SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Kehangatan Teratai Emas

Malam di Lembah Kematian seolah membeku, menyisakan udara pekat yang mencengkeram dada siapa pun yang menghirupnya. Di tengah arena pertarungan yang dikelilingi tebing-tebing curam, bayangan hitam pekat berkelebat liar. Sosok itu adalah Iblis Bayangan, makhluk keji yang telah menebar teror selama bertahun-tahun. Napasnya memburu, matanya memerah menyala di balik jubah compang-camping, dan sekujur tubuhnya bergetar hebat menahan luka parah akibat hantaman bertubi-tubi dari kelompok pendekar aliansi.

"Kalian... kalian pikir bisa menghentikanku semudah ini?!" suara Iblis Bayangan melengking nyaring, memecah keheningan malam dengan nada penuh kebencian yang mendalam.

"Menyerahlah, Iblis Bayangan!" seru seorang pendekar senior dari barisan aliansi sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Dosamu sudah terlalu banyak. Hari ini adalah akhir dari riwayatmu di muka bumi!"

"Akhir?" Iblis Bayangan tertawa terbahak-bahak, suara tawa yang mengerikan bagai gesekan logam berkarat. "Jika aku harus binasa, maka kalian semua harus ikut terkubur bersamaku di lembah terkutuk ini!"

Terdesak hebat dan menyadari ajalnya sudah di ambang mata, Iblis Bayangan mengamuk tanpa arah. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga dalam yang dimilikinya, membakar meridian tubuhnya sendiri demi melepaskan jurus pamungkas yang paling mematikan. Puncaknya, makhluk itu membuka lebar-lebar rongga dadanya dan menyemburkan seluruh sisa hawa racun membeku dari dalam tubuhnya.

Sebuah kabut tebal berwarna biru keunguan mendadak melesat cepat ke segala arah, membawa hawa dingin yang mampu membekukan darah seketika. Tanah di sekitar tempat jatuhnya kabut itu langsung berubah menjadi es putih, sementara rumput dan pepohonan layu serta mati dalam sekejap begitu tersentuh uap beracun tersebut.

Para pendekar aliansi yang berdiri di garis depan terbelalak kaget. Mereka buru-buru melompat mundur untuk menyelamatkan diri, namun kecepatan kabut racun itu jauh melampaui kemampuan gerak mereka.

"Mundur! Cepat mundur! Hawa racun ini bisa menghancurkan organ dalam dalam hitungan detik!" teriak salah seorang sesepuh perguruan dengan suara panik.

Beberapa pendekar yang terlambat menghindar langsung jatuh tersungkur ke tanah. Bibir mereka membiru, tubuh mereka kaku tertutup es tipis, dan mereka mengerang kesakitan sambil mencengkeram dada masing-masing. Kepanikan seketika melanda barisan aliansi. Pertahanan yang tadinya tersusun rapi kini kocar-kacir menghadapi gelombang maut yang dilepaskan oleh Iblis Bayangan.

Di tengah kekacauan dan ketakutan yang mencekam itu, Arka melangkah maju dengan tenang mendahului yang lain. Kakinya menapak mantap di atas tanah yang mulai membeku, tanpa sedikit pun keraguan di wajahnya yang tegas.

❖ ❖ ❖

Langkah maju Arka segera menarik perhatian para pendekar lain yang sedang berjuang menyelamatkan rekan-rekan mereka yang terkena racun.

"Arka! Jangan bodoh!" seru seorang pendekar wanita dari barisan belakang dengan nada cemas. "Hawa racun membeku itu tidak bisa ditangkis dengan tenaga dalam biasa! Kau hanya akan mencari mati!"

Arka tidak menoleh. Ia terus berjalan perlahan menuju pusat penyebaran kabut racun, menatap tajam ke arah Iblis Bayangan yang kini terkulai lemas di atas batu besar akibat kehabisan tenaga setelah mengeluarkan jurus pamungkasnya. Senyum kemenangan terukir tipis di bibir pucat Iblis Bayangan.

"Anak muda... percuma," desis Iblis Bayangan dengan suara parau di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal. "Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menahan hawa racun pembeku jiwaku. Organ dalammu akan hancur lebur menjadi serpihan es!"

Arka berhenti tepat di hadapan dinding kabut racun yang bergolak hebat. Udara di sekitarnya terasa begitu dingin hingga membuat bulu kuduk merinding. Setiap kali ia menarik napas, hawa dingin menusuk tenggorokannya bagai ribuan jarum tak kasat mata.

"Aku tahu racun ini mematikan," jawab Arka tenang, suaranya terdengar jelas di tengah desau angin malam yang membekukan. "Tapi perjalanan panjang yang telah ku lalui tidak ditakdirkan untuk berakhir di tempat ini, di tangan iblis sepertimu."

"Sombong sekali!" geram Iblis Bayangan. "Rasakan kematian yang sesungguhnya!"

Gelombang kabut racun biru keunguan itu mendadak menggeliat ganas, membentuk ribuan jarum es tajam yang melesat serentak menghantam tubuh Arka dari berbagai arah. Para pendekar yang melihat kejadian itu menahan napas, sebagian bahkan menutup mata karena tidak sanggup menyaksikan tragedi yang akan terjadi.

Namun, alih-alih menghindar atau menangkis serangan itu dengan pedang, Arka justru memejamkan matanya rapat-rapat. Di dalam batinnya, ia mulai memusatkan keahlian baru yang didapatnya dari kitab suci kuno yang ia temukan di gua tersembunyi beberapa bulan lalu: ilmu Pendekar Teratai Emas.

Lihat selengkapnya