SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Keteguhan Jiwa Sang Dua Benteng

Udara di dalam ruang bawah tanah reruntuhan kuil kuno itu terasa begitu pekat, berbau amis darah dan debu yang menyesakkan dada. Di tengah remang-remang cahaya obor yang hampir padam, Chafia dan Zahra bekerja dengan sangat cepat dan hati-hati. Jari-jemari mereka bergerak lincah membuka ikatan rantai besi yang membelenggu tangan dan kaki para penduduk desa yang dijadikan sandera. Isak tangis tertahan dari anak-anak dan wanita tua terdengar sayup-sayup memecah keheningan, menambah beban emosional di pundak kedua gadis itu.

"Bertahanlah sebentar lagi, bibi. Ikatan ini akan segera lepas," bisik Chafia lembut kepada seorang wanita paruh baya yang tubuhnya sudah sangat lemah karena kelaparan dan dehidrasi. Wajah Chafia dipenuhi oleh butir-butir keringat yang bercampur dengan debu hitam, namun tekad di dalam sorot matanya tidak sedikit pun surut.

Di sisi lain ruangan, Zahra terus mengawasi keadaan sekitar dengan kewaspadaan penuh. Telinganya menangkap setiap desiran angin kecil yang masuk dari celah-celah dinding batu. "Chafia, percepat sedikit gerakanmu. Aku merasa atmosfer di tempat ini mendadak berubah menjadi sangat dingin. Sesuatu yang buruk sedang mendekat," ujar Zahra dengan nada rendah, memperingatkan rekannya tanpa mengalihkan pandangan dari lorong gelap di hadapan mereka.

Belum sempat Chafia merespons peringatan tersebut, hawa di dalam ruangan mendadak drop secara drastis. Suhu udara turun drastis dalam hitungan detik, membuat embun napas mereka mengepul putih di udara. Nyala api obor di dinding tiba-tiba berubah warna menjadi kebiruan, berkelip lemah seolah hendak mati diterpa badai gaib.

"Terlambat," suara desisan dingin yang mengerikan bergema memenuhi ruangan, seolah berasal dari segala penjuru mata angin sekaligus.

Dari dalam pekatnya bayangan di ujung lorong, sesosok makhluk bertubuh tinggi besar dengan jubah compang-camping melangkah keluar. Sosok itu adalah Iblis Bayangan, panglima terkejam dari faksi kegelapan yang memiliki kekuatan menghancurkan jiwa hanya dengan satu sentuhan. Matanya menyala merah darah di balik topeng besi berkarat, sementara kedua tangannya diselimuti oleh gumpalan energi hitam legam yang berputar-putar liar membentuk bilah-bilah es beracun.

Iblis Bayangan itu menyeringai lebar, menatap tajam ke arah Chafia dan Zahra yang masih sibuk melindungi para sandera yang belum sepenuhnya terbebas. Tanpa membuang waktu, makhluk keji itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap melepaskan serangan mematikan dari arah belakang untuk menyapu bersih semua orang di ruangan tersebut tanpa ampun.

"Awas di belakang!" teriak Zahra histeris saat melihat bayangan pekat itu melesat cepat bagaikan kilat hitam langsung mengarah ke punggung Chafia yang sedang membungkuk membuka gemb terakhir.

Melihat bahaya maut yang datang menerjang tanpa bisa dihindari dengan kecepatan biasa, Fathan dan Galin yang berdiri di dekat pintu masuk langsung bertindak tanpa keraguan sedetik pun. Dua pemuda berbadan tegap itu melompat secara bersamaan, memasang badan mereka sebagai perisai hidup demi melindungi Chafia, Zahra, dan seluruh sandera yang tidak berdaya.

❖ ❖ ❖

Dentuman keras yang mengguncang seluruh struktur bangunan kuil tua langsung tercipta saat pukulan bokongan Iblis Bayangan menghantam telak tubuh Fathan dan Galin. Hantaman hawa dingin beracun itu langsung merangsek masuk menembus baju pelindung dan kulit mereka, membawa rasa sakit yang luar biasa membakar sekujur organ dalam tubuh kedua pemuda tersebut.

