Udara di dalam gua tersembunyi itu terasa pekat, berbau belerang dan logam tua yang menusuk hidung. Zahra dan Chafia bergerak sangat hati-hati, memastikan setiap langkah sepatu kain mereka tidak menimbulkan bunyi di atas lantai batu kapur yang licin. Di hadapan mereka, sebuah kawah buatan yang amat besar membentang luas, memancarkan cahaya ungu kemerahan dari cairan kental yang mendidih perlahan. Itulah jantung dari seluruh malapetaka yang mengancam tanah ini—kawah penyimpanan zat racun murni buatan kelompok musuh.
Zahra merapatkan kain penutup hidungnya, matanya menyipit menatap cairan beracun yang mengeluarkan gelembung-gelembung gas beracun ke udara. "Kau lihat itu, Chafia? Konsentrasi racun di dalam kawah ini jauh lebih pekat daripada perkiraan kita sebelumnya. Jika cairan ini sampai disebarkan ke saluran air utama kota-kota besar melalui sistem irigasi bawah tanah, jutaan nyawa rakyat tak berdosa akan melayang dalam hitungan jam."
Chafia mengangguk pelan, jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit khusus meraba kantong kain tebal yang tergantung di pinggangnya. "Aku tahu betul ancamannya, Zahra. Formula racun ini diracik dari getah pohon iblis yang hanya tumbuh di Lembah Tengkorak. Tapi mereka lupa satu hal: setiap racun paling mematikan di dunia ini pasti memiliki penawar alaminya sendiri yang tumbuh tidak jauh dari tempat asalnya."
"Dan kita membawa penawar agung itu," sambung Zahra dengan nada penuh keyakinan, mengeluarkan sebuah tabung bambu kecil berisi serbuk keemasan yang berkilau lembut ketika terkena pantulan cahaya ungu kawah. "Air Danau Suci yang telah dicampur dengan ekstrak Bunga Matahari Malam. Formula ini akan memicu reaksi kimia berantai untuk menetralkan sifat asam racun tersebut tanpa menimbulkan ledakan yang bisa menarik perhatian para penjaga."
"Kita tidak punya banyak waktu," Chafia mengedarkan pandangannya ke lorong gelap di sekeliling gua. "Regu patroli musuh biasanya berputar setiap lima belas menit sekali. Kita harus menyelesaikan pencampuran ini sebelum mereka menyadari ada anomali suhu di dalam kawah."
Zahra menarik napas panjang, menenangkan debar di dadanya. "Mari kita mulai sekarang. Ingat, sesuaikan takarannya dengan presisi tinggi. Sedikit saja keliru, racun ini bisa berubah menjadi gas beracun mematikan yang akan meracuni diri kita sendiri."
Kedua wanita tangguh itu segera bergerak dalam sinkronisasi sempurna. Chafia membuka tutup tabung bambu besar, sementara Zahra membaca doa pembersih racun dalam hati, bersiap menghadapi tugas paling berbahaya sepanjang perjalanan hidup mereka.
❖ ❖ ❖
Suasana tegang mendadak bertambah mencekam ketika suara derap sepatu bot berat terdengar menggema dari ujung lorong sebelah barat. Zahra dan Chafia sontak menghentikan gerakan mereka, merendahkan tubuh di balik dinding batu besar yang menutupi separuh kawah.
"Dengar itu?" bisik Chafia dengan suara setipis hembusan angin, matanya tajam menatap bayangan obor yang mulai memantul di dinding lorong. "Patroli musuh datang lebih cepat dari jadwal biasanya. Sepertinya mereka mencurigai penurunan tekanan uap di ruang kawah ini."
"Jangan panik," jawab Zahra setenang mungkin, meskipun bulu kuduknya meremang merasakan hawa membunuh yang mendekat. "Mereka belum masuk ke area utama. Kita masih punya waktu beberapa detik sebelum mereka melewati tikungan."
"Jika kita tertangkap basah di sini, seluruh misi penyucian ini akan gagal total," balas Chafia, tangannya perlahan meraba gagang belati obat di balik jubahnya, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika penyamaran mereka terbongkar.
Dari balik dinding pembatas, suara percakapan kasar para prajurit musuh mulai terdengar jelas.
"Hei, cepatlah periksa katup tekanan di dekat kawah utama!" bentak seorang perwira pengawas dengan suara serak. "Panglima besar curiga ada penurunan suhu yang tidak wajar di sektor ini. Jangan sampai ada sabotase dari mata-mata musuh!"
"Siap, Komandan!" jawab dua orang prajurit bawahan serempak, langkah kaki mereka semakin mendekati tempat Zahra dan Chafia bersembunyi.
Zahra melirik Chafia, memberikan isyarat dengan kedipan mata untuk bersiap menahan napas. Bau keringat dan mesiu dari tubuh para prajurit itu kini sudah tercium jelas di hidung mereka. Jarak antara tempat persembunyian dan para penjaga itu tidak lebih dari tiga langkah saja.
"Cium bau aneh ini?" bisik salah seorang prajurit musuh tiba-tiba, menghentikan langkahnya tepat di sebelah batu besar tempat Zahra dan Chafia berjongkok. "Seperti aroma wangi bunga yang tidak seharusnya ada di gua beracun ini."