SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Perisai Baja Menahan Gelombang

Malam di lembah perbatasan itu bukan lagi sekadar gelap; malam itu telah berubah menjadi monster yang bernapas berat, merangkak di antara pepohonan purba dengan aroma mesiu, darah kering, dan rasa takut yang pekat. Di bawah langit kelam tanpa bintang, suara gemuruh dari kejauhan terdengar bagaikan detak jantung raksasa yang siap meledak kapan saja.

Di desa pengungsian, api unggun kecil yang menyala di beberapa sudut terlihat berkedip-kedip lemah, seolah-olah ikut merasakan kecemasan ratusan jiwa yang berdesakan mencari perlindungan. Anak-anak kecil meringkuk dalam dekap ibunya, sementara para wanita sepuh merapal doa dengan suara bergetar. Namun, di garis terdepan, ketegangan itu tidak diterjemahkan ke dalam keputusasaan, melainkan menjadi keteguhan yang membaja.

Judul itu terukir nyata di benak setiap orang yang berdiri tegak di hadapan jurang kehancuran. Di hadapan mereka, ratusan anak buah kaum hitam—pasukan bayaran tanpa ampun yang terkenal dengan kekejaman dan haus darah—mulai keluar dari kegelapan hutan. Langkah kaki mereka bergemuruh, menyerupai gempa kecil yang meretakkan tanah. Senjata-senjata tajam di tangan mereka memantulkan cahaya merah dari obor yang mereka bawa, menciptakan pemandangan yang mengerikan.

Ketika jarak antara kedua kubu hanya tinggal belasan meter, dan teriakan perang kaum hitam mulai memekakkan telinga, Fathan dan Galin tidak mundur barang sejengkal pun. Keduanya saling bertukar pandang, sebuah isyarat sunyi yang telah teruji oleh puluhan medan pertempuran.

"Mereka datang dalam jumlah besar, Galin," ucap Fathan dengan suara berat namun tenang, matanya menatap tajam ke arah barisan musuh yang seperti air bah siap melibas apa saja.

Galin mendengus pelan, memutar bahunya untuk meregangkan otot-otot yang tegang sebelum menggenggam erat gagang senjatanya. "Biar saja, Fathan. Semakin banyak mereka, semakin luas tempat kita untuk mengubur kesombongan mereka."

Tanpa aba-aba panjang, ratusan anak buah kaum hitam itu menerjang serentak. Gelombang serangan mereka datang bagaikan tsunami manusia yang membawa ribuan parang, tombak beracun, dan gada berduri. Udara mendadak mendesing, dipenuhi oleh angin dari ayunan senjata musuh yang mematikan.

Ketika jarak tinggal sepelemparan batu, Fathan dan Galin maju melangkah secara bersamaan. Gerakan mereka begitu sinkron, seolah dikendalikan oleh satu jiwa yang sama. Dengan satu sentakan tenaga dalam yang luar biasa besar, mereka menghenyakkan kaki ke bumi secara bersamaan.

Bum!

Getaran hebat langsung menghantam tanah tempat mereka berdiri. Retakan-retakan bercabang dengan cepat menyambar ke depan, mengeluarkan debu mengepul dan cahaya keemasan yang berpendar terang di kegelapan malam. Dari retakan bumi itu, jurus legendaris mereka—Dinding Karang Teratai—membentang bagaikan benteng raksasa yang kokoh tidak tergoyahkan.

Lapisan energi padat berbentuk kelopak teratai raksasa yang berlapiskan tekstur karang baja langsung berdiri megah menolak setiap tebasan parang dan tusukan tombak musuh. Benturan keras terjadi seketika, menciptakan percikan api yang berpijar terang di udara gelap. Suara dentingan logam beradu dengan energi murni bergemuruh memekakkan telinga, membuat beberapa penyerang terpelanting ke belakang akibat pantulan tenaga dalam benteng tersebut.

