Kegelapan malam menyelimuti pesisir Teluk Karang, meredam suara deburan ombak yang menghantam karang-karang tajam. Di balik semak belukar yang lebat, pangkalan militer musuh tampak berkilau oleh lampu-lampu sorot bertegangan tinggi yang menyapu permukaan air secara berkala. Di tengah kompleks pertahanan yang dijaga ketat itu, sebuah kapal induk megah bersandar di dermaga utama, menjadi pusat komando operasi musuh di wilayah sektor selatan.
Kamil merapatkan tubuhnya ke tanah yang lembap, matanya tajam mengamati pola pergerakan patroli musuh dari balik teropong malam digitalnya. Di sampingnya, cetak biru digital pangkalan terapung itu berpendar samar di layar holopad kecil yang terlindungi dari pantulan cahaya.
"Patroli darat berotasi setiap tujuh menit sekali, sementara menara pengawas utama di sisi timur mengubah sudut sorotan lampu setiap empat setengah menit," bisik Kamil pelan, memastikan suaranya hanya bisa didengar oleh Rafar dan Yafid yang berada tepat di sampingnya.
Rafar, dengan senapan runduk canggih tersampir di punggungnya, mengangguk tegas. Ia memeriksa kembali magasin pelurunya, memastikan semuanya dalam kondisi prima. "Waktu jeda yang sangat singkat. Kita harus bergerak tepat di detik ketiga setelah lampu sorot bergeser ke utara, atau kita akan tertangkap basah oleh kamera termal."
Yafid, yang memegang kendali atas perangkat pemintas sinyal frekuensi radio, tersenyum tipis meski wajahnya tertutup cat penyamaran hitam. "Tenang saja, kawan. Aku sudah menyiapkan alat pengacak sinyal portabel. Begitu kita mendekati perimeter luar, posko komunikasi mereka akan mengalami gangguan statis selama dua puluh detik penuh. Itu cukup bagi kita untuk melompati pagar kejut."
Kamil menarik napas dalam-dalam, merasakan ketegangan yang merayap di setiap saraf tubuhnya. Malam ini adalah penentu. Gagal berarti seluruh rencana perlawanan yang telah disusun selama berbulan-bulan akan hancur lebur dalam sekejap.
"Dengar," kata Kamil serius, menatap kedua rekannya bergantian. "Operasi ini bukan sekadar tentang menyusup dan merusak sistem mereka. Ini adalah pertaruhan nyawa kita semua, dan yang lebih penting, masa depan orang-orang yang bergantung pada kita di persembunyian. Rafar, Yafid, kalian pimpin tim perintis untuk melumpuhkan menara suar penerang di sektor barat. Berikan jalan yang aman bagi Arka dan Tera untuk masuk ke lambung kapal induk."
"Paham, Komandan," jawab Rafar mantap.
"Aku akan memastikan sistem komunikasi mereka lumpuh total sebelum kalian mencapai pagar," imbuh Yafid sambil menepuk ransel berat berisi perangkat elektronik di punggungnya.
Tanpa membuang waktu lagi, ketiganya mulai merayap maju meninggalkan titik kumpul. Langkah mereka begitu senyap, menyatu dengan desau angin malam yang dingin. Di kejauhan, Arka dan Tera tampak bersiap di pos penantian kedua, menunggu aba-aba dari tim perintis untuk melangkah ke garis depan medan bahaya.
❖ ❖ ❖
Gerakan merayap tim perintis terhenti seketika ketika sorotan lampu pencari dari menara pengawas melintas hanya beberapa meter di atas kepala mereka. Aroma mesiu dan bau asin air laut bercampur menjadi satu, menciptakan suasana mencekam yang memenuhi rongga dada. Rafar memberi isyarat tangan agar Kamil dan Yafid menahan napas.
Begitu cahaya putih menyilaukan itu bergeser ke arah timur, Rafar bangkit setengah berjongkok, memberi komando tanpa suara. Mereka kini berada tepat di bawah bayang-bayang pagar kawat berduri bertegangan tinggi yang mengelilingi area dermaga kapal induk.
