SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Strategi Penembusan Tiga Lapis

Suara dentang alarm perunggu bergemuruh membelah malam di Benteng Bukit Besi, markas rahasia faksi pemberontak pimpinan Adipati Jagaraga. Di dalam aula utama yang luas dan berarsitektur batu hitam, udara mendadak berubah menyesakkan. Asap hijau pekat mulai merembes dari celah-celah lantai batu, membawa aroma belerang yang menyengat hidung serta siap merenggut kesadaran siapa saja yang menghirupnya dalam-dalam.

Kamil berdiri tegak di tengah ruangan, jubah panjangnya berkibar tertiup angin malam yang masuk dari ventilasi tinggi. Di sekelilingnya, puluhan prajurit elit faksi pemberontak terkapar lemas. Wajah mereka membiru, bibir mereka menghitam, dan napas mereka tersengal-sengal sebelum akhirnya terkulai kaku tanpa daya. Racun buatan Sekte Bayangan Merah itu bekerja dengan sangat cepat, melumpuhkan saraf pernapasan dalam hitungan detik tanpa pandang bulu.

"Kamil! Kita terjebak!" seru Fathan, seorang pendekar berbadan tegap dengan sebilah golok besar terselip di pinggangnya. Napas Fathan mulai memburu, dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia berusaha menahan batuk akibat kepulan asap beracun yang semakin pekat memenuhi ruangan. "Pintu utama telah dikunci dari luar dengan mekanisme hidrolik besi baja. Kita tidak bisa keluar, dan racun ini akan segera menghabisi kita semua di sini!"

Galin, pemuda cerdas yang merupakan ahli strategi kedua setelah Kamil, meraba dinding batu di sisi barat aula. Jemarinya meraba alur relief dinding yang terhubung langsung dengan sistem mekanik benteng. "Tidak hanya pintu utama, Fathan. Saluran udara utama juga telah ditutup oleh pasukan pengkhianat. Mereka sengaja ingin mengubur kita hidup-hidup di dalam benteng ini."

Suasana di dalam aula utama semakin mencekam. Jeritan tertahan dari para prajurit yang mulai kehilangan kesadaran menggema di antara dinding-dinding batu yang dingin. Di sudut ruangan, Azalia dan Risha—dua srikandi pemanah terbaik faksi—tengah bersandar pada pilar batu sambil menutupi hidung dan mulut mereka menggunakan kain basah. Tenaga mereka terkuras drastis akibat paparan racun gelombang pertama.

Namun, di tengah situasi kritis dan keputusasaan yang melanda sebagian besar orang di dalam ruangan itu, Kamil sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Tatapannya tajam, mengamati setiap detail ruangan, mulai dari struktur pintu besi utama hingga jajaran pipa-pipa penyalur asap yang melintang di langit-langit aula yang tinggi. Otaknya bekerja cepat merumuskan jalan keluar dari maut yang mengancam nyawa mereka.

"Tenangkan diri kalian," suara Kamil terdengar tenang namun tegas, memecah kepanikan yang hampir meruntuhkan mental para prajurit yang tersisa. "Kepanikan hanya akan mempercepat laju racun meresap ke dalam aliran darah kalian. Kita masih memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan, asalkan kita bergerak cepat dan terkoordinasi dengan sempurna."

Fathan menoleh, menatap Kamil dengan sorot mata penuh harap bercampur keraguan. "Apa yang harus kita lakukan, Kamil? Pintu itu tidak mungkin bisa dihancurkan dengan tenaga manusia biasa, dan pipa-pipa di langit-langit itu berada di luar jangkauan pedang kita!"

Kamil melangkah maju ke tengah ruangan, berdiri tepat di bawah jajaran pipa logam yang mendesis mengeluarkan asap beracun. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar semua orang mendengarkan instruksinya dengan seksama.

"Kita akan menggunakan strategi penembusan tiga lapis," ucap Kamil penuh keyakinan. "Fathan dan Galin, kalian berdua memiliki tenaga dalam terkuat di sini. Tugas kalian adalah menghantam pintu besi utama hingga jebol. Sementara itu, Azalia dan Risha, manfaatkan keahlian memanah kalian untuk menghancurkan pipa-pipa penyalur asap di langit-langit."

❖ ❖ ❖

Instruksi Kamil langsung disambut dengan keheningan sesaat sebelum para anggota inti mengangguk paham. Waktu yang tersisa sangat tipis; setiap detik yang terbuang berarti tambahan korban jiwa akibat racun yang terus mengalir masuk ke dalam ruangan.

Fathan mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melirik ke arah Galin, rekan seperjuangannya yang bertubuh lebih ramping namun memiliki kelincahan luar biasa dalam menyalurkan tenaga dalam berbasis elemen angin.

