Malam di pedalaman lereng Merbabu menyelimuti alam dengan selimut kabut tebal yang dingin menusuk tulang. Di sebuah pendepokan kecil yang dikelilingi oleh rumpun bambu apus, Ki Jatiwana tengah duduk bersila di atas tikar pandan usang. Di hadapannya, sebuah pelita minyak berkedip lemah, memantulkan bayangan berliuk-liuk di dinding kayu yang mulai lapuk. Usianya telah senja, namun garis-garis ketegasan di wajahnya tidak pernah luntur oleh waktu. Tangannya yang kasar dan penuh bekas luka goresan golok tua terlipat tenang di atas lutut, menyatu dalam keheningan meditasi malam.
Suasana hening itu mendadak pecah bukan oleh suara angin gunung yang menderu, melainkan oleh desau lembut yang hampir tak terdengar. Seperti kapas yang diterbangkan angin malam, sebuah bayangan putih meluncur turun dengan anggun dari dahan pohon nangka tua yang menaungi pendepokan. Gerakannya begitu ringan, nyaris tanpa suara, seolah gravitasi bumi tak berlaku baginya.
Cepat dan penuh penguasaan tenaga dalam tingkat tinggi, batin Ki Jatiwana tanpa membuka matanya sepenuhnya.
Sosok itu mendarat sempurna di ambang pintu pendepokan yang terbuka. Seorang wanita muda bergaun putih salju berdiri di sana. Kain sutra yang ia kenakan berkibar lembut ditiup angin malam, kontras dengan pedang ramping bergagang ukiran bunga teratai yang terselip rapi di pinggangnya. Wajahnya pucat pasi, dihiasi butiran keringat dingin yang membasahi pelipis dan helaian rambutnya yang basah oleh embun malam. Napasnya memburu, naik turun tidak beraturan, menandakan ia baru saja berlari menempuh jarak yang sangat jauh dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya.
"Ki Jatiwana... hamba mohon perlindungan dan bantuan," suara wanita itu bergetar hebat, memecah kesunyian malam dengan keputusasaan yang kentara.
Ki Jatiwana perlahan membuka matanya. Tatapannya tajam namun menyimpan kehangatan seorang guru tua. Ia menatap sosok di hadapannya dengan saksama, mengenali ciri khas sulaman benang perak di ujung lengan baju wanita itu.
"Tenangkan dirimu terlebih dahulu, Nona," suara Ki Jatiwana berat, tenang, dan berwibawa, kontras dengan kepanikan yang melanda tamunya. "Tarik napas dalam-dalam, alirkan hawa murni ke dantianmu, lalu katakan siapa dirimu dan apa yang membuat seorang murid dari pesisir utara datang tergopoh-gopoh hingga ke lereng Merbabu ini."
Wanita itu membungkuk dalam-dalam, memberikan hormat kaum persilatan dengan kedua tangan mengepal di depan dada. "Hamba Sekar Kirana, murid senior dari Perguruan Teratai Putih yang berpusat di pesisir utara Cirebon. Hamba datang membawa berita duka sekaligus ancaman besar yang dapat meruntuhkan seluruh tatanan rimba persilatan tanah Jawa."
Ki Jatiwana mengangguk pelan, mempersilakan Sekar duduk bersila di hadapannya. "Duduklah, Sekar. Ceritakan semuanya dengan perlahan. Apa yang sebenarnya terjadi di pesisir utara?"
Sekar Kirana duduk dengan gemetar, tangannya mencengkeram erat ujung kain putihnya. "Wilayah kami... Cirebon dan seluruh kawasan pesisir utara kini telah menjadi lautan darah, Ki. Serbuan gabungan kaum hitam lintas laut datang secara tiba-tiba tanpa peringatan apa pun. Mereka bukan sekadar gerombolan perampok biasa, melainkan aliansi keji dari seberang lautan yang bergabung dengan sisa-sisa tokoh persilatan hitam lokal yang selama ini bersembunyi di goa-goa karang."
