Malam di Lembah Kabut Hitam tidak pernah menawarkan ketenangan, melainkan menyimpan ancaman yang merayap bersama embun beracun. Angin berhembus pelan, membawa desau dedaunan kering yang bergesekan bagaikan bisikan arwah penasaran. Di tengah kegelapan yang pekat, sebuah lentera tua memancarkan cahaya kekuningan yang redup, menerangi sebuah gubuk reyot tempat Arya dan Kirana beristirahat setelah perjalanan panjang yang melelahkan.
Arya duduk bersila di atas lantai kayu yang rapuh, mengatur napasnya untuk menyelaraskan tenaga dalam di dalam meridian tubuhnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Pertarungan sengit di gerbang perbatasan beberapa hari lalu masih menyisakan linu di dada kanannya. Di sudut ruangan, Kirana berdiri mematung menghadap jendela yang terbuka separuh, mengawasi kegelapan luar dengan tatapan tajam penuh kewaspadaan.
"Ada yang tidak beres, Arya," bisik Kirana lirih, suaranya hampir tak terdengar di antara desau angin malam.
Arya membuka matanya perlahan, menghela napas panjang sebelum menjawab, "Aku tahu. Sejak kita memasuki wilayah kekuasaan kelompok bayangan, hawa di sekitar kita terasa berat. Seolah ada sepasang mata tak kasat mata yang terus mengawasi setiap gerak-gerik kita."
"Bukan sekadar mengawasi," ucap Kirana sambil menoleh sekilas, matanya menyipit. "Aku mencium bau dupa kematian. Wangi cendana bercampur anyir darah. Itu adalah ciri khas dari para pembunuh bayaran tingkat atas yang langsung berada di bawah komando sang pimpinan tertinggi."
Arya bangkit berdiri, meraih pedang pusaka yang tersandar di dinding. Logam dingin itu memantulkan cahaya lentera yang temaram. "Iblis Bayangan Berwajah Seribu," sebut Arya pelan, menyebut nama yang membuat siapa pun di dunia persilatan merinding seketika. "Pimpinan tertinggi mereka. Sosok yang selama ini hanya dianggap sebagai mitos penakluk jiwa."
"Mitos atau bukan, malam ini dia nyata," balas Kirana seraya melangkah mendekati meja kayu tempat mereka meletakkan peta rute perjalanan. "Informasi yang kita dapatkan di desa sebelumnya tidak salah. Kelompok ini tidak hanya mengincar gulungan rahasia bela diri yang kita bawa, tetapi juga kepala kita."
Sebelum Arya sempat menanggapi ucapan Kirana, suasana di luar gubuk tiba-tiba berubah drastis. Desau angin yang tadinya konstan mendadak berhenti total. Kesunyian yang mencekam menggantikan deru alam, membuat detak jantung terasa begitu nyaring di dalam dada. Suara jangkrik dan serangga malam lenyap seketika, seolah-olah seluruh makhluk hidup di sekitar lembah itu memilih untuk bungkam demi menghindari murka sesuatu yang mengerikan.
"Mereka sudah datang," gumam Arya, mempererat genggamannya pada gagang pedang.
Kriet...
Pintu kayu gubuk berderit pelan tanpa ada angin yang mendorongnya. Sebuah bayangan hitam meluncur masuk dengan kecepatan kilat, begitu halus hingga nyaris tanpa suara. Bayangan itu berhenti tepat di tengah ruangan, berdiri tegak di bawah sorot cahaya lentera yang mulai bergetar hebat.
❖ ❖ ❖
Sosok yang berdiri di hadapan mereka bukanlah manusia biasa. Pria itu mengenakan jubah hitam legam yang bertepian sulaman benang perak berkilau redup. Wajahnya tertutup topeng setengah wajah bermotif wajah iblis bermata seribu, namun bagian mata topeng itu kosong, memancarkan kegelapan yang seolah mampu menyedot kesadaran siapa pun yang menatapnya terlalu lama.
"Kalian cukup berani, Pendekar Muda," suara sosok itu terdengar menggema, berlapis-lapis seolah diucapkan oleh ratusan orang secara bersamaan. "Menembus tiga pos penjagaan ketat dalam waktu kurang dari sepekan. Sayangnya, perjalanan kalian harus berakhir di sini."
Arya melangkah maju, menempatkan dirinya sedikit di depan Kirana sebagai perisai pelindung. "Iblis Bayangan Berwajah Seribu," seru Arya dengan nada suara yang sengaja dikeraskan untuk menutupi rasa gentar di hatinya. "Keluar juga kau dari sarang persembunyianmu. Berapa banyak nyawa tak berdosa lagi yang harus kau renggut demi ambisi sesatmu itu?"
Pria bertopeng itu tertawa kecil. Suaranya terdengar kering dan mengerikan, seperti gesekan batu nisan di kuburan tua. "Nyawa? Di dunia persilatan ini, nyawa hanyalah mata uang yang murah. Siapa yang memiliki kekuatan, dialah yang berhak menentukan hidup dan mati orang lain. Dan malam ini, aku datang untuk mencabut nyawa kalian berdua."
Kirana tidak tinggal diam. Ia mencabut sebilah belati kembar dari balik pinggangnya, memantulkan cahaya biru kehijauan dari bilah beracun tersebut. "Jangan sombong! Kau pikir dengan menyamar dan menebar teror dari balik bayangan, kau bisa merajai dunia persilatan selamanya? Kejahatanmu sudah terlalu banyak meninggalkan jejak!"
"Jejak?" Iblis Bayangan Berwajah Seribu mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya yang panjang tampak pucat pasi bagaikan mayat hidup. "Di dunia bayangan, tidak ada jejak. Yang ada hanya kehampaan. Dan sebentar lagi, kalian berdua akan menjadi bagian dari kehampaan itu."
Tanpa aba-aba, tubuh sosok itu tiba-tiba memudar. Bayangannya pecah menjadi puluhan pecahan yang melesat ke segala arah di dalam gubuk yang sempit itu. Kirana berteriak memperingatkan, sementara Arya langsung mengayunkan pedangnya membentuk lingkaran pelindung energi tenaga dalam.
Bum!
Ledakan tenaga dalam mengguncang gubuk reyot tersebut hingga dinding-dinding kayunya jebol berkeping-keping. Debu dan serpihan kayu beterbangan ke udara, menciptakan kekacauan visual yang luar biasa. Di tengah kepulan debu itu, bayangan-bayangan hitam berkelebat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menyerang dari sudut-sudut buta yang mustahil dijangkau oleh penglihatan normal.
❖ ❖ ❖
"Hati-hati, Kirana! Mereka semua palsu, tapi serangannya nyata!" seru Arya di tengah deru angin ribut yang diciptakan oleh jurus lawan.