"Kau dengar perintah Kamil, Galin?" ujar Fathan dengan suara parau menahan sesak di dadanya. "Kita harus merubuhkan pintu besi tebal itu dalam waktu kurang dari tiga hantaman penuh. Jika gagal, paru-paru kita akan hancur terlebih dahulu sebelum sempat melihat cahaya matahari di luar."

Galin mengangguk mantap. Ia menarik napas panjang, lalu mengalirkan energi tenaga dalamnya ke kedua telapak tangannya. "Aku siap, Fathan. Mari kita buktikan apakah besi buatan musuh itu lebih kuat daripada tekad kita."

Keduanya segera berlari menuju ujung timur aula, tempat di mana pintu besi utama setinggi empat meter berdiri kokoh menutup jalan keluar. Pintu itu benar-benar masif, terbuat dari lempakaran baja hitam tebal yang dilengkapi dengan sistem kunci putar raksasa di bagian tengahnya. Di balik pintu tersebut, terdengar samar-samar suara tawa ejekan dari para prajurit pengkhianat yang berjaga di luar.

"Rasakan itu para pemberontak bodoh!" teriak suara dari balik pintu besi. "Benteng Bukit Besi adalah kuburan kalian malam ini!"

Fathan mendengus geram mendengar ejekan tersebut. Ia memasang kuda-kuda kokoh, merendahkan tubuhnya, dan memusatkan seluruh tenaga dalamnya ke bagian dada dan kedua lengannya. Urat-urat di lehernya menonjol keluar, menandakan betapa besar energi yang ia kerahkan saat ini.

"Sekarang, Galin!" bentak Fathan.

Keduanya melompat bersamaan, melancarkan jurus gabungan Benturan Gunung Kembar. Fathan menghantamkan kepalan tangan kanannya langsung ke tengah daun pintu besi, sementara Galin mengirimkan gelombang kejut tenaga dalam angin tepat di titik sambungan engsel baja.

BARRR!

Sebuah ledakan suara dentuman keras menggema ke seluruh penjuru aula. Getaran dahsyat itu membuat debu berjatuhan dari langit-langit. Pintu besi utama berderit nyaring, dan sebuah penyok besar sedalam satu jengkar terbentuk di bagian tengahnya. Namun, pintu itu belum juga jebol sepenuhnya; struktur baja tebal tersebut masih mampu menahan hantaman awal mereka.

"Sial, keras sekali!" desis Fathan sambil melangkah mundur, batuk kecil mengeluarkan sedikit darah segar akibat pantulan tenaga dalam yang cukup besar kembali menghantam tubuhnya.

"Jangan beri mereka kesempatan bernapas!" seru Galin memperingatkan. "Kita harus lakukan hantaman kedua dengan tenaga penuh!"

Di sisi lain ruangan, Azalia dan Risha tengah menghadapi tantangan yang tidak kalah berat. Mereka berdua berdiri berdampingan di bawah deretan pipa logam besar yang terus menerus menyemburkan gas beracun kehitaman. Pandangan keduanya mulai sedikit kabur, namun ketajaman mata batin mereka sebagai pemanah ulung tidak pernah luntur.

"Risha, apakah busurmu sudah siap?" tanya Azalia sambil mengangkat busur panjang berlapis perak miliknya. Tangannya sedikit gemetar, efek awal dari racun yang mulai menembus pertahanan kain basah di wajah mereka.

Risha menarik tali busurnya hingga melengkung sempurna, menempatkan anak panah khusus berujung wadah peledak kecil di depannya. "Selalu siap, Azalia. Mari kita ubah arah angin ini kembali kepada mereka."

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam aula semakin menegang. Kabut hijau beracun kini telah mencapai ketinggian dada orang dewasa, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menelan serpihan kaca yang membakar kerongkongan.

Azalia dan Risha mengangkat busur mereka tinggi-tinggi, membidik deretan pipa penyalur asap yang melintang silang di langit-langit aula. Pipa-pipa tersebut terbuat dari tembaga tebal yang dirancang untuk mengalirkan tekanan gas beracun secara terpusat ke seluruh ruangan benteng.

"Bidik titik sambungan las di bagian tengah pipa utama!" teriak Kamil dari tengah ruangan sambil mengawasi pergerakan mereka. "Hancurkan sambungan itu agar tekanan gas berbalik arah!"

Azalia menarik napas dalam-dalam, mengabaikan rasa perih di dadanya akibat racun. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan arah hembusan angin kecil yang tercipta dari kebocoran pipa tersebut, lalu melepaskan anak panahnya dengan kecepatan kilat.

Syuuuung!

Anak panah perak melesat bagai kilatan bintang jatuh di tengah kegelapan aula, menembus kepulan asap hijau yang pekat.

Teng!

Anak panah itu menghantam tepat di titik sambungan las pipa tembaga utama. Wadah peledak kecil di ujung panah meledak seketika, meretakkan dinding pipa tersebut dan menciptakan lubang selebar kepalan tangan manusia.

Lihat selengkapnya