SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Tiga Serangkai Membaca Peta

Desir angin malam berembus dingin di celah-celah bebatuan cadas Benteng Karang Hitam, membawa aroma belerang dan lembunst yang menusuk hidung. Di bawah naungan bayangan benteng yang menjulang megah sekaligus mengerikan, tiga sosok pemuda berdiri merapat dalam gelap. Mereka adalah Yafid, Rafar, dan Kamil—tiga serangkai yang malam ini memikul takdir perlawanan di pundak mereka.

Napas Yafid terdengar memburu, namun matanya tajam menatap selembar kertas tua berlumur noda darah kering yang baru saja mereka rebut dengan taruhan nyawa. Kertas itu bukan sekadar lembaran biasa, melainkan sketsa denah rahasia yang digambar dengan tinta khusus di atas kulit domba tipis.

"Kau yakin kita tidak salah ambil dari saku perwira tadi?" bisik Rafar pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam dan deburan ombak jauh di bawah tebing. Tangan Rafar masih gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sisa-sisa adrenalin perkelahian singkat yang baru saja merenggut kesadaran seorang komando musuh.

Yafid menggeleng tegas, merapatkan posisinya di balik pilar batu besar. "Tidak salah, Raf. Aku sendiri yang merogoh saku jubahnya saat dia pingsan terkena hantaman gagang belati Kamil. Perwira itu tidak akan membawa peta sembarangan jika isinya tidak krusial. Ini peta rute evakuasi dan sistem ventilasi utama benteng."

Kamil, yang sejak tadi berdiri paling depan mengawasi keadaan sekitar dengan busur panah siap di tangan, menoleh sekilas. Wajahnya tenang di balik kerudung gelap, memperlihatkan garis rahang yang mengeras. "Kita tidak punya banyak waktu untuk berdebat. Pasukan patroli pergantian jaga akan melintasi lorong ini dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit. Simpan peta itu, Yafid. Kita harus segera mencari tempat yang aman untuk membedah isi kepala musuh yang tertuang di atas kertas ini."

Tanpa suara, ketiganya melesat bagai bayangan menyusuri koridor samping benteng yang jarang terjamah. Sepatu bot mereka bergesekan pelan dengan lantai batu berlumut, memanfaatkan setiap jengkal kegelapan malam. Mereka akhirnya merangsek masuk ke dalam sebuah bilik jaga kosong yang terbengkalai, beratapkan kayu lapuk dan dikelilingi tumpukan peti amunisi berkarat.

Di dalam ruangan remang-remang itu, hanya berbekal sebatang lilin kecil yang nyala apinya ditutupi telapak tangan, Yafid membentangkan lembaran kulit domba tersebut di atas sebuah meja kayu yang reyot. Rafar dan Kamil langsung merapat, memusatkan pandangan mereka pada garis-garis tinta yang membentuk labirin rumit.

"Lihat ini," bisik Yafid sambil menunjuk sebuah titik bersimbol khusus di bagian tengah peta. "Ini adalah jantung dari sistem sirkulasi udara benteng. Saluran udara utama yang menembus dinding pertahanan tebing barat."

Rafar memicingkan matanya, mendekatkan wajah ke permukaan kertas. "Saluran udara? Tunggu dulu, Yafid. Kalau tidak salah ingat dari informasi para sandera sebelumnya, jalur utama menuju bagian dalam benteng dijaga ketat oleh jebakan gas racun kimia yang mematikan. Sekali kita salah melangkah ke terowongan utama, paru-paru kita akan hancur dalam hitungan detik."

"Benar," sahut Kamil dingin, matanya menelusuri simbol-simbol kecil di sudut peta. "Pasukan musuh memang sengaja menjadikan terowongan utama sebagai zona kematian bagi siapa pun yang mencoba menyusup secara frontal. Mereka memasang mekanisme katup otomatis yang terhubung langsung dengan ruang komando pusat."

Yafid tidak langsung menjawab. Jari telunjuknya yang kasar menyusuri garis-garis tipis di luar jalur utama, menelusuri alur melingkar yang tampak tersembunyi di bawah fondasi benteng. Senyum tipis perlahan tersungging di bibirnya yang kering. "Mereka memang licik, tapi mereka lupa satu hal: orang-orang yang merancang benteng ini puluhan tahun lalu bukanlah tentara modern, para leluhur kita membangun saluran air alami yang terintegrasi dengan gua bawah tanah."

