Malam merayap perlahan di atas punggung bukit Pegunungan Kala, membawa serta udara dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Kegelapan pekat seolah menjadi selimut raksasa yang menelan seluruh warna alam, menyisakan bayangan-bayangan kelam yang menari-nari di bawah naungan cahaya bulan yang tertutup awan tebal. Di tengah kepungan bahaya racun mematikan yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa, Arka menggenggam jemari Tera dengan erat di balik semak persembunyiannya.
Suasana di sekitar mereka begitu sunyi, hampir mencekam, hanya dipecahkan oleh suara angin malam yang mendesah pelan melewati rerimbunan daun pinus. Bau belerang dan aroma tanah yang basah bercampur menjadi satu, menandakan bahwa ancaman dari lembah beracun di bawah sana bukanlah isapan jempol belaka. Kabut beracun itu merayap naik perlahan, membunuh setiap helai kehidupan yang dilaluinya tanpa suara.
"Selama kita bersama dan niat kita suci untuk melindungi sesama, kabut sekelam apa pun tak akan mampu memadamkan sinar kita, Tera," bisik Arka hangat, memberikan kekuatan batin yang mendalam bagi Tera. Suaranya begitu lembut, hampir tak lebih dari desiran angin, namun mengandung keteguhan baja yang mampu meredakan badai ketakutan di dalam dada gadis itu.
Tera menoleh, menatap wajah Arka yang terpahat samar di dalam temaram malam. Di dalam sorot mata pemuda itu, ia tidak menemukan secercah pun keraguan, melainkan sebuah keyakinan yang membara. Jantung Tera yang tadinya berdetak liar karena panik perlahan-lahan mulai melambat, menemukan kembali ritmenya yang teratur berkat kehangatan genggaman tangan Arka.
"Aku percaya padamu, Arka," jawab Tera dengan suara bergetar, namun terselip ketulusan yang mendalam. Ia membalas genggaman tangan itu, menyalurkan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya untuk saling menguatkan. "Tapi kau tahu betul risiko dari apa yang sedang kita lakukan ini. Jika kita gagal, bukan hanya nyawa kita yang melayang, melainkan seluruh desa di lembah timur akan musnah."
Arka mengangguk pelan, menyadari sepenuhnya taruhan besar di pundak mereka. Perjalanan panjang yang mereka tempuh bukanlah sekadar pelarian, melainkan sebuah misi suci untuk merebut kembali penawar racun abadi dari tangan faksi bayangan. Musuh kini tengah memburu mereka tanpa ampun, menyebar mata-mata ke setiap sudut hutan untuk memastikan tidak ada satu pun saksi hidup yang tersisa.
"Justru karena itulah kita tidak boleh menyerah di sini," ujar Arka menegaskan. Ia mengedarkan pandangannya ke luar semak, mengawasi keadaan sekitar dengan kewaspadaan penuh. Indera pendengarannya menangkap suara ranting patah di kejauhan—sebuah tanda bahwa pengejar mereka semakin mendekat. "Mereka mungkin memiliki jumlah yang lebih banyak dan racun yang mematikan, tetapi mereka tidak memiliki alasan yang benar untuk berjuang. Dan itu adalah keunggulan terbesar kita."
Tera menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sisa-sisa rasa lelah yang meremukkan persendiannya. Perjalanan mendaki tebing terjal sepanjang hari telah menguras sebagian besar staminanya. Luka gores di lengannya akibat terjatuh tadi sore mulai berdenyut nyeri, tetapi ia menahan diri untuk tidak mengeluh. Di situasi seperti ini, setiap suara sekecil apa pun bisa menjadi petunjuk bagi musuh.
"Apa rencana kita selanjutnya? Kabut beracun ini semakin pekat, dan jalur pendakian utama pasti sudah dijaga ketat oleh anak buah Jenderal Vanka," tanya Tera, matanya menatap tajam ke arah jalur setapak tersembunyi yang berada beberapa meter di depan mereka.
❖ ❖ ❖
Pertanyaan Tera menggantung di udara, bersaing dengan suara detak jantung mereka sendiri yang berkejaran dengan waktu. Arka tidak langsung menjawab; ia memejamkan matanya sejenak, meresapi arah angin dan membaca pola pergerakan kabut beracun yang mulai mendekati batas persembunyian mereka. Bau sengit racun itu kini sudah sangat dekat, membuat tenggorokan terasa kering dan perih setiap kali mereka menghirup udara.
"Jalur utama memang sudah tertutup mati," kata Arka akhirnya dengan nada rendah namun penuh perhitungan. "Tetapi kita masih memiliki satu jalur alternatif yang jarang diketahui orang. Jalur air tua di balik dinding tebing batu kapur itu."
