SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Jebakan Udara Beracun di Benteng

Saat Arka dan rombongan menyusup ke dalam aula benteng kuno, pintu besi mendadak tertutup rapat dari luar. Dari celah-celah dinding batu, asap racun pekat berwarna biru tua disemprotkan masuk dengan cepat untuk melenyapkan mereka seketika.

Suara dentuman keras menggema di seluruh ruangan ketika daun pintu besi setebal sepuluh sentimeter itu membanting dirinya sendiri dengan kekuatan yang luar biasa. Arka, yang berdiri paling depan bersama Bagas, langsung melompat mundur untuk menghindari hantaman angin yang tercipta dari penutupan pintu tersebut. Napas mereka langsung tercekat saat benturan logam itu menciptakan getaran hebat di bawah lantai batu yang dingin dan lembap.

"Sial! Kita dikurung!" teriak Bagas dengan suara menggelegar, mencoba menahan kepanikan yang mulai merayap di antara kesepuluh sahabat yang kini terjebak di dalam ruangan seluas lapangan basket tersebut.

"Cari jalan keluar lain! Cepat!" seru Arka, matanya langsung memindai setiap sudut aula yang remang-remang, diterangi oleh pendar cahaya obor tua yang menempel di dinding batu berlumut.

Belum sempat siapa pun bergerak, suara desisan tajam terdengar dari balik dinding-dinding batu di sekeliling mereka. Dari celah-celah bebatuan kuno yang tersusun rapi namun rapuh itu, kepulan asap pekat berwarna biru tua mendadak menyembur keluar dengan tekanan tinggi. Asap itu bergulung-gulung dengan cepat, menyebarkan aroma tajam belerang bercampur amonia yang langsung membakar rongga hidung dan tenggorokan siapa pun yang menghirupnya.

"Tutup hidung kalian!" rintih Tera sambil langsung merobek kain kerudungnya untuk dijadikan masker tambahan, menutup hidung dan mulutnya rapat-rapat. "Asap ini... ini racun kimia murni!"

"Jangan panik, tetap bersama!" Arka berseru di tengah batuk kecil yang mulai menyerang dadanya. Ia meraba ranselnya, mencari kain buff cadangan yang tersimpan di dalam saku samping. Namun, kecepatan penyebaran asap biru tua itu jauh lebih cepat daripada perkiraan mereka. Dalam hitungan detik, lantai aula tertutup oleh kabut beracun setinggi lutut, merangkak naik dengan ganas menuju kepala mereka.

Rian dan Laras langsung terbatuk hebat, tubuh mereka membungkuk menahan perih yang luar biasa di bagian dada. "Arka, udaranya... aku tidak bisa bernapas!" jerit Laras di sela-sela batuknya, sementara air mata mengalir deras akibat iritasi gas tersebut pada matanya.

"Rebahan ke lantai! Posisi udara bersih biasanya ada di dekat tanah!" perintah Bagas dengan suara serak, langsung menjatuhkan dirinya ke atas lantai batu yang dingin, menarik Fajar dan Naya yang sudah lemas untuk ikut merendahkan tubuh.

Arka merangkak cepat di tengah kepulan asap biru yang semakin pekat, menghalangi pandangan hingga jarak satu meter pun nyaris tidak terlihat. Ia tahu persis bahwa berdiam diri di lantai hanya akan membeli sedikit waktu sebelum seluruh ruangan ini berubah menjadi kamar gas raksasa yang merenggut kesadaran mereka satu per satu. Tera bergerak di sampingnya, meraba dinding batu dengan tangan kosong, mencari celah mekanis atau tuas rahasia yang mungkin bisa membuka kembali pintu besi neraka tersebut.

❖ ❖ ❖

Asap biru tua itu kini telah mengepul setinggi dada orang dewasa, membuat siapa pun yang mencoba berdiri langsung tersedak dan kehilangan kesadaran seketika. Di sudut ruangan, Yoga terbatuk begitu keras hingga ia memuntahkan cairan bening, sebelum akhirnya tubuhnya merosot lemas ke atas tumpukan debu tebal.

"Yoga pingsan!" teriak Kirana histeris dari dekat dinding barat. Gadis itu mencoba menghampiri Yoga, namun gas beracun yang pekat membuatnya ikut terhuyung dan jatuh berlutut, napasnya memburu dengan ritme yang sangat mengkhawatirkan.

"Kirana, jangan bergerak ke sana sendirian!" seru Tera dengan suara tertahan oleh kain penutup wajahnya. Ia merangkak mendekati Kirana, menarik lengan gadis itu agar ikut merendah. "Kita harus bergerak bersama-sama menyusuri dinding. Pintu masuk tadi pasti memiliki mekanisme pembuka darurat di dekat kusennya."

Arka, yang berada di sisi lain ruangan, meraba setiap tonjolan batu kuno dengan jari-jarinya yang mulai mati rasa akibat udara dingin bercampur racun. Kepalanya terasa berdenyut nyeri, sebuah tanda bahwa kadar oksigen di dalam aula benteng ini sudah berada di ambang batas kritis. Setiap kali ia menarik napas, rasanya seperti menghirup serpihan kaca yang menyayat paru-parunya dari dalam.

"Bagas! Bagaimana keadaan di sebelah sana?" panggil Arka dengan suara parau yang nyaris hilang tertelan desisan gas dari dinding.

"Dinding di sini padat, Arka! Tidak ada celah sama sekali!" jawab Bagas dari balik kabut biru. Suaranya terdengar berat dan tersengal-sengal. Ia sedang berusaha memapah Yoga yang terkulai tidak berdaya, menyeret tubuh sahabatnya itu mendekati posisi Arka dan Tera.

"Kita tidak boleh menyerah di sini," ucap Arka penuh tekad, meskipun matanya sendiri mulai berkunang-kunang. Ia menatap ke arah pintu besi tempat mereka masuk tadi. Dari jarak beberapa meter, pintu itu tampak kokoh tanpa gagang di bagian dalam, seolah dirancang khusus untuk mengunci rapat siapa pun yang masuk tanpa izin. "Pasti ada tombol atau batu pengungkit. Arsitektur benteng kuno selalu menggunakan sistem penyeimbang gravitasi atau beban."

"Beban?" ulang Tera, matanya menangkap sesuatu di bagian bawah kusen pintu besi. Di sana, terdapat sebuah cekungan berbentuk lingkaran dengan ukiran tangan manusia purba yang dikelilingi simbol-simbol geometris yang aneh. "Arka, lihat ini! Di dekat lantai dekat pintu!"

Arka segera merangkak mendekati Tera, mengabaikan rasa terbakar yang luar biasa di dadanya. Dengan menggunakan senter kecil yang sinarnya sudah mulai meredup, ia menyorot cekungan batu tersebut. Ukiran itu tampak seperti cetakan telapak tangan manusia, yang di bagian tengahnya terdapat lubang kecil berbentuk segitiga.

"Ini bukan sekadar tuas mekanis," gumam Arka, mengamati ukiran tersebut dengan saksama di tengah desisan gas yang semakin bising. "Ini membutuhkan sesuatu yang lain... sesuatu yang hidup atau mungkin darah."

Lihat selengkapnya