❖ ❖ ❖

Benteng Dinding Karang Teratai itu tidak hanya menahan hantaman fisik, tetapi juga menyerap sebagian besar momentum serangan musuh. Namun, kaum hitam bukanlah prajurit sembarangan. Di balik gelombang pertama yang terpental, para komandan lapangan mereka segera membaca kelemahan formasi pertahanan yang hanya dijaga oleh dua orang pendekar.

"Jangan biarkan mereka bernapas! Hantam terus titik tengahnya!" teriak seorang petinggi kaum hitam dengan suara melengking penuh amarah.

Puluhan prajurit pilihan segera melompat tinggi, mengayunkan senjata berat bermuatan racun hitam pekat yang langsung disemburkan ke arah permukaan perisai. Ketika cairan hitam itu mengenai dinding karang, suara desisan tajam terdengar. Asap tipis berbau busuk mengepul, menunjukkan bahwa racun tersebut perlahan-lahan mulai menggerus ketahanan energi perisai buatan Fathan dan Galin.

Fathan mengertakkan gigi, merasakan aliran tenaga di telapak tangannya bergetar hebat. "Galin, mereka menggunakan cairan pengurai racun! Pertahanan kita tidak akan bertahan lama jika mereka terus menekan dari sudut yang sama!"

Galin mengerahkan sisa tenaga dalamnya, menyalurkan energi tambahan melalui kedua telapak kakinya yang masih menancap kuat ke dalam tanah. Keringat dingin bercampur debu mengalir deras di pelipisnya. "Aku tahu! Tapi kita tidak boleh membiarkan satu pun dari mereka lolos ke arah warga desa!"

Di belakang mereka, suara tangisan anak-anak dan teriakan panik para pengungsi terdengar semakin jelas. Tekanan psikologis itu menghujam mental kedua pendekar secara bersamaan. Di satu sisi, mereka harus menahan beban fisik dari ratusan musuh yang terus mendesak; di sisi lain, mereka memikul tanggung jawab moral yang teramat berat untuk menyelamatkan masa depan desa tersebut.

"Fathan! Di sisi kiri perisai, retakannya mulai melebar!" seru Galin memperingatkan saat sebuah gada bermata duri menghantam keras sudut kiri dinding teratai.

Benar saja, garis-garis cahaya keemasan di sisi kiri mulai meredup, digantikan oleh jaring-jaring retakan hitam yang siap pecah kapan saja. Para prajurit kaum hitam yang melihat celah tersebut langsung bersorak girang. Mereka meningkatkan intensitas serangan, memusatkan seluruh tenaga dan senjata mereka ke satu titik yang mulai rapuh itu.

"Tahan sebentar lagi!" Fathan membentak keras, melompati batas energinya sendiri. Ia mengangkat tangan kanannya, mengalirkan seluruh sisa tenaga dalam di dada ke telapak tangannya, lalu menghantamkannya langsung ke tanah di balik perisai.

Darrr!

Sebuah gelombang kejut seketika menyembur keluar dari dalam tanah, menyapu puluhan prajurit kaum hitam yang berdiri terlalu dekat dengan perisai. Mereka terpental bagai daun kering diterpa badai, menjerit keras sebelum membentur pepohonan di sekitarnya. Namun, tindakan ekstrem tersebut harus dibayar mahal oleh Fathan. Darah segar tiba-tiba merembes keluar dari sudut bibirnya, menandakan bahwa meridian di dalam tubuhnya mulai mengalami tekanan berlebih akibat pengerahan tenaga yang melampaui batas wajar.

Galin melirik sekilas ke arah sahabatnya dengan tatapan khawatir. "Kau memaksakan diri, Fathan! Kondisi tubuhmu belum pulih sepenuhnya dari pertempuran di bukit kemarin!"

"Kalau aku tidak melakukannya, kita berdua akan mati di sini, dan warga di belakang kita akan dibantai tanpa ampun!" jawab Fathan dengan napas memburu, matanya menyala tajam menatap gelombang musuh kedua yang kini mulai merangsek maju dengan formasi yang jauh lebih terorganisir.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya