SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Tumbangnya Sang Iblis Bayangan

Dengan satu lompatan bertenaga Matahari Teratai Emas, Arka mendaratkan pukulan telapak tangan keemasan tepat di dada Iblis Bayangan. Hentakan tenaga dalam murni itu menghancurkan ilmu iblis sang musuh dan merobohkan Iblis Bayangan untuk selama-lamanya.

Udara di dalam gua bawah tanah Gunung Ciremai bergetar hebat, menciptakan gelombang kejut keemasan yang menyapu bersih kabut pekat di sekeliling arena pertarungan. Suara ledakan energi yang mirip petir menyambar batu karang bergema memekakkan telinga, memantul di dinding-dinding gua purba yang terkoyak oleh kedahsyatan benturan dua kekuatan besar.

Arka melayang turun dengan anggun namun napasnya memburu, mendaratkan kedua kaki di atas lantai batu dengan posisi kuda-kuda yang kokoh. Di hadapannya, sosok Iblis Bayangan yang selama ini menyebar teror dan merenggut banyak korban terpaku kaku. Kilau keemasan dari jurus Matahari Teratai Emas masih berpendar terang di telapak tangan kanannya, menyinari sosok musuh besarnya yang kini mulai kehilangan wujud gelapnya.

"Tidak... ini tidak mungkin..." suara Iblis Bayangan terdengar bergetar hebat, pecah dan menyerupai desisan angin malam yang kehilangan tenaga. Tubuh tinggi besar yang tadinya diselimuti kabut hitam pekat kini mulai terkoyak dari dalam, memperlihatkan retakan-retakan cahaya kemerahan yang menyala menyilaukan.

Di tepi arena pertempuran, Tera dan Bagas yang sejak tadi menyaksikan dengan jantung berdegup kencang langsung menghembuskan napas lega. Bagas menyeka keringat dan darah yang mengering di pelipisnya, sementara Tera memegang dadanya sendiri, merasakan ketegangan luar biasa yang perlahan-lahan mencair dari sekujur tubuhnya.

"Arka berhasil..." bisik Tera lirih, air mata kelegaan menetes di pipinya yang kotor oleh debu reruntuhan gua.

"Luar biasa," sambung Bagas dengan suara serak penuh kekaguman. "Tenaga dalam Matahari Teratai Emas miliknya benar-benar mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi. Tidak ada ilmu hitam yang mampu menahan kemurnian tenaga itu."

Namun, di balik kelegaan yang dirasakan oleh teman-temannya, Arka tidak menurunkan kewaspadaannya barang sedetik pun. Matanya yang tajam tetap terkunci pada sosok Iblis Bayangan yang perlahan berlutut di atas batu. Ia tahu betul bahwa makhluk tingkat tinggi seperti Iblis Bayangan memiliki berbagai tipu muslihat terakhir sebelum benar-benar binasa dari muka bumi.

"Perjalananmu berakhir di sini, Iblis Bayangan," ucap Arka dengan suara dingin namun berwibawa, menggema di seluruh ruangan gua yang kini diterangi oleh sisa-sisa pendaran energi keemasan miliknya. "Segala kutukan dan teror yang kau sebarkan di lereng Ciremai harus dibayar tuntas hari ini."

Iblis Bayangan mendongakkan kepalanya, memperlihatkan wajah yang separuhnya telah meleleh dalam cahaya keemasan. Alih-alih menunjukkan ketakutan, makhluk itu justru tertawa lirih—sebuah tawa serak yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding seketika.

❖ ❖ ❖

"Kau pikir kematianku akan menghentikan segalanya, anak muda?" gerus Iblis Bayangan di sela-sela tawanya yang parau. Darah hitam pekat mengalir deras dari sudut bibirnya, mengepulkan asap tipis setiap kali cairan itu menyentuh tanah batu di bawahnya. "Gunung ini telah terikat sumpah darah selama ribuan tahun. Menghancurkanku hanya akan membuka pintu bagi kekuatan yang jauh lebih besar!"

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, lantai gua tempat mereka berpijak mendadak bergetar keras. Retakan-retakan besar menjalar dengan kecepatan tinggi dari bawah tubuh Iblis Bayangan, membelah bebatuan kuno dan memancarkan semburan hawa panas dari dalam perut bumi.

"Arka! Hati-hati! Tanah di sekitar tempat itu runtuh!" teriak Tera memperingatkan sambil melangkah maju beberapa langkah, meskipun ia terhalang oleh jurang kecil yang baru saja terbentuk akibat belahan tanah.

Arka merasakan getaran dahsyat merambat melalui telapak kakinya. Ia segera melompat mundur untuk menghindari lava pijar yang mulai mendesak naik dari celah-celah retakan baru. Sisa-sisa energi keemasan di telapak tangannya meredup seiring dengan terkurasnya tenaga dalam yang ia gunakan untuk melancarkan pukulan pamungkas tadi.

"Jangan dengarkan provokasinya, Arka!" seru Bagas sambil melemparkan seutas tali pendakian yang kokoh ke arah Arka sebagai pegangan darurat. "Dia hanya mencoba mengalihkan perhatianmu agar bisa melarikan diri ke dalam kegelapan!"

"Aku tidak akan membiarkannya kabur," jawab Arka tegas. Ia mengalirkan sisa tenaga dalamnya ke kedua kaki, siap menerjang maju kembali untuk memastikan musuhnya benar-benar lumpuh.

Namun, sebelum Arka sempat mendekat, tubuh Iblis Bayangan tiba-tiba meledak dalam jutaan serpihan asap hitam pekat. Asap itu langsung mengepul tebal, menutupi seluruh pandangan mata dan menyebarkan aroma busuk belerang yang menusuk hidung hingga membuat tenggorokan terasa terbakar.

"Kabut hitam itu kembali!" teriak Tera sambil menutup hidungnya menggunakan kain buff yang tersisa. "Arka, awas! Asap ini menyerap tenaga dalam kita!"

Lihat selengkapnya