Suasana di dalam aula utama benteng pertahanan terakhir kini telah berubah menjadi arena maut yang dipenuhi kepulan asap hitam pekat. Bau belerang yang menyengat bercampur dengan aroma anyir darah menguar di setiap sudut ruangan, membuat siapa pun yang menghirupnya akan merasa pusing seketika dan kehilangan kesadaran dalam hitungan detik. Di tengah kekacauan itu, Risha berdiri tegap dengan busur panah bersinar di tangan kanannya, sementara sisa-sisa tenaga dalamnya bergejolak hebat di dalam dada.
"Risha, awas dari sana!" teriak Rian memperingatkan sambil menangkis serangan mendadak dari bayangan musuh yang melompat dari arah pilar batu.
Risha tidak membuang waktu sedetik pun untuk menoleh. Matanya yang tajam memicing, mengunci titik terlemah pada struktur dinding batu tebal di sisi barat aula. Tanpa ragu, ia menarik tali busurnya hingga melengkung sempurna, menciptakan panah energi murni yang berpendar terang menyilaukan mata. Suara dengungan energi yang pekat bergetar hebat di udara sebelum anak panah tersebut melesat bagai kilat menyambar sasaran.
BARRR!
Ledakan dahsyat tercipta saat panah Risha menghantam dinding batu kuno tersebut. Bongkahan batu besar runtuh berhamburan, menciptakan lubang besar yang menganga lebar dan langsung menembus ke udara luar benteng. Namun, lubang itu belum cukup untuk membersihkan racun pekat yang terus mengepul dari berbagai sudut ruangan. Kabut hitam beracun itu justru bergerak semakin agresif, menggeliat hidup bagai ribuan ular tak kasat mata yang siap merenggut nyawa siapa saja yang terjebak di dalamnya.
Di tengah situasi yang semakin mendesak dan nyaris merenggut harapan, Tera melangkah maju ke garis depan. Gadis itu mengenakan jubah putih bersih yang berkibar lembut ditiup angin malam, kontras dengan kekacauan kelam yang melingkupi seluruh ruangan aula. Wajahnya tampak sangat tenang, memancarkan aura kedamaian dan keteguhan hati yang luar biasa di tengah badai keputusasaan yang melanda para pejuang lainnya.
"Jangan biarkan racun itu menyentuh tanah!" seru Rian di antara desau napasnya yang berat, berusaha keras mempertahankan keseimbangannya setelah bertarung sengit melawan prajurit bayangan musuh.
Tera menarik napas dalam-dalam, memejamkan kedua matanya sejenak untuk menyelaraskan detak jantungnya dengan aliran energi alam semesta. Di telapak tangannya, sehelai selendang sutra putih berkilau lembut, memancarkan pendar cahaya suci yang hangat. Kain sutra itu bukanlah kain biasa, melainkan pusaka leluhur yang telah ditempa dengan tenaga dalam tingkat tinggi selama bertahun-tahun di kuil suci pegunungan tinggi.
"Aku akan membuka jalan," bisik Tera pelan namun tegas, cukup jelas untuk didengar oleh rekan-rekannya di tengah deru angin malam yang menderu kencang memasuki lubang dinding runtuh.
❖ ❖ ❖
Tera melompat anggun ke tengah ruangan, gerakannya begitu ringan bagai selembar bulu yang melayang di atas hembusan angin malam. Dengan mengalirkan tenaga dalam yang suci dan murni ke seluruh penjuru tubuhnya, ia mulai memutar selendang putihnya dengan kecepatan tinggi, menciptakan pusaran angin kencang bagai kelopak bunga teratai yang sedang mekar di tengah badai.
"Perhatikan gerakannya," bisik Risha takjub pada Rian, seraya menurunkan busurnya sejenak demi menyaksikan teknik tingkat tinggi yang sedang dikerahkan oleh sahabat mereka.
Pusaran angin putih yang diciptakan Tera berputar semakin cepat, menghasilkan dengungan harmonis yang beresonansi langsung dengan dinding-dinding batu aula. Udara suci yang murni itu mendesak kabut hitam beracun untuk mundur perlahan, tidak berani mendekati lingkaran suci yang melingkupi tubuh sang gadis. Setiap kibasan selendang putih tersebut memancarkan pendar cahaya keperakan yang membakar partikel-partikel racun jahat di udara hingga berubah menjadi uap tak berdaya.
"Jangan biarkan mereka menutup celah itu!" seru Rian, kembali mengangkat pedangnya untuk menahan gelombang musuh yang mencoba mendekati posisi Tera.
Tera membuka matanya lebar-lebar. Sorot matanya memancarkan ketetapan hati yang membara. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya, memutar selendang putihnya dengan sudut yang lebih tajam ke arah lubang dinding yang telah dijebol oleh panah Risha sebelumnya. Pusaran angin kencang itu kini berubah fungsi menjadi corong raksasa yang menyedot seluruh udara kotor dan kabut beracun di dalam aula.
Whoooosh!
Tekanan udara yang luar biasa kuat tercipta di dalam ruangan. Pusaran tersebut dengan sukses menghempaskan kabut beracun keluar melalui celah dinding yang telah dirusak oleh panah Risha. Dalam hitungan detik, udara di dalam aula kembali jernih, memungkinkan para pejuang yang hampir pingsan untuk kembali menarik napas dengan lega.
"Kerja bagus, Tera!" puji Rian sambil melayangkan tebasan angin pedang untuk merobohkan dua prajurit bayangan yang mencoba menyusup dari sisi kanan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari balik kegelapan lorong utama benteng, suara tawa dingin yang menggelegar tiba-tiba bergema memecah keheningan. Suara itu terdengar sangat mengerikan, seolah datang dari dasar jurang kematian yang paling dalam, membuat bulu kuduk setiap orang yang mendengarnya meremang seketika.
"Kalian pikir kalian bisa mengusir kabutku begitu saja?" sebuah suara berat menyindir tajam dari kegelapan lorong.
Sosok bertopeng besi dengan jubah hitam legam melangkah keluar perlahan-lahan. Di tangannya, sebuah kendi kecil berukir tengkorak memancarkan cahaya ungu redup, menandakan bahwa sumber racun utama masih berada di tangan musuh yang paling berbahaya.
❖ ❖ ❖
Sosok bertopeng besi itu berhenti di tengah reruntuhan aula, matanya yang tajam mengawasi Tera, Risha, dan Rian dengan tatapan merendahkan. Di belakangnya, puluhan prajurit bayangan berzirah hitam kembali merapatkan barisan, siap menerjang kapan saja perintah diberikan oleh pemimpin mereka.
"Kalian telah memperpanjang umur kalian beberapa menit lebih lama dari yang seharusnya," kata sang pemimpin bertopeng besi dengan suara serak yang memekakkan telinga. "Tapi pertahanan rapuh ini tidak akan bisa menahan kekuatan malam yang sesungguhnya."
"Siapa sebenarnya kau?!" bentak Risha, kembali mengangkat busurnya dan mengarahkan anak panah tepat ke arah dahi sang musuh. "Untuk apa kau menyebarkan racun keji ini ke seluruh tanah Parahyangan?"