Tera mengerutkan kening, mengingat-ingat peta kuno yang sempat mereka pelajari sebelum meninggalkan reruntuhan kuil tua. "Jalur air tua? Maksudmu terowongan bawah tanah yang tembus ke air terjun kembar? Bukankah tempat itu sangat berbahaya karena sering terjadi longsoran batu di musim dingin?"
"Risikonya memang tinggi, Tera. Tapi di situlah letak keuntungannya," jawab Arka sambil menatap mata gadis itu lekat-lekat. "Musuh tidak akan pernah menduga kita akan memilih jalan yang dianggap bunuh diri oleh orang-orang lokal. Mereka pasti berasumsi kita akan lari ke arah hutan dataran rendah."
Sebelum Tera sempat memberikan tanggapan, suara gemerisik daun yang semakin dekat menghentikan kata-kata di ujung lidahnya. Sontak, tubuh keduanya menegang. Arka dengan sigap menarik Tera lebih dekat ke balik rerimbunan akar pohon besar, merendahkan posisinya hingga hampir menyentuh tanah.
Tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi, sekelebat bayangan hitam muncul di balik kabut. Sosok itu mengenakan jubah gelap khas prajurit bayangan Vanka, lengkap dengan topeng besi bermotif seringai iblis. Di tangan kanannya, sebuah belati berlumuran cairan racun berkilat-kilat memantulkan cahaya bulan yang lemah. Prajurit itu berhenti tepat di depan semak tempat mereka bersembunyi, seolah-olah mencium bau kehadiran manusia di udara.
Napas Tera terasa tercekat. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan untuk meredam suara napasnya yang memburu. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, meluncur turun melewati pipi. Di sampingnya, Arka tetap tenang, meski otot-otot di seluruh tubuhnya sudah tegang bagaikan busur panah yang siap dilepaskan kapan saja. Jari tangan Arka perlahan meraba hulu pedang pendek yang terselip di pinggangnya, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika penyamaran mereka terbongkar.
Prajurit bayangan itu menoleh ke kiri dan ke kanan, memutar kepalanya dengan gerakan kaku yang mekanis. Ia mengangkat hidungnya, mengendus bau di sekeliling. Suara langkah kakinya yang berat berderak di atas tumpukan daun kering, begitu dekat hingga Tera merasa seolah-olah sepatu besi itu menginjak ujung kakinya sendiri.
Detik-detik berjalan terasa begitu lambat, bagaikan butiran pasir dalam jam pasir yang macet. Setiap detik terasa seperti keabadian. Di dalam keheningan malam yang mencekam itu, hanya ada suara detak jantung mereka yang bergemuruh keras di dalam dada, seolah bersaing dengan desau angin malam.
❖ ❖ ❖
Prajurit bayangan itu terdiam selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Ia mengangkat belatinya, mengarahkannya tepat ke arah semak tempat Arka dan Tera bersembunyi. Ujung belati yang meneteskan cairan hijau beracun itu hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Arka.
Tera memejamkan mata rapat-rapat, menyerahkan nasib mereka pada takdir. Ia merasakan hembusan napas prajurit itu bercampur dengan bau amis racun yang memuakkan. Di dalam hatinya, ia merapalkan doa terakhir, bukan karena takut mati, melainkan karena sedih membayangkan misi mulia mereka harus kandas di tengah jalan tanpa sempat menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah.
Namun, alih-alih menghujamkan belatinya, prajurit itu tiba-tiba menghentikan gerakannya ketika sebuah suara siulan melengking terdengar dari arah lembah bawah. Siulan itu adalah kode panggilan darurat dari kelompok penyergap lainnya. Sontak, prajurit tersebut menarik kembali belatinya, berbalik badan dengan gerakan cepat, dan melesat pergi menembus kabut malam, meninggalkan jejak langkah yang perlahan-lahan menghilang ditelan keheningan.
Arka menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang sempat mencengkeram tubuhnya. Ia segera menoleh kepada Tera, mendapati wajah gadis itu sangat pucat pasi dengan tubuh yang masih sedikit gemetar akibat sisa-sisa ketegangan yang luar biasa.
"Kau tidak apa-apa, Tera?" tanya Arka dengan suara penuh kecemasan. Ia mengulurkan tangan untuk merapikan helaian rambut Tera yang basah oleh keringat dan menempel di dahinya.
Tera membuka matanya perlahan, menatap Arka dengan senyuman tipis yang menyiratkan kelegaan luar biasa. "Aku baik-baik saja, Arka. Hanya... hampir saja jantungku copot tadi," akuhnya dengan nada setengah berbisik, mencoba mencairkan ketegangan yang masih menyelimuti udara di antara mereka.