
Angin pegunungan berhembus lembut, membawa aroma pinus yang menenangkan dan sisa-sisa kesejukan embun pagi di lereng Gunung Ciremai. Setelah pertempuran panjang dan melelahkan melawan teror racun yang mematikan, ketenangan akhirnya kembali menyelimuti desa-desa di kaki gunung tersebut. Warga yang sempat mengungsi kini kembali ke rumah mereka, menyambut hari baru dengan senyuman dan rasa syukur yang mendalam.
Di halaman luas sebuah pendopo kayu, Arka dan kawan-kawan berkumpul melingkar di atas tikar pandan. Suasana hangat begitu terasa di antara mereka. Tawa kecil dan obrolan ringan mencairkan ketegangan yang selama berhari-hari mencengkeram dada. Tera, dengan senyum manisnya, membagikan mangkuk berisi teh herbal hangat kepada para sahabatnya, sementara Galang dan kawan-kawan lainnya sibuk membicarakan betapa leganya mereka setelah ancaman maut itu berhasil dipadamkan.
"Tidak disangka kita bisa melewati malapetaka Racun Teratai Salju ini dengan selamat," ujar Galang sambil meneguk teh hangatnya hingga tandas, lalu mengelap mulutnya dengan punggung tangan. "Rasanya baru kemarin kita hampir kehilangan akal menghadapi kepulan asap beracun di lembah."
"Semua ini berkat kerja sama dan keteguhan hati kita semua, Galang," sahut Tera lembut, duduk bersila di samping Arka. Ia menatap Arka yang sejak tadi terdiam memandangi bilah pedang pusakanya yang tergeletak di pangkuannya. "Ada apa, Arka? Kau tampak masih memikirkan sesuatu. Bukankah ancaman di Gunung Ciremai sudah benar-benar tuntas?"
Arka mengangkat kepalanya, menatap Tera dan kedelapan sahabat setianya yang lain—Galang, Kirana, Bagas, Laras, Dimas, Maya, Rian, dan Siska. Tatapan mata Arka menyiratkan sebuah kegelisahan yang sulit dijelaskan. "Aku bersyukur kita bisa menyelamatkan warga Ciremai, Tera. Tapi hatiku merasa ada sesuatu yang janggal. Kekuatan Sekte Bayangan Merah di wilayah ini terlalu mudah dipadamkan. Seolah-olah kekacauan di sini hanyalah pengalihan dari sesuatu yang jauh lebih besar."
"Pengalihan?" tanya Kirana dengan alis berkerut, meletakkan mangkuk tehnya ke atas nampan kayu. "Apa maksudmu, Arka? Bukankah para pemimpin mereka sudah tewas dan basis mereka di lereng gunung telah hancur?"
Sebelum Arka sempat menjawab pertanyaan Kirana, suasana di sekitar pendopo mendadak berubah drastis. Suhu udara yang tadinya hangat langsung merosot tajam dalam hitungan detik. Hembusan angin yang semula lembut tiba-tiba berubah menjadi badai kecil yang menderu kencang, menerbangkan daun-daun kering dan mengguncang dahan-dahan pohon di sekitar halaman pendopo.
"Tunggu! Rasakan hawa ini!" seru Bagas memperingatkan, langsung berdiri dan meraba gagang pedangnya.
Seluruh sahabat Arka siaga seketika, membentuk lingkaran pertahanan. Di atas dahan pohon cemara yang menjulang tinggi di depan pendopo, sesosok bayangan putih tampak berdiri tegak tanpa menyentuh ranting dengan beban berarti. Bayangan itu begitu ringan, seolah menyatu dengan hembusan angin pagi.
Ketika kabut tipis tersibak oleh terpaan angin, sosok tersebut terlihat jelas. Seorang pesilat wanita bergaun putih salju berkibar megah diterpa angin gunung. Wajahnya tertutup cadar kain putih transparan, namun sepasang matanya yang bersinar tajam memancarkan wibawa dan kesaktian yang luar biasa tinggi. Di punggungnya terselip sebilah pedang ramping berhulu giok putih.
"Siapa kau?!" bentak Dimas dengan nada siaga, mengangkat tombak pendeknya ke arah sosok di atas dahan pohon.
