Suara deburan ombak yang biasanya membawa ketenangan di pesisir kini tenggelam di bawah simfoni mengerikan dari dentingan baja, teriakan amarah, dan bau amis darah segar yang menguar pekat di udara. Langit senja di atas teluk berubah menjadi jingga kemerahan, seolah ikut terbakar oleh amukan pertempuran yang berkecamuk tanpa henti. Di garis depan, para pesilat lokal bertempur habis-habisan melawan gelombang serangan pasukan bajak laut keji yang datang dari tengah samudra. Para bajak laut itu bukan sekadar perampok biasa; mereka adalah algojo laut yang terkenal kejam, memanfaatkan teror psikologis dan persenjataan beracun untuk melumpuhkan musuh-musuh mereka dalam hitungan menit.
Zahra menatap tajam ke arah kerumunan pertempuran dari balik batu karang besar yang menjadi tempat perlindungan sementaranya. Napasnya teratur, meski jantungnya berdegup kencang seirama dengan deru angin laut. Di sampingnya, Chafia tengah memeriksa kantong kain tebal yang berisi botol-botol kecil berisikan cairan penawar racun berwarna kehijauan. Cairan itu adalah hasil racikan mereka berdua sepanjang malam sebelumnya, sebuah formula rumit yang memadukan getah pohon husada pesisir dan ekstrak akar bahar laut dalam.
"Chafia, pastikan ikatan kantongmu kuat. Kita tidak boleh kehilangan satu botol pun," ujar Zahra dengan suara tegas namun sarat ketegangan.
"Sudah aman, Zahra. Semua tersusun rapi. Tapi lihat ke sana..." Chafia menunjuk ke arah barisan pertahanan kedua di dekat mercusuar tua.
Seorang pesilat muda baru saja tersungkur setelah bahunya terkena tusukan belati milik seorang kapten bajak laut bertubuh kekar. Dalam sekejap, kulit di sekitar luka pesilat muda itu berubah menjadi kebiruan gelap, diiringi kejang-kejang hebat yang menandakan bekerjanya racun mematikan pada ujung senjata musuh. Para bajak laut menggunakan racun duri ikan pari yang mematikan pada ujung-ujung senjata mereka. Racun itu terkenal tidak mengenal ampun; ia merusak sistem saraf dan menghentikan aliran darah hanya dalam waktu singkat jika tidak segera ditangani dengan penawar yang tepat.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Zahra dan Chafia bergerak lincah di balik garis pertahanan, mengobati para pesilat lokal yang terluka dan membagikan penawar racun cair secara cepat. Gerakan mereka begitu terlatih, bagaikan dua ekor lumba-lumba yang membelah ombak besar. Zahra melompat menghindari terjangan panah nyasar, sementara Chafia langsung merendahkan tubuhnya di samping pesilat yang mengerang kesakitan.
"Tahan sebentar, Kawan. Tarik napas dalam-dalam," ucap Chafia lembut namun penuh otoritas sambil membuka sumbat botol penawar.
Ia meneteskan cairan penawar itu tepat di atas luka sayatan yang membiru. Reaksi kimiawi terjadi seketika; desisan halus terdengar disusul keluarnya uap tipis berwarna keputihan dari permukaan luka. Warna biru gelap berangsur-angsur memudar, berganti menjadi merah darah normal, dan kejang-kejang pada tubuh pesilat itu mulai mereda.
"Terima kasih... aku hampir mati," bisik pesilat itu dengan suara gemetar.
"Jangan banyak bicara dulu. Minum sisa cairan ini untuk memulihkan tenaga," balas Zahra yang kini sudah berpindah ke korban berikutnya, menekan luka di kaki seorang tetua desa dengan perban antiseptik.
❖ ❖ ❖
Situasi di medan laga mendadak berubah drastis ketika suara tiupan sangkakala perang dari kubu bajak laut menggema melintasi teluk. Suara itu bernada rendah dan menggetarkan dada, menandakan datangnya gelombang pasukan kedua yang jumlahnya jauh lebih besar. Dari balik kabut tipis di atas permukaan laut, puluhan perahu kecil berkecepatan tinggi meluncur mendekati bibir pantai. Para bajak laut tambahan ini membawa tombak-tombak panjang yang ujungnya berkilau mengerikan—menandakan bahwa senjata-senjata tersebut telah dilumuri racun duri ikan pari dengan konsentrasi yang lebih pekat.
