Malam baru saja merangkak naik, membawa serta kabut tebal yang merayap lambat dari lembah curam di balik bukit batu. Suasana di perbatasan wilayah Karang Seribu terasa begitu pekat, seolah alam sendiri ikut menahan napas menyaksikan ketegangan yang membara di antara dua kubu. Sunyi yang mencekam itu tidak berlangsung lama. Suara gesekan logam yang beradu dengan batu, derap langkah teratur ribuan kaki, serta desau angin yang membawa bau amis khas rawa-rawa beracun perlahan-lahan merusak keheningan malam.
Pasukan Bayangan Beracun bergerak tanpa suara, bagaikan siluet kematian yang merayap di atas tanah berbatu. Di barisan depan, panglima perang mereka, seorang lelaki tinggi besar berwajah penuh luka sayatan bernama Kala Hitam, menyeringai dingin di balik topeng besi berkarat. Matanya yang tajam menatap ke arah kemah pertahanan para pendekar yang berdiri kokoh di dataran tinggi.
Di dalam kemah utama, Fathan dan Galin berdiri tegak mengitari peta strategi yang terbentang di atas meja kayu kasar. Cahaya pelita minyak meliuk-liuk, memantulkan bayangan mereka yang besar di dinding kain kemah. Udara terasa panas dan pengap, berpadu dengan ketegangan mental yang dirasakan oleh setiap pendekar yang bersiaga di luar.
"Mereka sudah sangat dekat, Kak," bisik Galin, jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pedang panjang di pinggangnya bergetar pelan, seolah tidak sabar untuk segera keluar dari sarungnya dan mencicipi darah musuh.
Fathan mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang meski di dalam dadanya jantungnya berdegup kencang. Ia merapikan jubah biru tua yang dikenakannya, lalu menepuk pundak adiknya untuk menyalurkan ketenangan. "Tenangkan dirimu, Galin. Jangan biarkan emosi memancing kelengahanmu. Pasukan Bayangan Beracun terkenal dengan kelicikan mereka. Mereka tidak akan bertarung secara jantan; mereka menggunakan racun dan tipu muslihat sebagai senjata utamanya."
"Aku tahu, Kak. Tapi melihat kehancuran yang mereka bawa ke desa-desa di lembah bawah membuat darahku mendidih," jawab Galin dengan nada tertahan, rahangnya mengeras.
"Kemarahan adalah senjata makan tuan di medan perang," sebuah suara berat terdengar dari ambang pintu kemah.
Sesosok pria paruh baya dengan rambut putih dan janggut rapi melangkah masuk. Itu adalah Ki Demang, tetua agung dari perguruan Karang Seribu yang menjadi guru sekaligus mentor bagi Fathan dan Galin. Langkah kaki Ki Demang mantap, memancarkan wibawa yang membuat suasana di dalam kemah langsung senyap seketika.
"Ki Demang," sampaikan Fathan dan Galin bersamaan sambil membungkuk hormat.
Ki Demang berjalan mendekati meja peta, menatap tajam ke arah titik-titik penanda posisi musuh yang diletakkan di atas lembaran kulit domba. "Pasukan yang datang malam ini bukanlah pasukan biasa. Kala Hitam memimpin langsung pasukan elit 'Ular Hitam'. Mereka membawa persediaan racun jenis baru yang mampu melumpuhkan tenaga dalam hanya dalam hitungan detik jika meresap ke dalam aliran darah."
"Kami sudah siap menghadapi mereka, Guru," ucap Fathan dengan mantap. "Jurus Dinding Karang Teratai yang telah kami sempurnakan bersama akan mampu menahan gelombang serangan pertama mereka."
"Bagus," Ki Demang tersenyum tipis, meski sorot matanya menyembunyikan kekhawatiran yang mendalam. "Namun ingat, kekuatan fisik saja tidak cukup. Kalian harus menyatukan batin dan pikiran agar perisai yang kalian ciptakan tidak berlubang. Musuh mengincar celah sekecil apa pun."
Di luar kemah, suara desau angin tiba-tiba berubah menjadi suara ribuan lebah yang mendengung kencang. Suara itu semakin lama semakin mendekat, memecah keheningan malam dengan cara yang paling mengerikan.
❖ ❖ ❖
"Mereka datang!" teriak seorang penjaga dari atas pos pengintaian, suaranya bergetar sebelum akhirnya teredam oleh bunyi dentuman keras dari arah lereng bukit.
Dalam hitungan detik, suasana berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya. Ribuan obor mendadak menyala di kegelapan malam, menerangi punggung bukit dan memperlihatkan barisan panjang pasukan Bayangan Beracun yang bergerak cepat seperti gelombang air bah yang siap menggulung apa saja di hadapan mereka. Di barisan paling depan, para pemanah musuh telah merentangkan busur mereka tinggi-tinggi ke udara.
Fathan dan Galin melesat keluar dari kemah, bergerak secepat kilat menembus barisan para pendekar muda yang bersiaga di garis depan pertahanan. Keduanya berdiri berdampingan di atas sebuah batu karang besar yang menghadap langsung ke arah lembah tempat musuh menyerbu.
"Bersiaplah, Galin!" seru Fathan di tengah deru angin malam yang semakin kencang.
"Aku di sampingmu, Kak!" balas Galin, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan mulai memusatkan tenaga dalam ke telapak tangannya.
Dari kejauhan, di atas punggung kuda hitam yang besar, Kala Hitam mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara. Seringai kejam terukir di balik topengnya. Begitu tangannya diayunkan ke bawah, ribuan anak panah meluncur deras ke langit malam, membentuk awan hitam yang mengerikan dan menutupi cahaya bulan.
"Lepaskan!" bentak Kala Hitam, suaranya melengking menembus gemuruh angin.
Ketika pasukan Bayangan Beracun menyadari kehadiran para pendekar, mereka melepaskan gelombang anak panah yang telah dilumuri minyak beracun. Fathan dan Galin langsung meloncat ke depan. Menggunakan jurus Dinding Karang Teratai, kedua saudara ini menjadi perisai hidup yang memantulkan kembali ratusan anak panah musuh.
Suara desingan anak panah yang membelah udara terdengar bagai ribuan hantu yang menjerit kelaparan. Di saat yang bersamaan, Fathan dan Galin menghantamkan kedua telapak tangan mereka ke tanah secara bersamaan. Gelombang energi biru keperakan meledak keluar, membentuk kubah transparan yang menyerupai kelopak bunga teratai raksasa yang dikelilingi oleh lapisan karang keras.
Bum! Bum! Bum!
Hantaman ratusan anak panah beracun itu menghantam dinding transparan tersebut dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Percikan api hijau berpendar setiap kali kepala panah bersentuhan dengan perisai energi. Minyak beracun yang melapisi panah-panah itu mendesis hebat, mengeluarkan asap ungu beracun yang mengepul tebal di udara malam.
"Tahan tenaga kalian! Jangan biarkan pertahanan ini goyah!" teriak Fathan, wajahnya mulai basah oleh keringat dingin akibat tekanan energi musuh yang begitu besar.
Galin mengatupkan giginya rapat-rapat. Aliran darah di tubuhnya mendidih, memompa tenaga dalam dari dantiannya untuk memperkuat sisi kiri perisai karang. "Berat sekali, Kak! Tenaga mereka dilapisi dengan ilmu hitam tingkat tinggi!"