❖ ❖ ❖
Wanita bergaun putih itu sama sekali tidak terusik oleh bentakan Dimas. Ia melangkah anggun dari dahan pohon, melayang turun perlahan tanpa suara bagaikan sehelai bulu angsa yang tertiup angin sepoi-sepoi, sebelum akhirnya mendarat tepat di hadapan Arka dan kawan-kawan.
Kehadirannya memancarkan aura dingin yang langsung membuat bulu kuduk kesembilan sahabat itu meremang. Mereka tahu, wanita di hadapan mereka ini memiliki tingkat ilmu tenaga dalam yang jauh melampaui siapapun yang pernah mereka temui sebelumnya.
"Kalian tidak perlu memasang kuda-kuda permusuhan," suara wanita itu terdengar merdu namun tegas, mengalir tenang di tengah deru angin pagi. "Kehadiranku di sini bukan untuk membawa pertumpahan darah, melainkan membawa kabar buruk yang menyangkut keselamatan seluruh daratan persilatan."
Arka bangkit berdiri secara perlahan, menatap tajam ke arah wanita misterius tersebut. Ia menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai tanda hormat. "Maafkan kewaspadaan kami, Nyonya. Di masa-masa sulit seperti ini, kami harus selalu berhati-hati. Siapa sebenarnya Anda, dan berita buruk apa yang Anda maksudkan?"
Wanita bergaun putih itu membuka cadar tipis yang menutupi separuh wajahnya. Wajahnya begitu rupawan namun dingin bagai es abadi, dengan tatapan mata yang menyimpan pengalaman hidup yang panjang. Para pesilat di dunia persilatan mengenali ciri khas itu seketika.
"Aku dipanggil dengan julukan Teratai Putih Penyapu Angin," ucap wanita itu memperkenalkan diri. Ia mengedarkan pandangannya ke arah Arka dan kedelapan sahabatnya satu persatu. "Dan kedatanganku ke Gunung Ciremai menempuh perjalanan ribuan li dari wilayah utara khusus untuk menemui kalian."
"Wilayah utara?" seru Laras terperanjat. "Bukankah wilayah utara adalah kawasan pegunungan salju abadi yang terisolasi? Apa urusannya dengan kami di sini?"
Teratai Putih Penyapu Angin menghela napas panjang, sorot matanya berubah serius. "Kalian mengira kemenangan kecil di Gunung Ciremai ini mengakhiri segalanya? Kalian salah besar, anak muda. Kaum hitam dari Aliansi Kegelapan Utara baru saja melancarkan serangan besar-besaran yang jauh lebih mematikan. Mereka telah merebut Benteng Langit Utara, membantai ribuan pendekar penjaga perbatasan, dan kini bergerak turun menginvasi seluruh provinsi."
Mendengar berita mengejutkan itu, Arka dan kawan-kawan saling berpandangan dengan rasa terkejut yang luar biasa. Suasana di halaman pendopo mendadak hening seketika. Bayangan perdamaian yang baru saja mereka rasakan kini runtuh seketika digantikan oleh kenyataan pahit bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai.
"Bagaimana mungkin?" tanya Maya dengan suara bergetar cemas. "Benteng Langit Utara dikenal sebagai benteng pertahanan terkuat di negeri ini. Bagaimana bisa mereka menjebolnya secepat itu?"
"Pengkhianatan dari dalam," jawab Teratai Putih Penyapu Angin dingin. "Pimpinan tertinggi Aliansi Kegelapan Utara mengerahkan jurus terlarang yang mampu membekukan pertahanan benteng dalam satu malam. Jika kita tidak segera bertindak untuk memukul mundur mereka, seluruh daratan persilatan akan jatuh ke tangan kaum hitam dalam hitungan minggu."
Arka mengepalkan tinjunya erat-erat. Ia menoleh ke arah Tera dan kedelapan sahabatnya, membaca tekad yang sama di mata mereka. Tidak ada pilihan lain; mereka tidak bisa tinggal diam menikmati kedamaian palsu di Ciremai sementara darah rakyat tak berdosa tumpah di wilayah utara.
"Kami mengerti, Nyonya," ucap Arka dengan suara mantap penuh keyakinan. "Kami tidak akan tinggal diam melihat kaum hitam merajalela. Kami siap berangkat ke utara bersama Anda."
❖ ❖ ❖