"Zahra, mereka mengirim pasukan elit! Garis pertahanan pertama kita mulai kendor!" teriak Chafia di tengah suara gaduh logam yang saling beradu.
Zahra mendongak sejenak dari tugasnya membalut lengan seorang pejuang. Matanya menyipit, memindai situasi di lapangan. Benar apa yang dikatakan sahabatnya. Para pesilat lokal mulai terdesak mundur ke arah tebing karang. Ruang gerak Zahra dan Chafia kini semakin menyempit, terjepit di antara dinding batu karang yang curam dan amukan pertempuran jarak dekat yang semakin brutal.
"Kita tidak boleh mundur lagi. Jika pos ini jebol, seluruh korban luka di belakang kita akan dibantai," tegas Zahra, suaranya mengiris deru angin laut.
"Tapi persediaan penawar kita tinggal separuh! Kalau serangan beracun ini semakin masif, kita tidak akan sempat meracik ulang di tempat terbuka seperti ini," balas Chafia, tangannya tetap sigap mengoleskan penawar pada dada seorang pejuang paruh baya yang nyaris kehilangan kesadaran.
Tiba-tiba, sesosok bayangan besar melesat dari atas tebing karang. Seorang algojo bajak laut berbadan raksasa dengan tato gurita di sekujur wajahnya mendarat tepat di depan mereka. Pria itu mengayunkan trisula raksasa yang meneteskan cairan beracun ungu pekat. Debu beterbangan akibat hantaman kaki sang algojo, membuat jarak pandang Zahra dan Chafia menjadi terbatas.
"Menyingkir, kalian perempuan bodoh! Biar kusingkirkan para tikus darat ini sekalian dengan perawatnya!" bentak sang algojo dengan suara menggelegar penuh kebencian.
Chafia refleks menarik Zahra ke samping untuk menghindari terjangan trisula yang menghancurkan batu karang tempat mereka berdiri sedetik lalu berkeping-keping. Serpihan batu tajam menghujani sekitar mereka. Zahra bangkit dengan cepat, tangannya merogoh kantong tersembunyi di balik jubahnya, menggenggam tiga jarum perak berlapis obat bius herbal.
"Chafia, alihkan perhatiannya ke sebelah kiri! Aku akan mencari celah di balik pertahanannya!" komando Zahra cepat.
"Baiklah, bersiaplah!" sahut Chafia tanpa ragu.
Chafia melempar segenggam serbuk silau ke arah mata sang algojo, sementara Zahra melompat ringan memanfaatkan momentum kepulan asap putih untuk mendarat di atas bahu sang raksasa bajak laut.
❖ ❖ ❖
Pertarungan di atas bahu sang algojo menjadi titik balik yang menegangkan. Sang raksasa mengamuk membabi buta, meronta dan memutar tubuhnya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Zahra. Namun, Zahra bertahan dengan gigih, menancapkan jarum perak tepat di titik akupunktur leher sang algojo. Dalam hitungan detik, raksasa itu melemah, limbung, dan akhirnya ambruk ke tanah dengan suara dentuman yang keras, mengangkat kepulan debu tebal di antara deru ombak.
Namun, kemenangan kecil itu harus dibayar mahal. Suara teriakan tertahan terdengar dari arah belakang tempat Chafia mengamankan para korban luka. Sekelompok kecil bajak laut penyusup berhasil melintasi celah tebing dan mengepung posisi logistik pengobatan mereka.
"Jangan bergerak! Serahkan semua botol penawar racun itu, atau kepala rekan kalian terpenggal!" ancam pemimpin penyusup, seorang wanita bajak laut bermata satu dengan belati beracun yang diarahkan tepat ke leher seorang anak muda penduduk desa.
Chafia berdiri tegak di depan keranjang botol penawar yang tersisa, napasnya memburu. Tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena amarah yang membuncah melihat ancaman keji yang diarahkan pada orang tak bersalah.