❖ ❖ ❖
Mendengar kata-kata Sekar, alis Ki Jatiwana sedikit berkerut. Garis di keningnya semakin dalam. "Aliansi kaum hitam lintas laut? Bukankah para penguasa lautan selatan dan utara telah lama membuat sumpah darah untuk tidak mencampuri urusan daratan?"
"Sumpah itu telah mereka injak-injak, Ki!" seru Sekar dengan suara tertahan, air mata nyaris tumpah dari sudut matanya. "Mereka dipimpin oleh sesosok iblis berdarah dingin yang menjuluki dirinya Mahesa Sura, si Penguasa Ombak Hitam, yang berkolaborasi dengan datuk sesat dari daratan Cina, Master Bai Long. Penduruan utama Perguruan Teratai Putih telah dikepung sejak tiga hari tiga malam yang lalu."
Sekar mengambil napas gemetar, mencoba menata kembali serpihan ingatannya yang kacau akibat kengerian yang baru saja ia saksikan.
"Guru kami, Nyai Padmawati, bertarung habis-habisan melindungi para murid tingkat dasar dan warga desa sekitar. Namun, jumlah mereka terlalu banyak, dan ilmu hitam yang mereka bawa sangat mematikan. Asap beracun menyelimuti pelabuhan, dan gelombang pasang sengaja ditarik ke daratan untuk melumpuhkan pertahanan kami. Hamba diperintahkan oleh Guru untuk melarikan diri, mencari Guru Jatiwana, satu-satunya pendekar sepuh yang diyakini masih memegang Kitab Pusaka Surya Baskara, kunci untuk meredam kekuatan mereka."
Ki Jatiwana terdiam lama. Pelita di hadapannya berkedip sekali lagi, seolah ikut merasakan ketegangan yang merayap memenuhi ruangan kecil itu.
"Kitab Pusaka Surya Baskara..." gumam Ki Jatiwana pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Benda itu telah lama kusembunyikan dari dunia persilatan agar tidak menjadi rebutan darah. Mengapa nama itu kini harus disebut kembali di tengah kekacauan ini?"
"Karena hanya kitab itu yang mampu menetralisir racun es hitam dan gelombang maut milik Mahesa Sura!" Sekar mendesak dengan nada putus asa, bersujud setengah badan di hadapan Ki Jatiwana. "Jika Ki Jatiwana tinggal diam, maka bukan hanya Cirebon yang akan rata dengan tanah, melainkan seluruh dataran Jawa bagian tengah dan selatan akan segera menyusul!"
Ki Jatiwana menghela napas panjang. Ia tahu betul apa artinya kedatangan aliansi kaum hitam lintas laut. Ini bukan sekadar perebutan wilayah kekuasaan, melainkan sebuah pemusnahan total terhadap perguruan-perguruan persilatan aliran putih yang selama ini menjaga keseimbangan alam dan kedamaian rakyat jelata.
"Sekar," kata Ki Jatiwana sambil menatap lurus ke dalam mata sang murid Teratai Putih. "Perjalanan dari Cirebon ke Merbabu memakan waktu berhari-hari jika ditempuh dengan berjalan kaki. Berapa lama kau mendahului kejaran musuh?"
"Hamba menggunakan kuda pilihan, lalu melanjutkan dengan lari tenaga dalam, Ki," jawab Sekar cepat. "Namun, hamba yakin, burung elang bayangan milik mereka telah melacak jejak hamba. Mereka tidak akan tinggal diam membiarkan hamba lolos membawa pesan ini. Kita harus bersiap, atau kita akan mati sebelum sempat melangkah keluar dari lereng gunung ini."
Belum sempat Ki Jatiwana menjawab, suara desingan angin tajam membelah keheningan malam di luar pendepokan. Suara itu begitu nyaring, disertai bau amis darah dan bau belerang yang menyengat.