bahwa barisan pertahanan luar mereka telah dirotasi ulang. Jika kita menunda penyerangan ini lebih dari malam besok, formasi mereka akan semakin sulit ditembus, dan kita akan kehilangan elemen kejutan yang sudah susah payah kita bangun."

Zahra mendesah pelan, jemarinya yang terampil sama sekali tidak berhenti bergerak. Ia sedang memegang sebutir pil kecil berwarna keunguan yang baru saja selesai ia bentuk, memasukkannya dengan hati-hati ke dalam sebuah botol kecil berpenutup lilin. Tanpa mengalihkan pandangannya dari racikan di hadapannya, wanita itu menjawab dengan nada tenang namun tegas.

"Ketergesaan adalah jalan terbaik menuju kematian, Arka," ucap Zahra, suaranya lembut namun mengandung wibawa yang membuat Arka menahan napasnya. "Kau tidak sedang memimpin pasukan untuk menghadapi prajurit biasa di medan terbuka. Wilayah yang akan kita masuki adalah sarang dari Sekte Bayangan Hitam, sebuah tempat di mana setiap jengkal tanah, setiap embusan angin, bahkan tetesan embun pagi telah dicemari oleh racun tingkat tinggi yang dapat melumpuhkan sistem saraf manusia dalam hitungan detik."

Chafia, yang duduk di sebelah Zahra, mengangguk menyetujui perkataan rekan seperguruannya. Ia sedang menuangkan cairan bening beraroma tajam ke dalam belasan tabung bambu kecil yang berderet rapi di hadapannya.

"Zahra benar," timpal Chafia sambil melirik Arka sekilas. "Musuh kita tidak hanya mengandalkan pedang dan ilmu tenaga dalam. Mereka menggunakan racun sebagai lapis baja pertama mereka. Tanpa persiapan yang matang, pasukanmu akan bergelimpangan sebelum sempat mengayunkan senjata mereka, bahkan sebelum melihat wajah musuh yang sebenarnya. Racun mereka tidak berwarna dan tidak berbau; ia masuk melalui pori-pori kulit dan pernapasan tanpa disadari oleh korbannya."

Arka menghela napas panjang, meredakan ketegangan di dadanya. Ia tahu betul bahwa kedua wanita itu adalah ahli racun dan pengobatan terbaik yang ada di pihak mereka saat ini. Tanpa keahlian Zahra dan Chafia, rencana penyerangan ini hanyalah sebuah bentuk bunuh diri massal yang sia-sia.

"Aku mengerti kekhawatiran kalian," kata Arka dengan suara yang lebih lembut. "Hanya saja, para prajurit sudah tidak sabar untuk membalas dendam. Semangat mereka sedang membara, tetapi aku takut semangat itu padam jika kita terlalu banyak menghabiskan waktu di balik tembok pertahanan ini."

"Semangat tanpa perlindungan hanyalah kenekatan bodoh," balas Zahra dingin, menatap langsung ke mata Arka. "Dengarkan aku, Arka. Sebelum melakukan penyerangan, Zahra meracik pil khusus bernama Pil Penahan Tujuh Racun, sementara Chafia membagikan cairan pembersih jalan darah. Langkah ini sangat krusial agar Arka dan kawan-kawan tidak terpengaruh oleh hawa beracun saat bertempur di sarang musuh."

❖ ❖ ❖

Di dalam tenda yang semakin larut malam itu, penjelasan teknis mengenai persiapan racun penawar dimulai dengan keseriusan yang mutlak. Zahra mengangkat sebuah botol giok kecil ke hadapan Arka, memperlihatkan butiran pil di dalamnya yang memancarkan pendar cahaya ungu kemerahan yang samar.

"Pil ini kubuat dari campuran empedu ular api gunung es, akar teratai salju seribu tahun, serta ekstrak bunga belukar hitam yang tumbuh di jurang kematian," jelas Zahra sambil membuka tutup botol tersebut, membiarkan aroma menyengat yang bersih dan menyegarkan menyebar di udara tenda, mengusir bau busuk tanah sebelumnya. "Namanya Pil Penahan Tujuh Racun. Setiap prajurit harus menelannya satu butir tepat setengah jam sebelum kita memasuki perbatasan kabut beracun milik musuh."

"Bagaimana cara kerjanya?" tanya Dimas, wakil komandan pasukan yang sejak tadi menyimak dengan seksama dari balik pintu tenda.

"Pil ini tidak serta-merta membuat kalian kebal terhadap segala jenis racun di dunia," jawab Zahra sabar. "Tetapi pil ini akan menciptakan semacam lapisan pelindung di dalam jalur pernapasan dan aliran darah kalian. Lapisan itu akan menetralkan racun-racun golongan berat yang biasa digunakan oleh Sekte Bayangan Hitam, memberi kalian waktu setidaknya tiga jam untuk bertempur secara leluasa tanpa harus takut darah kalian membeku."

"Tiga jam," gumam Arka pelan, menghitung dalam pikirannya. "Waktu yang cukup untuk menerobos gerbang utama dan melumpuhkan pertahanan inti mereka."

"Tetapi ingat," Chafia memotong dengan nada memperingatkan sambil mengangkat botol bambu berisi cairan bening miliknya. "Pil saja tidak cukup. Racun musuh tidak hanya masuk melalui pernapasan, tetapi juga menempel di pakaian, senjata, dan debu yang beterbangan di udara. Jika kalian tidak membersihkan jalur darah di permukaan kulit setelah terkena goresan kecil sekalipun, racun itu akan merembes masuk."

Chafia kemudian menunjukkan cara penggunaan cairan pembersih tersebut. Ia mengambil sehelai kain bersih, meneteskan beberapa cairan bening di atasnya, lalu mengusapkannya pada lengannya sendiri. Cairan itu langsung bereaksi dengan kulit, mengeluarkan sedikit uap putih tipis tanpa meninggalkan luka atau rasa panas.

"Cairan pembersih jalan darah ini harus dioleskan ke sekujur tubuh, terutama bagian lengan dan leher yang sering terbuka," terang Chafia. "Cairan ini berfungsi membuka pori-pori secara terkendali untuk membuang racun yang telanjur menempel sebelum sempat masuk ke jantung. Kalian harus membagikan ini kepada seluruh pasukan tanpa terkecuali."

Arka mengangguk mantap. Ia tahu bahwa tugas ini tidak mudah. Mendistribusikan pil dan cairan penawar kepada ratusan prajurit di tengah malam buta membutuhkan ketelitian yang tinggi. Sedikit saja kesalahan dalam instruksi, nyawa para prajurit akan menjadi taruhannya.

"Baiklah," kata Arka mengambil alih tanggung jawab distribusi. "Aku akan memanggil para kepala pasukan untuk menerima bagian mereka malam ini juga. Zahra, Chafia, seberapa banyak persediaan yang bisa kalian siapkan?"

"Cukup untuk seluruh pasukan garis depan," jawab Zahra mantap. "Namun, kalian harus berhati-hati. Racun penawar ini memiliki efek samping ringan. Selama beberapa jam pertama setelah menelannya, suhu tubuh kalian akan meningkat drastis. Kalian akan merasa seperti sedang terbakar dari dalam. Itu adalah tanda bahwa pil sedang bekerja menyesuaikan diri dengan aliran darah kalian."

Lihat selengkapnya