SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Pengkhianatan di Balik Nama Besar

Aula utama Benteng Baja Biru bergema oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Lampu-lampu obor di dinding batu memantulkan bayangan panjang yang menari-nari di atas lantai marmer dingin. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar dipenuhi dengan gulungan peta pertempuran, laporan logistik, serta kantong-kantong kecil berisi sisa racun yang berhasil diamankan dari perbatasan lembah barat. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu tegang, seolah udara pun membeku di bawah tekanan beban pikiran para petinggi persilatan.

Kamil berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman benteng, tatapannya kosong menerobos kegelapan malam. Di sampingnya, Jenderal Barata menyilangkan tangan di dada, wajahnya yang penuh bekas luka tampak mengeras menahan amarah yang telah lama membara. Sementara itu, di seberang meja, beberapa pemimpin kabilah duduk dengan gelisah, berbisik-bisik mengenai wabah Racun Teratai Salju yang telah merenggut ratusan nyawa prajurit tak berdosa dalam beberapa pekan terakhir.

"Kita telah salah menduga musuh," suara Kamil memecah keheningan, terdengar begitu tenang namun sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Selama ini kita mengira Perkumpulan Bayangan Beracun bergerak sendiri tanpa dukungan logistik dari dalam. Kita mengira mereka hanya sekelompok pembunuh bayaran yang beroperasi dari gua-gua tersembunyi di pegunungan utara."

Jenderal Barata mendengus kasar, mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kenyataannya jauh lebih menjijikkan dari apa yang kita bayangkan, Kamil. Musuh terbesar kita bukanlah mereka yang bersembunyi di balik topeng hitam, melainkan musuh dalam selimut yang mengenakan jubah kehormatan dan dihormati oleh ribuan orang."

"Apakah utusan dari Lembah Sutra sudah tiba?" tanya seorang tetua kabilah berjanggut putih dari sudut ruangan, suaranya bergetar karena cemas.

"Belum," jawab suara tegas dari ambang pintu.

Rafar melangkah masuk ke dalam aula, membawa sebuah kotak kayu berukir naga yang terkunci rapat. Di belakangnya, Yafid mengikuti dengan membawa setumpuk dokumen transaksi keuangan yang disita dari pos perdagangan rahasia di distrik timur. Keduanya tampak kelelahan, pakaian mereka berdebu, menandakan baru saja menyelesaikan perjalanan panjang yang berbahaya demi mengumpulkan bukti-bukti autentik tersebut.

"Tetapi apa yang kami temukan di distrik perdagangan jauh lebih mengejutkan daripada yang kalian bayangkan," kata Rafar sambil meletakkan kotak kayu itu di atas meja marmer dengan bunyi gedebuk yang tertahan. Ia membuka kunci kotak tersebut menggunakan anak kunci kecil dari sisa penggeledahan.

Yafid membentangkan lembaran-lembaran kertas tebal di hadapan para petinggi benteng. Kertas-kertas itu berisi catatan cap stempel resmi, tanda tangan rahasia, serta daftar pengiriman bahan-bahan herbal langka yang hanya bisa diperoleh dari dataran tinggi salju abadi.

"Bahan utama untuk meracik Racun Teratai Salju tidak mungkin bisa diselundupkan melewati pos penjagaan perbatasan tanpa izin khusus," ujar Yafid menjelaskan sambil menunjuk cap stempel berlambang bunga seruni emas pada dokumen tersebut. "Dan satu-satunya orang di seluruh wilayah timur yang memiliki wewenang penuh untuk meloloskan karavan dagang sebesar itu tanpa pemeriksaan adalah Tetua Buana."

Nama itu meluncur keluar bagaikan sambaran petir di siang bolong. Seluruh isi aula mendadak terdiam seribu bahasa. Wajah para pemimpin kabilah berubah pucat pasi. Tetua Buana bukan sekadar tokoh biasa; ia adalah salah satu sesepuh persilatan paling dihormati, seorang dermawan tua yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penolong warga miskin dan penyandang dana utama bagi para korban perang di wilayah perbatasan.

"Kau tidak sedang salah menyebutkan nama, anak muda?" bentak salah satu pemimpin kabilah dengan nada tidak percaya, matanya melotot menatap Yafid. "Tetua Buana mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemanusiaan! Beliau membangun posko-posko pengobatan gratis di setiap desa yang terserang wabah!"

"Justru di situlah letak tipu muslihatnya yang paling jenius," balas Kamil dingin, berbalik dari jendela dan menatap tajam para pemimpin kabilah satu persatu. "Beliau menciptakan penyakitnya dengan tangan sendiri, lalu menjual obat penawarnya dengan harga yang tidak masuk akal kepada mereka yang putus asa."

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam aula mendadak riuh rendah. Perdebatan sengit meletus antara mereka yang masih mempercayai integritas Tetua Buana dengan kelompok Kamil yang memegang bukti-bukti tak terbantahkan. Suara benturan telapak tangan di atas meja dan seruan protes menggema di setiap sudut ruangan batu tersebut.

"Ini adalah fitnah keji!" seru seorang pendekar bertubuh tegap dari faksi pedang utara, berdiri dari kursinya sambil menghunus setengah pedangnya. "Tetua Buana adalah pahlawan yang menyelamatkan keluargaku saat wabah melanda desa kami tahun lalu! Berani sekali kalian menuduhnya sebagai pengkhianat tanpa dasar yang kuat!"