Bugh!

Suara benturan tumpul itu disusul oleh suara erangan tertahan. Fathan dan Galin terdorong mundur beberapa langkah ke belakang akibat dahsyatnya daya dorong pukulan sang iblis. Seketika itu juga, mulut keduanya terbuka lebar, memuntahkan darah segar berwarna kehitaman ke atas lantai batu akibat hancurnya pertahanan chi di dalam dada mereka. Racun mematikan langsung menyebar cepat melalui aliran darah, membuat kulit wajah mereka berubah pucat pasi dengan urat-urat biru yang menonjol keluar.

Namun, meskipun rasa sakit yang teramat sangat menyiksa sekujur tubuh, Fathan dan Galin sama sekali tidak bergeming dari posisi mereka. Keduanya menapakkan kaki mereka kuat-kuat ke lantai batu, merentangkan kedua tangan lebar-lebar untuk membentuk benteng hidup yang tidak dapat ditembus oleh siapa pun.

"Kalian... tidak akan bisa menyentuh mereka selama kami berdua masih bernapas," ucap Fathan dengan suara parau dan bergetar, namun memancarkan keteguhan baja yang membuat Iblis Bayangan tertegun sejenak di tempatnya.

Galin menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap tajam ke arah mata merah sang iblis tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Majulah jika kau ingin melewati jasad kami terlebih dahulu, makhluk busuk!" tantang Galin dengan nada tegas, mengalirkan sisa-sisa tenaga dalamnya untuk memperkuat pertahanan fisik mereka berdua.

Di belakang mereka, Chafia dan Zahra terkejut bukan kepalang melihat aksi heroik kedua pemuda tersebut. Air mata Chafia langsung tumpah membasahi pipinya, menyadari bahwa Fathan dan Galin baru saja mengorbankan diri mereka demi menyelamatkan nyawa orang banyak.

"Fathan! Galin! Jangan bodoh! Mundurlah, kalian tidak akan sanggup menahan kekuatan penuh dari Iblis Bayangan itu sendirian!" seru Chafia dengan suara bergetar hebat, tangannya masih gemetar memegang kunci gembok terakhir yang akhirnya berhasil terbuka dengan bunyi klik yang nyaring.

"Cepat bawa para sandera keluar melalui terowongan darurat, Chafia! Jangan pedulikan kami!" bentak Galin tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari sosok mengerikan di hadapan mereka. "Tugas kalian adalah memastikan orang-orang ini selamat sampai ke tempat persembunyian di lembah seberang!"

Iblis Bayangan mendengus geram, suara tawanya yang serak dan mengerikan menggema di dinding-dinding ruangan sempit itu. Makhluk itu tampak terkejut, namun kemudian seringainya semakin melebar memperlihatkan taring-taringnya yang tajam.

"Kalian pikir tubuh fana manusia rendahan seperti kalian mampu menahan kekuatan es neraka milikku? Kalian hanya sedang mencari jalan cepat menuju kematian yang menyakitkan!" geram Iblis Bayangan dengan suara penuh nada meremehkan.

❖ ❖ ❖

Tanpa memperingatkan lagi, Iblis Bayangan kembali mengibaskan kedua lengannya. Kali ini, gumpalan energi hitam yang melingkupi tangannya berubah wujud menjadi puluhan jarum es beracun yang berkilau tajam di dalam temaram cahaya obor. Makhluk itu melancarkan serangan gelombang kedua dengan kecepatan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya, menargetkan titik-titik vital di tubuh Fathan dan Galin.

"Tahan posisi kita, Fathan!" teriak Galin memberikan aba-aba kepada sahabat setianya di tengah desingan suara angin tajam yang membelah udara ruangan.

Lihat selengkapnya