Malam di Lembah Bayangan tidak pernah benar-benar sunyi. Tempat itu selalu bernapas dengan desau angin yang membawa sisa-sisa hawa dingin dari celah-celah tebing curam, berpadu dengan kabut tipis yang merayap di atas tanah berbatu. Di pelataran luas yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu hitam alami, puluhan obor menyala membara, melemparkan cahaya merah kekuningan yang menari-nari di atas bilah-bilah pedang yang terhunus.
Arka berdiri di barisan terdepan, jubah putihnya sedikit berkibar diterpa angin malam yang berembus kencang. Tatapannya tajam menembus kegelapan, mengawasi setiap gerak-gerik di seberang pelataran tempat musuh bersiaga. Di belakangnya, sembilan pendekar dari Perguruan Teratai Putih berdiri rapat dalam formasi pertahanan ganda, siap siaga menghadapi badai kematian yang sebentar lagi akan menerjang.
"Mereka sudah menutup seluruh jalur mundur di belakang kita," bisik Maya pelan, tangannya yang menggenggam gagang pedang pendek tidak sedikit pun bergetar, meski ketegangan di udara begitu pekat hingga terasa mencekat tenggorokan. "Jumlah mereka hampir tiga kali lipat dari perkiraan awal kita, Arka. Pasukan Iblis Bayangan tampaknya tidak berniat membiarkan satupun dari kita keluar dari lembah ini hidup-hidup."
Arka melirik Maya sekilas, lalu mengangguk kecil. "Kita tidak datang ke sini untuk mencari jalan mundur, Maya. Lembah ini adalah kuburan bagi kejahatan mereka, atau sebaliknya."
Suara tawa melengking tiba-tiba memecah keheningan malam, bergema pantul memantul di dinding-dinding batu lembah, menciptakan efek suara yang menyesakkan dada. Dari balik kabut tebal di ujung pelataran, sesosok bertubuh tinggi besar dengan topeng besi berukir wajah singa bermata merah melangkah keluar, diikuti oleh ratusan anak buah berpakaian serba hitam yang memegang trisula dan golok bermata dua.
"Arka! Bodoh sekali kau karena berjalan sukarela masuk ke dalam kandang macan!" suara pemimpin Iblis Bayangan itu menggelegar, penuh ejekan dan keangkuhan. "Hari ini, darah sepuluh pendekar Teratai akan membasahi batu-batu lembah ini, dan nama perguruanmu akan lenyap untuk selamanya dari muka bumi!"
"Kesombongan adalah pakaian terakhir orang yang hampir mati," balas Arka dengan suara tenang namun tegas, suaranya meluncur membawa tenaga dalam yang cukup kuat untuk meredam gaung tawa musuh. "Kalian telah menebar teror dan kehancuran terlalu lama di tanah ini. Malam ini, perbuatan kalian harus dibayar lunas."
Tanpa menunggu aba-aba susulan, pemimpin Iblis Bayangan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya ke depan dengan gerakan menyentak yang kejam.
"Serang! Bunuh tanpa ampun!" teriaknya menggema.
Anak buah Iblis Bayangan bertempur gila-gilaan, menyerbu ke depan bagaikan air bah yang hitam dan kelam, siap melumat siapa saja yang menghalangi jalan mereka.
❖ ❖ ❖
Benturan pertama antara kedua belah pihak terjadi dengan suara dentingan logam yang memekakkan telinga. Gelombang serangan musuh begitu liar dan tidak kenal ampun, mengandalkan kekuatan fisik yang brutal serta gerakan silat aliran sesat yang mengabaikan keselamatan diri sendiri demi melukai lawan.
"Tahan formasi!" seru Dimas lantang dari sayap kiri, pedangnya berputar cepat menangkis terjangan tiga orang pengeroyok sekaligus yang datang bersamaan.
Meskipun anak buah Iblis Bayangan bertempur dengan membabi buta, gabungan ilmu silat dan kekompakan sepuluh pendekar Teratai mampu menghancurkan barisan pertahanan musuh satu per satu secara sistematis. Mereka tidak bertarung secara terpisah, melainkan bergerak dalam satu kesatuan irama yang saling mengisi dan melindungi punggung rekan di sebelah mereka.
Santi dan Rian, dua pendekar termuda di barisan itu, berputar lincah bagai sepasang burung rajawali, menghindari tebasan golok berat lawan sebelum melancarkan tusukan balik yang akurat ke titik-titik vital musuh. Setiap gerakan mereka didasari oleh prinsip kelembutan menundukkan kekuatan keras, ciri khas dari inti ajaran Perguruan Teratai Putih.
"Jangan biarkan mereka memecah lingkaran kita!" pekik Maya di sisi lain, saat melihat beberapa musuh berusaha menerobos celah tipis di antara barisan mereka. Maya melompat tinggi, kakinya berkelebat menendang dada dua penyerang hingga terpental ke belakang, menabrak batu karang dengan suara benturan yang keras.
Arka sendiri bergerak bagai bayangan putih di tengah pusaran pertempuran. Pedangnya tidak banyak mencurahkan darah secara kejam, melainkan melumpuhkan urat sendi dan titik tenaga dalam lawan dengan presisi tinggi. Setiap kali ia mengayunkan pedangnya, selalu ada satu atau dua musuh yang tersungkur lemas ke atas tanah tanpa nyawa melayang sia-sia, menunjukkan tingkat penguasaan ilmu pedang tingkat tinggi yang telah menyatu dengan jiwa pemakainya.
Namun, tekanan dari pihak musuh semakin lama semakin besar. Jumlah mereka yang terlalu banyak membuat para pendekar Teratai mulai merasakan kelelahan fisik akibat harus terus-menerus meladeni serangan tanpa henti.