SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Bidikan Panah Ganda

Malam di benteng pertahanan terakhir Lembah Sunyi merangkak dalam keheningan yang menyesakkan dada. Langit tertutup awan kelabu yang tebal, menghalangi cahaya bulan untuk menyinari bumi. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma debu dan sisa-sisa bau mesiu yang menyengat indra penciuman siapa pun yang berada di sekitar pelataran utama benteng. Suasana tegang ini bukan tanpa alasan, sebab pasukan musuh yang dipimpin oleh para petinggi Pasukan Bayangan baru saja menghancurkan gerbang lapis kedua. Para prajurit perbatasan bergelimpangan, sementara sisa-sisa kekuatan pertahanan harus berjuang dengan sisa-sisa tenaga yang kian menipis.

Di atas menara pengawas utama yang menjulang tinggi, Azalia dan Risha berdiri berdampingan. Keduanya memegang busur panjang pusaka yang terbuat dari kayu jati hitam pilihan, dengan tali busur yang terbuat dariurat naga purba. Napas mereka terdengar teratur, menyatu dengan deru angin malam yang menderu-deru di ketinggian. Di hadapan mereka terbentang pemandangan medan pertempuran yang kacau balau; api masih berkobar di beberapa sudut halaman benteng, menerangi bayangan-bayangan prajurit yang berlarian kesana-kemari dalam kepanikan.

Azalia menoleh sejenak ke arah sahabatnya, sorot matanya menyiratkan kewaspadaan yang amat tinggi di balik kerudung perangnya. "Risha, perhatikan gerakan di barisan belakang musuh itu. Pimpinan mereka mulai menyadari bahwa penyerbuan kali ini gagal total setelah benteng utama berhasil kita pertahankan dari gelombang pertama," bisik Azalia dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Risha menyipitkan matanya, memperkuat cengkeramannya pada gagang busur yang terasa dingin di telapak tangannya. "Aku melihatnya, Azalia. Iblis Bayangan itu licik sekali. Dia sengaja memanfaatkan kebingungan prajurit rendahan untuk menciptakan kekacauan demi menutupi pelariannya sendiri."

"Kita tidak boleh membiarkan dia lolos begitu saja dari tempat ini," balas Azalia sambil meraba kantong panah di pinggangnya, memastikan dua buah anak panah khusus berukir ukiran angin masih tersimpan dengan rapi di sana. "Jika petinggi Pasukan Bayangan itu berhasil kabur membawa informasi rahasia pertahanan kita, benteng ini akan jatuh dalam hitungan hari pada penyerangan berikutnya."

Di bawah sana, kekacauan semakin memuncak. Seorang sosok berjubah hitam legam dengan aksen perak di bagian bahunya terlihat mondar-mandir memberikan instruksi palsu kepada para prajurit. Sosok itu adalah Sang Iblis Bayangan, panglima lapangan musuh yang terkenal dengan kemampuan menyamar dan bergerak secepat kilat di dalam kegelapan. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, ia mulai membaurkan diri di antara kerumunan prajurit bayangan yang sedang kocar-kacir menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.

Azalia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredupkan gemuruh di dadanya dan menyelaraskan detak jantungnya dengan getaran alam di sekitarnya. "Ini saatnya kita menguji latihan yang telah kita jalani selama berbulan-bulan di puncak bukit."

"Aku siap, Azalia. Mari kita akhiri pelarian pengecut ini malam ini juga," sahut Risha dengan mantap, mengangkat busurnya sejajar dengan dada.

❖ ❖ ❖

Di pelataran benteng yang luas dan berbatu, Iblis Bayangan tersenyum sinis di balik topeng besi setengah wajahnya. Ia melihat bagaimana para prajurit bawahannya mati-matian menahan gempuran para pendekar penjaga benteng, sementara dirinya perlahan-lahan merapalkan jurus siluman bayangan untuk mengaburkan wujud fisiknya. Tubuhnya mulai memudar, berubah menjadi bayangan tipis yang menyerupai asap hitam yang mengepul di antara kerumunan manusia.

"Bodoh sekali mereka jika mengira aku akan mati bersama pasukan rendahan ini," gumam Iblis Bayangan dalam hati, melangkah mengendap-endap menuju pintu gerbang belakang yang mengarah langsung ke jurang curam di luar benteng.

Namun, dari atas menara pengawas yang letaknya cukup jauh, sepasang mata tajam tidak pernah sedetik pun melepaskan pandangan dari gerak-gerik licik tersebut. Azalia dan Risha dapat melihat bayangan tipis yang bergerak tidak wajar di tengah kerumunan prajurit yang sedang berlarian.

"Dia mulai menggunakan ilmu menyamarnya, Risha! Bersiaplah pada hitungan ketiga!" seru Azalia, matanya memicing tajam mengunci sasaran yang bergerak cepat di bawah sana.

"Satu... dua... tiga!" teriak Risha memberi aba-aba.

Saat Iblis Bayangan mencoba melarikan diri menggunakan ilmu menyamar di antara prajuritnya, Azalia dan Risha secara bersamaan melepaskan Panah Kembar Membelah Udara. Dua anak panah melesat dengan kecepatan luar biasa tinggi, membelah angin malam dan menciptakan suara desingan nyaring yang memecah kesunyian medan perang. Lintasan kedua anak panah itu berpendar memancarkan cahaya keemasan yang terang, menerangi kegelapan malam dan memandu arah menuju target yang sedang berusaha kabur.

Suara desing panah tersebut begitu kuat hingga membuat beberapa prajurit musuh di sekitar Iblis Bayangan menoleh ke atas dengan rasa terkejut yang luar biasa. Iblis Bayangan yang merasa terancam seketika menghentikan langkahnya, mencoba mempercepat jurus bayangannya untuk menghindari hantaman yang datang dari arah atas.

Namun, kecepatan Panah Kembar Membelah Udara jauh melampaui perkiraan sang panglima musuh. Anak panah pertama melesat tepat di sisi kiri tubuh bayangan itu, sementara anak panah kedua menyusul erat di sisi kanannya, seolah dikendalikan oleh kekuatan batin yang terikat satu sama lain.

Anak panah tersebut menancap tepat pada selendang penyamaran musuh dan memaku tubuhnya ke tiang kayu benteng.

Bum! Suara hantaman kayu yang keras menggema ketika ujung panah menembus tebalnya tiang penyangga gerbang utama, menghentikan seketika pelarian sang Iblis Bayangan dan mencengkeram jubahnya dengan kekuatan energi tenaga dalam yang sangat kuat.

"Argh!" teriak Iblis Bayangan tertahan, tubuhnya mendadak terpaku tidak bisa bergerak karena selendang sutra hitam yang digunakannya untuk menyamar telah terjepit erat oleh dua batang anak panah yang menancap dalam pada tiang kayu di belakangnya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya