SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Sosok Pendekar Wanita Teratai Putih

Malam di Kota Praja berdarah bukan lagi malam yang sunyi, melainkan sebuah kuali raksasa tempat baja bertemu baja, dan jeritan manusia melebur menjadi simfoni keputusasaan. Kobaran api dari lapak-lapak pedagang yang dibakar oleh gerombolan penjahat Bayangan Hitam melambung tinggi, menjilat langit kelam dan menumpahkan bayang-bayang mengerikan ke setiap sudut jalan berbatu. Asap tebal mengepul, menyesakkan dada, membawa aroma mesiu, darah segar, dan debu kehancuran. Di tengah kekacauan mutlak inilah takdir mulai merajut benang-benangnya dengan cara yang paling tidak terduga.

"Jangan biarkan satu pun nyawa tersisa! Bakar habis seluruh distrik ini!" teriak seorang pemimpin gerombolan bertopeng besi dengan suara serak yang menggetarkan nyali. Tangannya mengayunkan golok besar berlumuran darah, memerintahkan puluhan anak buahnya untuk semakin brutal merangsek maju ke arah warga sipil yang berlarian menyelamatkan diri.

Anak-anak menangis histeris di pelukan ibu mereka. Para pria paruh baya yang mencoba melawan dengan peralatan seadanya tersungkur bersimbah darah dalam hitungan detik. Kepanikan merajalela tanpa kendali. Para penjahat itu bergerak seperti kawanan serigala kelaparan yang menemukan mangsa empuk di tengah musim dingin yang kejam. Tidak ada aturan, tidak ada belas kasihan. Yang ada hanyalah hukum rimba di mana yang kuat memangsa yang lemah.

Namun, di tengah badai kehancuran tersebut, udara tiba-tiba terasa bergemuruh. Suhu di sekitar alun-alun kota mendadak turun beberapa derajat, seolah musim semi yang lembut datang menerjang musim panas yang membara. Sebuah wangi harum yang samar—mirip aroma bunga teratai putih yang mekar di pagi hari—menembus kepulan asap tebal yang menyesakkan. Bau amis darah seketika seolah tersapu oleh hembusan angin sejuk yang datang entah dari mana.

Dari balik bayang-bayang gerbang kota yang setengah runtuh, sesosok bayangan putih meluncur bagaikan selembar sutra yang ditiup badai. Gerakannya begitu cepat, begitu ringan, hingga mata kasar para penjahat nyaris tidak mampu menangkap lintasannya.

Di tengah kekacauan, tampak seorang tokoh pesilat wanita sakti yang dijuluki Teratai Putih Penyapu Angin. Dengan gaun putih melambai dan kipas sutra di tangan, gerakannya bagai angin puyuh yang menyapu puluhan pengeroyok tanpa bisa disentuh sedikit pun.

Kehadirannya seketika menghentikan langkah beringas para penjahat di barisan depan. Mereka tertegun, terpaku menatap sosok anggun namun mematikan yang kini berdiri dengan tenang tepat di jalur pelarian warga yang panik.

"Siapa perempuan keparat itu?!" bentak salah seorang algojo Bayangan Hitam, mencoba menutupi rasa gentar yang tiba-tiba merayapi dadanya. "Cincang dia! Jangan biarkan dia menghalangi jalan kita!"

❖ ❖ ❖

Teriakan perintah itu langsung disusul oleh derap kaki puluhan penjahat yang mengarah pada sang pendekar wanita. Mereka tidak lagi mempedulikan warga sipil yang berlarian, karena insting pembunuh mereka mendeteksi ancaman yang jauh lebih besar pada sosok bergaun putih tersebut. Senjata tajam berupa pedang bermata dua, tombak panjang, dan rantai berduri diayunkan serentak membentuk jaring kematian yang rapat.

Wanita itu—Teratai Putih Penyapu Angin—tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri. Tatapan matanya tenang, sedingin es di puncak gunung, kontras dengan api yang masih berkobar di sekeliling mereka.

"Kalian memilih jalan kekerasan di tempat yang suci ini," suara sang pendekar wanita berbisik lembut, namun entah bagaimana suaranya terdengar sangat jelas menembus deru angin malam dan benturan senjata. "Maka bersiaplah menuai badai."

Begitu tebasan pedang pertama hampir merobek gaun putihnya, tubuhnya meliuk dengan kelenturan yang melampaui batas kemampuan manusia biasa. Gerakannya mirip air mengalir di atas batu karang yang licin; tidak ada perlawanan keras, melainkan sebuah seni menghindar yang mematikan. Kipas sutra di tangan kanannya terbuka dengan bunyi srat yang tajam, memantulkan cahaya merah dari kobaran api di sekitarnya.

"Tangkap dia! Jangan biarkan dia bergerak!" seru penjahat lain sambil melemparkan pisau terbang berturut-turut.

Whus! Whus! Whus!

Deru angin dari lemparan pisau itu sia-sia belaka. Sang pendekar memutar kipasnya dengan kecepatan tinggi, menciptakan pusaran angin kecil yang tidak hanya membelokkan seluruh pisau terbang tersebut, tetapi juga memantulkannya kembali kepada pemiliknya dengan kekuatan ganda. Dua orang penjahat di barisan depan langsung terjerembab ke tanah dengan pisau menancap di dada mereka sendiri, tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan jeritan.

Para pengeroyok lainnya terkesiap ngeri. Mereka belum pernah melihat teknik silat sehalus dan sekaligus sefatal itu. Tanpa menyentuh tubuh lawan secara langsung, Teratai Putih mampu mengubah kekuatan musuh menjadi bumerang yang menghancurkan diri mereka sendiri.

"Ilmu apa itu?!" geram sang pemimpin bertopeng besi, wajahnya mengeras di balik topengnya. "Maju serentak! Keroyok dia dari segala penjuru! Dia hanya satu orang!"

Puluhan penjahat kembali menerjang, kali ini dengan formasi mengepung yang lebih rapat. Ruang gerak sang pendekar wanita tampak menyempit. Di sebelah kiri, tombak panjang mengarah tepat ke rusuknya. Di sebelah kanan, rantai berduri berdesing mematikan siap melilit lehernya. Dari arah depan, tiga pedang besar menebas bersamaan menuju kepalanya.

Situasi berubah menjadi sangat kritis. Terjepit di antara lingkaran maut para pembunuh berdarah dingin, Teratai Putih tampak tidak memiliki celah untuk meloloskan diri.

Lihat selengkapnya