"Maksudmu...?" Rafar menatap Yafid dengan alis bertaut.

"Ya," jawab Yafid mantap. "Kita tidak akan melewati terowongan utama. Kita akan masuk melalui jalur rahasia: gua saluran air bawah tanah yang langsung terhubung ke sistem ventilasi sekunder."

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam bilik jaga yang sempit itu mendadak terasa semakin menyesakkan. Rencana Yafid terdengar brilian, namun di balik itu tersimpan risiko yang luar biasa besar. Menembus gua saluran air berarti mereka harus mempertaruhkan nyawa di dalam kegelapan total, menghadapi arus air bawah tanah yang deras, serta risiko terjebak jika ketinggian air tiba-tiba naik akibat pasang air laut.

"Kau gila, Yafid?" cibir Rafar setengah berbisik, meski ada nada kekaguman di balik suaranya. "Gua saluran air itu sudah puluhan tahun ditinggalkan. Siapa yang tahu apakah jalurnya masih terbuka atau sudah runtuh tertimbun batu karang?"

"Justru karena sudah ditinggalkan dan dianggap tidak berguna oleh musuh, jalur itulah yang paling aman dari pengawasan," balas Yafid tajam, menatap mata Rafar lekat-lekat. "Kecuali jika kau lebih memilih berjalan gagah berani ke terowongan utama dan mati perlahan karena menghirup gas beracun."

Kamil mengangguk menyetujui argumen Yafid. Pemuda itu melipat tangannya di dada sambil mengamati kembali sketsa peta di atas meja. "Yafid benar, Rafar. Musuh memusatkan seluruh perhatian dan pertahanan mereka di gerbang utama serta terowongan ventilasi atas. Mereka tidak akan menduga ada penyusup yang merayap dari bawah melalui lumpur dan saluran air kotor."

Rafar menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. "Baiklah. Aku ikut. Tapi kalau kita mati tenggelam di dalam selokan tua itu, aku pastikan arwahku akan menarik kaki kalian berdua."

"Sepakat," jawab Yafid singkat, diiringi dengusan geli dari Kamil.

Tanpa buang waktu lagi, Yafid menggulung kembali peta kulit domba itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam kantong anti-air di balik jubahnya. Mereka bertiga memadamkan sisa nyala lilin, membuat ruangan kembali gelap gulita. Dengan gerakan terlatih, mereka keluar dari bilik jaga dan mulai bergerak merayap menuruni lereng curam di sisi barat benteng, tempat mulut gua saluran air tersembunyi di balik rimbunnya semak berduri dan akar pohon raksasa.

Langkah mereka terhenti tepat di depan sebuah lubang batu setinggi dua meter yang menganga hitam, mengeluarkan bau lembap khas air bawah tanah yang bercampur lumut tua. Suara gemercik air yang mengalir konstan terdengar dari dalam perut bumi, berpadu dengan suara deburan ombak yang menghantam dinding tebing di luar.

"Ini dia," bisik Kamil sambil mencabut belati dari sarungnya, berjaga-jaga jika ada hewan buas atau penjaga patroli terluar yang bersembunyi di sekitar mulut gua. "Ingat, tetap berpegangan pada tali pengaman. Arus di dalam sana tidak bisa dianggap remeh."

Yafid mengikatkan ujung tali tebal ke pinggangnya, lalu menoleh ke arah kedua sahabatnya. "Aku di depan. Rafar di tengah. Kamil, jaga bagian belakang. Mari kita selesaikan ini."

Satu per satu, ketiga pemuda itu merangkak masuk ke dalam kegelapan gua. Udara dingin langsung menyergap kulit mereka begitu melewati batas mulut gua. Cahaya bulan lenyap sepenuhnya, menyisakan kegelapan pekat yang hanya bisa diatasi dengan meraba dinding batu yang basah dan licin.

Baru beberapa meter melangkah ke dalam terowongan, suara gemercik air berubah menjadi suara gemuruh kecil. Air dingin mulai merendam mata kaki mereka, lalu naik perlahan hingga mencapai lutut saat mereka semakin jauh masuk ke dalam perut bumi.

"Tunggu," seru Rafar tiba-tiba dari belakang, suaranya menggema di dinding gua yang sempit. "Ada sesuatu di lantai!"

Lihat selengkapnya