"Tenangkan dirimu, Pendekar Han," Jenderal Barata membentak dengan suara menggelegar yang langsung meredam keributan di dalam ruangan. Ia berdiri tegak, memandang tajam ke arah pendekar tersebut. "Kami tidak sedang melontarkan tuduhan kosong. Dokumen-dokumen ini disita langsung dari brankas rahasia di kediaman pribadinya di bukit sebelah utara, tempat di mana transaksi gelap dilakukan."

Rafar maju ke depan, membuka halaman demi halaman dari buku besar catatan keuangan yang dibawanya. Ia menunjuk deretan angka dan stempel cap lilin merah yang tercetak jelas di atas kertas tua.

"Perhatikan catatan ini," kata Rafar dengan nada datar namun penuh penekanan. "Setiap kali wabah Racun Teratai Salju menyebar di suatu wilayah, pasokan obat penawar dari gudang Tetua Buana selalu datang tepat tiga hari kemudian dengan harga jual sepuluh kali lipat dari harga normal. Warga yang tidak mampu membayar harus menyerahkan tanah, rumah, atau bahkan anak-anak mereka sebagai jaminan utang."

Yafid menambahkan penjelasan dengan memperlihatkan sebuah kantong kecil berisi serbuk putih yang ditemukan di dalam kotak kayu berukir. "Dan serbuk ini adalah residu murni dari getah bunga teratai salju yang dicampur dengan racun kelabang tanah. Kami menemukan formula peracikan ini tertulis langsung di atas meja kerja pribadi Tetua Buana, lengkap dengan stempel pribadinya."

Bukti-bukti fisik yang begitu telak membuat ruangan kembali terdiam. Pendekar Han perlahan-lahan duduk kembali ke kursinya, wajahnya menyiratkan keterkejutan yang mendalam. Kepercayaan yang telah dibangun selama puluhan tahun runtuh seketika dalam waktu beberapa menit saja.

"Tetapi... apa motif sebenarnya?" tanya seorang wanita paruh baya dari faksi tabib istana dengan suara gemetar. "Beliau sudah memiliki kekayaan yang melimpah dan pengaruh yang sangat besar di dunia persilatan. Untuk apa beliau melakukan hal sekeji ini?"

Kamil menarik napas panjang, melangkah mendekati meja bundar tempat peta wilayah dibentangkan. "Kekuasaan dan ambisi tidak pernah mengenal kata cukup. Tetua Buana tidak hanya ingin menjadi orang paling berpengaruh di dunia persilatan; beliau ingin memonopoli seluruh jalur perdagangan obat-obatan di sembilan provinsi. Dengan menciptakan krisis kesehatan buatan, beliau bisa mengendalikan harga pasar, memperbudak kabilah-kabilah kecil, dan mendanai pasukan bayaran pribadi untuk menyingkirkan siapa saja yang mencoba menghalangi jalannya."

"Jika berita ini sampai bocor ke telinga rakyat jelata sebelum kita siap, akan terjadi kekacauan besar," ucap Jenderal Barata dengan nada prihatin. "Ribuan orang yang selama ini menganggapnya sebagai dewa penyelamat akan kehilangan arah, dan situasi ini bisa dimanfaatkan oleh musuh dari luar untuk menyerang benteng kita."

"Itulah sebabnya kita tidak bisa bergerak secara terbuka," sahut Kamil mantap. "Kita harus menjebaknya di sarangnya sendiri, memaksa pengkhianat itu mengakui kejahatannya di hadapan para tokoh persilatan tanpa memberikan kesempatan baginya untuk melarikan diri atau memutarbalikkan fakta."

Namun, sebelum mereka sempat merumuskan strategi penangkapan lebih lanjut, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang luar benteng, disusul oleh derap langkah pasukan pengawal yang berteriak panik di koridor luar aula.

❖ ❖ ❖

Pintu kayu besar aula utama terdorong terbuka dengan kasar. Seorang perwira pengawal benteng berlari masuk dengan napas tersengal-sengal, seragam perangnya tampak compang-camping dan berlumuran darah segar di bagian bahu kiri.

"Jenderal! Darurat!" teriak perwira itu sambil menjatuhkan diri dengan satu lutut di lantai marmer. "Pos pengamanan gerbang utara diserang secara mendadak oleh kelompok bertopeng hitam! Mereka menggunakan racun jenis baru yang melumpuhkan para penjaga seketika!"

Seluruh orang di dalam aula langsung berdiri dari kursi mereka. Jenderal Barata menghunus pedangnya dari sarung dengan gerakan cepat, matanya menyipit penuh kewaspadaan. "Berapa banyak penyerang yang datang?"

"Jumlahnya tidak terlalu banyak, Jenderal, tetapi mereka bergerak sangat terorganisir dan langsung menuju ke arah paviliun penyimpanan dokumen rahasia!" jawab perwira itu dengan suara gemetar.

Kamil menyipitkan mata, otaknya langsung berputar cepat merangkai pola serangan tersebut. "Ini bukan serangan acak," ucapnya tegas. "Mereka tahu persis bahwa kita baru saja mengamankan bukti-bukti keterlibatan Tetua Buana. Serangan ini adalah upaya pengalihan sekaligus pembersihan jejak agar dokumen-dokumen penting itu tidak sampai jatuh ke tangan yang salah."

Lihat selengkapnya