SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Bayangan Meringankan Tubuh Azalia dan Risha

Malam di Pelabuhan Teluk Naga membentang seperti kain hitam legam yang direndam dalam darah dan garam. Suara deburan ombak yang biasanya menjadi irama penenang bagi para nelayan, malam ini tenggelam di bawah raungan baja yang beradu, teriakan kesakitan, dan deru api yang melahap lambung-lambung kapal dagang. Langit malam di atas pesisir itu tidak lagi diterangi oleh bintang-bintang, melainkan oleh pijaran merah dari puluhan kapal yang terbakar, menciptakan bayang-bayang raksasa yang menari-nari di atas permukaan air laut yang bergolak.

Pasukan Armada Bayangan Hitam telah bergerak dengan presisi yang mematikan. Tanpa peringatan, mereka menyusup dari balik kabut tebal, menguasai dermaga utama, dan mendirikan benteng-benteng pertahanan sementara di sepanjang garis pantai. Musuh tidak hanya datang dengan jumlah yang besar, tetapi mereka juga menempati posisi-posisi strategis yang mematikan. Para pemanah elit musuh telah disebar di titik-titik tertinggi—di atas menara pengawas pelabuhan, tiang-tiang agung kapal yang dibajak, dan tebing-tebing karang yang menjorok langsung ke arah laut. Dari pos-pos terisolasi itu, mereka menghujani siapa saja yang mencoba melawan dengan anak panah beracun yang dapat melumpuhkan dalam hitungan detik.

Di tengah kekacauan yang melanda dermaga, dua sosok manusia melesat bagai kilat menembus kegelapan malam. Mereka adalah Azalia dan Risha. Di bawah tekanan situasi yang mendesak, keduanya tahu bahwa membiarkan musuh tetap menguasai posisi tinggi di sepanjang garis pantai berarti bunuh diri bagi seluruh pasukan perlawanan di darat. Tanpa ragu, Azalia dan Risha mengambil keputusan sepersekian detik yang mengubah arah jalannya pertempuran.

"Kita harus membersihkan para pemanah itu sebelum mereka menghabisi barisan depan kita, Risha!" seru Azalia di tengah gemuruh suara pertempuran, suaranya tetap tegas meski angin laut menerpa wajahnya dengan keras.

"Aku di belakangmu, Azalia. Tunjukkan pada mereka bahwa tiang-tiang kapal mereka tidak cukup tinggi untuk menyelamatkan nyawa mereka!" balas Risha, matanya memancarkan ketenangan yang dingin di balik kilatan api di sekitarnya.

Melihat musuh menguasai posisi-posisi tinggi di sepanjang garis pantai, Azalia dan Risha melompat cepat. Mengandalkan ginkang tingkat tinggi, mereka bergerak dari satu tiang kapal ke tiang kapal lainnya, melumpuhkan para pemanah musuh yang bersembunyi di atas geladak. Gerakan mereka begitu ringan, bagaikan dua helai bulu merak yang terbawa angin badai. Kaki mereka nyaris tidak menyentuh permukaan kayu yang kasar; setiap pijakan di ujung tiang kapal yang bergoyang diayunkan dengan presisi mutlak, memanfaatkan momentum angin malam untuk melambungkan tubuh mereka lebih tinggi lagi ke udara.

Seorang pemanah musuh di atas tiang utama kapal Naga Samudra terkejut setengah mati ketika menyadari bayangan gelap tiba-tiba melintas di atas kepalanya. Sebelum ia sempat menarik busurnya, Azalia telah mendarat dengan anggun di atas bilah busur kayu tersebut. Dengan satu sentuhan lembut namun mematikan dari ujung jarinya yang dialiri tenaga dalam murni, titik akupunktur di bahu pemanah itu tertutup seketika. Sang pemanah terjatuh lemas tanpa suara, meluncur bebas dari ketinggian belasan meter menuju geladak kapal yang keras di bawah sana.

"Satu," gumam Azalia dingin, tanpa menghentikan langkahnya. Ia segera memutar tubuhnya di udara, meluncur ke tiang berikutnya di mana dua orang pemanah musuh bersiap melepaskan anak panah ganda ke arahnya.

