Arka, Tera, beserta kedelapan sahabatnya langsung berpacu menuju Cirebon. Setibanya di sana, pelabuhan dan sudut-sudut kota telah menjadi medan pertempuran. Bangunan-bangunan terbakar dan bentrokan darah tak terhindarkan akibat ulah gerombolan bajak laut dan pesilat sesat.
Langit Cirebon sore itu berubah kelam, bukan karena gumpalan awan hujan yang datang dari arah laut, melainkan akibat kepulan asap hitam pekat yang membubung tinggi dari arah pelabuhan utama. Bau amis darah bercampur dengan aroma mesiu dan kayu yang terbakar menghembus bersama angin laut, menusuk hidung siapa saja yang mendekati gerbang kota.
"Cepat! Pertahanan di dermaga timur hampir runtuh!" seru Arka lantang, menarik tali kekang kuda anggikannya hingga meringkik tinggi.
Di belakangnya, Tera mengangguk tegas, tangan kanannya telah siaga menggenggam hulu pedang pusaka yang terselip di pinggang. Diikuti oleh kedelapan sahabat setia mereka—Bara, Kian, Laras, Raga, Sekar, Bayu, Tika, dan Jati—rombongan itu membelah kerumunan pengungsi yang lari ketakutan menyelamatkan diri.
Bara, pemuda bertubuh kekar dengan otot menonjol di balik rompi kulitnya, meludah ke tanah. "Keparat mana lagi yang berani mengacau di wilayah kekuasaan maritim Nusantara ini? Akan kupecahkan kepala mereka satu per satu!"
"Jangan gegabah, Bara," sahut Kian dengan nada tenang namun berwibawa, matanya tajam mengawasi situasi di depan. "Gerombolan yang menyerang kali ini bukan sekadar bajak laut biasa. Perhatikan bendera hitam dengan lambang tengkorak bertaring itu. Mereka adalah sisa-sisa sekte Kaum Hitam dari pesisir selatan."
Suara dentuman meriam kembali mengguncang bumi, disusul oleh suara pecahan kayu dan jeritan histeris penduduk sipil. Pertempuran di pelabuhan Cirebon telah mencapai puncaknya, dan sepuluh pendekar muda ini adalah garis pertahanan terakhir yang tersisa sebelum kota pelabuhan strategis itu jatuh ke tangan musuh.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki mereka terhenti tepat di bukit kecil yang menghadap langsung ke arah pelabuhan. Di bawah sana, panorama kehancuran terbentang luas tanpa ampun. Kapal-kapal dagang asing yang sedang bersandar tampak terbakar hebat, sementara puluhan mayat bergelimpangan di atas pasir putih yang kini telah berubah warna menjadi kemerahan.
"Situasi ini jauh lebih buruk dari perkiraan kita di surat sandi kemarin," ucap Laras dengan suara bergetar, jemarinya meraba kantong obat dan racun di sabuknya. "Racun pelumpuh yang kubawa mungkin tidak akan cukup untuk menghadapi jumlah pasukan sebanyak itu."
"Kita tidak datang untuk meracuni mereka satu per satu, Laras. Kita datang untuk memenggal kepala pimpinannya," balas Raga dingin, mencabut golok bermata dua dari sarungnya. Logam itu berkelebat memantulkan cahaya api yang menyala di kejauhan.
Tera melangkah maju, berdiri berdampingan dengan Arka di tebing bukit. Angin laut menerbangkan helai rambut hitamnya yang dikuncir kuda. "Arka, apa rencana kita? Pasukan musuh terpencar di tiga titik utama: dermaga bongkar muat, gudang rempah-rempah di sebelah barat, dan alun-alun kota tempat para petinggi sandera ditahan."
Arka menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut nadi di pelipisnya yang berdegup kencang. Pengalamannya memimpin pertempuran kecil di pedalaman kini diuji dalam skala yang jauh lebih besar. "Kita pecah kekuatan. Bayu, Tika, dan Jati, kalian amankan jalur evakuasi warga sipil di sebelah timur. Jangan biarkan ada pengungsi yang terjebak di gang-gang sempit."
"Baik, Arka! Serahkan pada kami," jawab Bayu mewakili kedua temannya, segera berbalik memimpin langkah menuju lorong-lorong perkampungan nelayan.
"Bara, Kian, Laras, dan Raga, kalian ikuti aku menerobos dermaga utama untuk memecah konsentrasi pasukan inti mereka," lanjut Arka dengan tatapan penuh karisma. "Sedangkan Tera dan Sekar, kalian ambil jalur rahasia melalui saluran air bawah tanah untuk menyusup ke alun-alun dan membebaskan para sandera."
"Hati-hati, Arka. Pimpinan Kaum Hitam kali ini adalah Ki Rante Wulung, pendekar aliran sesat yang terkenal licik," bisik Tera sebelum melompat turun ke semak-semak bersama Sekar.
Arka mengepalkan tinjunya erat-erat. "Aku tahu betul siapa dia. Dan hari ini, hutang nyawa di masa lalu akan kita lunasi."
Dengan teriakan komando yang menggelegar, kelompok Arka meluncur turun dari bukit bagaikan badai dahsyat yang siap menghantam pesisir Cirebon, menerjang kepulan asap hitam menuju kancah pembantaian.
❖ ❖ ❖
Sesampainya di dermaga utama, udara terasa semakin panas dan pengap. Bentrokan fisik terjadi secara brutal. Anggota Kaum Hitam mengenakan jubah hitam legam dengan penutup kepala, bertarung tanpa belas kasihan melawan prajurit pelabuhan Cirebon yang tersisa.
"Mati kau, anjing pesisir!" teriak seorang prajurit Cirebon sebelum tubuhnya tersungkur oleh tikaman tombak beracun dari belakang.