Malam di jurang pembuangan terakhir terasa semakin pekat dan mematikan. Hawa dingin yang menusuk tulang bukan lagi sekadar udara musim dingin biasa, melainkan manifestasi dari ilmu hitam tingkat tinggi yang dilepaskan oleh ribuan prajurit bayangan musuh. Di tengah arena pertempuran yang porak-poranda, Arka berlutut dengan satu kaki di atas tanah yang berlumuran darah. Napasnya terengah-engah, dan keringat bercampur debu mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya yang penuh luka tikaman serta sayatan senjata tajam.
Di sekelilingnya, rekan-rekan seperjuangannya tergeletak tak berdaya. Maya, gadis yang selama ini menjadi garda terdepan dalam membaca formasi musuh, terkapar lemas di dekat batu besar dengan luka parah di bagian bahunya. Sementara itu, Seno—pria bertubuh kekar yang terkenal dengan ketahanan fisiknya—juga tak mampu lagi bangkit setelah menahan hantaman telapak iblis demi melindungi Arka dari serangan mematikan beberapa detik yang lalu.
"Arka... jangan... jangan pedulikan kami..." rintih Maya lirih, suaranya hampir tenggelam di antara desau angin malam yang membawa hawa kematian. Darah segar terus mengalir dari sudut bibirnya, menandakan organ dalamnya telah mengalami kerusakan parah akibat hantaman tenaga dalam musuh.
Seno yang berada tidak jauh darinya mencoba mengepalkan tangan, meskipun tenaganya telah terkuras habis. Dengan sisa kesadaran yang menipis, ia menatap Arka penuh harap sekaligus cemas. "Bangkitlah, Kawan... tunjukkan pada mereka... bahwa cahaya keadilan... tidak akan pernah padam oleh kegelapan..."
Mendengar bisikan dan melihat pengorbanan rekan-rekannya yang telah bertaruh nyawa demi kelangsungan misi suci ini, dada Arka terasa bergemuruh hebat. Rasa sakit fisik di tubuhnya mendadak sirna, tergantikan oleh gelombang kemarahan yang membuncah dari lubuk hatinya yang paling dalam. Kemarahan itu bukan sekadar emosi sesaat, melainkan tekad bulat untuk menumpas kejahatan yang telah merenggut banyak nyawa tak berdosa.
Arka perlahan-lahan menegakkan tubuhnya yang gemetar. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menyatukan kembali sisa-sisa tenaga dalam di dalam meridian tubuhnya yang nyaris putus. Di hadapan mereka, pasukan musuh tertawa meremehkan, mengira kelompok Arka sudah benar-benar berada di ambang kehancuran total dan tidak memiliki peluang untuk melawan balik.
"Sudah saatnya kalian menyusul teman-teman kalian ke neraka!" seru komandan pasukan musuh sambil mengayunkan pedang panjangnya ke udara, memberikan aba-aba kepada ratusan anak buahnya untuk melancarkan serangan pemungkas secara serentak.
❖ ❖ ❖
Mendengar teriakan provokasi tersebut, Arka sama sekali tidak gentar. Alih-alih mundur atau pasrah pada takdir, ia justru membuka matanya lebar-lebar. Sinar matanya yang tadinya sayu kini memancarkan kilatan cahaya keemasan yang sangat menyilaukan, seolah ada matahari kecil yang terkurung di dalam bola matanya.
"Kalian telah melangkah terlalu jauh," ucap Arka dengan suara berat yang bergetar penuh wibawa, menggema ke seluruh penjuru lembah dan menghentikan langkah maju para prajurit bayangan seketika.
Seketika itu pula, dari pori-pori kulit Arka mulai memancar pendaran cahaya keemasan yang luar biasa terang. Cahaya itu tumbuh dengan cepat, mengusir kegelapan malam yang pekat di sekitar mereka dan mengubah suasana jurang yang suram menjadi secerah siang hari. Hawa dingin beracun yang tadinya mencengkeram udara mendadak bergetar hebat, seolah ketakutan mendapati kehadiran kekuatan murni yang menjadi musuh alami segala bentuk kegelapan.
"Ilmu apa itu?! Mengapa auranya begitu menekan?!" ger了一声 seorang perwira musuh, mundur beberapa langkah karena tidak tahan dengan gelombang tekanan tenaga dalam yang dipancarkan oleh Arka.
"Jangan takut! Dia hanya menggertak! Serbu secara bersamaan danhabisi dia sekarang juga!" perintah sang komandan dengan nada panik yang berusaha ia tutupi di balik teriakan kerasnya.
Puluhan prajurit bayangan segera berlari menerjang maju, mengacungkan tombak dan pedang beracun ke arah Arka tanpa ampun. Mereka membentuk formasi kepiting batu yang mematikan, berniat menusuk tubuh Arka dari berbagai sudut buta secara bersamaan. Namun, Arka sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia mengangkat kedua tangan perlahan ke samping, membiarkan energi emas di tubuhnya mencapai titik didih tertinggi.
Ketika gelombang serangan musuh tinggal berjarak beberapa tombak darinya, Arka membentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil melepaskan seluruh potensi kesaktian dari Kitab Pusaka Matahari yang selama ini ia pelajari secara diam-diam. Suara dentuman sonik yang memekakkan telinga meledak seketika dari tubuhnya, menciptakan gelombang kejut ke segala arah.
❖ ❖ ❖
Ledakan tenaga dalam itu menyapu tanah di bawah kaki para penyerang, membuat puluhan prajurit bayangan terpelanting ke udara tanpa sempat menyentuh tubuh Arka sedikit pun. Sinar emas yang terpancar dari tubuh Arka tidak hanya bersifat destruktif terhadap fisik musuh, tetapi juga memiliki sifat pembersih yang sangat kuat terhadap energi negatif di sekitarnya.