Di sisi lain, Risha tidak kalah mematikan. Dengan pedang tipisnya yang berkilau keperakan di bawah cahaya api, ia meluncur turun dari tebing karang tinggi menuju tiang pengawas darurat yang didirikan musuh. Gerakannya menyerupai tarian maut; setiap kali tubuhnya berputar, bilah pedangnya membelah udara dengan suara mendesing yang nyaris tak terdengar. Dalam hitungan detik, tali-tali penopang tiang pengawas itu putus berserakan, membuat struktur kayu tersebut runtuh bersama para penjusnya.

"Kalian salah memilih tempat untuk berdiri," ucap Risha pelan saat ia mendarat dengan kedua kaki menekuk sempurna di atas geladak yang bergetar.

Kecepatan dan ketepatan luar biasa yang ditunjukkan oleh Azalia dan Risha segera menarik perhatian para perwira Armada Bayangan Hitam di daratan. Suara lonceng alarm berdentang keras, memecah keheningan malam dan mengalihkan fokus pasukan musuh dari barisan pertahanan utama menuju kedua pendekar wanita tersebut.

❖ ❖ ❖

Keberhasilan Azalia dan Risha membersihkan para pemanah di garis pantai memang memberikan napas buatan bagi pasukan perlawanan, tetapi hal itu langsung memicu reaksi balik yang jauh lebih beringas dari pihak musuh. Komandan Armada Bayangan Hitam, seorang jenderal kejam bernama Jenderal Kaelen yang terkenal dengan julukan Tangan Besi Berbisa, menyadari bahwa dua pendekar wanita tersebut adalah ancaman nyata bagi strategi pengepungannya.

"Tangkap mereka berdua hidup-hidup atau mati! Jangan biarkan mereka menginjakkan kaki di daratan utama!" perintah Jenderal Kaelen dengan suara lantang yang menggelegar di atas geladak kapal komando.

Puluhan prajurit elit berzirrah hitam legam segera dikerahkan untuk mengepung area tempat Azalia dan Risha berpijak. Mereka bukan lagi prajurit biasa, melainkan para pendekar bayaran yang telah menguasai teknik bertempur jarak dekat dan formasi rantai besi berduri. Ratusan mata rantai tajam dilemparkan secara serentak ke udara, menciptakan jaring kematian yang berputar-putar di atas kepala Azalia dan Risha, membatasi ruang gerak mereka yang tadinya begitu bebas di udara.

"Azalia, formasi rantai itu dirancang untuk menangkap tenaga dalam kita!" teriak Risha memperingatkan, sambil menangkis sebuah mata rantai yang melesat cepat ke arah lehernya dengan kibasan pedang.

"Aku melihatnya. Mereka mencoba menjebak kita di atas tiang-tiang ini agar kita tidak bisa melompat lagi," jawab Azalia, matanya menyipit tajam mengamati pola pergerakan musuh di bawah.

Situasi berubah dalam sekejap mata. Keuntungan ketinggian yang tadinya dimiliki Azalia dan Risha kini berubah menjadi bumerang ketika puluhan tombak berantai diayunkan bersamaan, menghantam tiang-tiang kapal tempat mereka berdiri hingga patah berkeping-keping. Kayu-kayu berserakan, memaksa kedua pendekar itu turun ke geladak kapal yang kini dipenuhi oleh musuh bersenjata lengkap.

"Kita harus menerobos ke arah gudang mesiu di bagian tengah pelabuhan," ujar Azalia cepat, mengatur napasnya setelah melakukan lompatan darurat untuk menghindari tebasan pedang besar dari seorang prajurit musuh.

"Itu tindakan nekat! Gudang itu dijaga ketat oleh Empat Bayangan Kematian," balas Risha, meskipun ia sudah mulai mengayunkan pedangnya membentuk lingkaran pertahanan.

"Justru karena dijaga ketat, mereka tidak akan menduga kita datang dari sana," sahut Azalia dengan senyum tipis penuh tantangan.

Lihat selengkapnya