"Yafid, sekarang," bisik Rafar tajam.
Yafid segera mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk piringan dari dalam tasnya, lalu menempelkannya ke tiang penyangga pagar. Jemarinya bergerak cepat di atas layar pengendali mini. Dalam hitungan detik, lampu indikator merah yang berkedip di tiang tersebut berubah menjadi hijau padam.
Bzzzt... Suara dengungan listrik bertegangan tinggi seketika mati.
"Sistem pertahanan perimeter lumpuh. Kita punya waktu tepat sembilan belas detik sebelum sistem cadangan menyala otomatis," ujar Yafid cepat.
Tanpa suara, Rafar melompati pagar kawat dengan kelincahan seekor harimau, mendarat di atas tanah berumput pendek di sisi dalam tanpa menimbulkan suara gemerisik. Kamil menyusul tepat di belakangnya, disusul oleh Yafid yang membawa serta perangkat pengacak sinyal.
Namun, masalah pertama langsung menghadang. Tepat di depan jalur perlintasan mereka menuju menara suar penerang, dua orang prajurit musuh berpatroli dengan membawa senapan serbu otomatis dan seekor anjing pelacak militer jenis Belgian Malinois. Hewan itu tiba-tiba berhenti, menghentakkan telinganya, lalu mendengus ke udara sambil menatap ke arah tempat Kamil dan rekan-rekannya bersembunyi di balik tumpukan kontainer logistik kosong.
"Sial, penciuman anjing itu terlalu tajam," gerutu Rafar pelan, tangannya perlahan meraih pisau tempur di pinggangnya.
"Jangan bertindak gegabah, Rafar," cegah Kamil dengan suara berbisik yang tegas. "Jika kita menyerang mereka sekarang, suara tembakan atau lolongan anjing itu akan memicu alarm universal di seluruh pangkalan."
Anjing pelacak tersebut mulai mengeluarkan geraman tertahan, menarik rantai di tangan pawangnya untuk mendekati tumpukan kontainer. Sang prajurit musuh mengerutkan kening, mengangkat senapannya ke posisi siaga, lalu berbicara melalui mikrofon di kerah seragamnya untuk melaporkan kecurigaan.
"Sektor empat, ada anomali biologis dekat kontainer logistik. Periksa area tersebut," ucap prajurit itu dengan suara berat yang menggema melalui gelombang radio portabel.
Jantung Kamil berdegup kencang. Waktu mereka tersisa sangat sedikit sebelum sistem pagar menyala kembali dan patroli tambahan datang.
"Yafid, bisakah kau alihkan perhatian anjing itu?" tanya Kamil cepat.
"Beri aku waktu lima detik," balas Yafid sambil memodifikasi frekuensi pada perangkat radionya.
Ia mengarahkannya ke arah pengeras suara darurat yang tergantung di tiang lampu terdekat. Dengan satu sentuhan terakhir, Yafid memancarkan gelombang suara ultrasonik berfrekuensi tinggi yang hanya bisa didengar oleh pendengaran sensitif hewan.
Seketika itu juga, anjing pelacak tersebut berhenti, melepaskan gonggokan keras kesakitan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan liar, mengabaikan perintah sang pawang. Sang prajurit musuh menjadi panik, mencoba menenangkan hewan peliharaannya yang mendadak liar.
"Sekarang! Bergerak!" seru Rafar.
❖ ❖ ❖
Memanfaatkan kepanikan sang prajurit dan anjing pelacak yang kehilangan kendali, Rafar dan Kamil melesat secepat kilat dari balik kontainer. Dalam gerakan sinkron yang mematikan, Rafar melumpuhkan prajurit musuh dengan kuncian leher cepat hingga pria berseragam itu pingsan seketika tanpa sempat mengeluarkan suara. Yafid dengan Sigap menangkap tubuh sang prajurit sebelum jatuh ke tanah, lalu menyeretnya ke tempat yang tersembunyi.
"Kerja bagus. Mari kita lanjutkan sebelum anjing itu berhenti mengamuk," kata Kamil sambil berlari membungkuk menuju struktur dasar menara suar penerang sektor barat.