SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Percikan Kehangatan di Tepi Pantai Utara

Suara deburan ombak malam terdengar berirama, menghantam karang-karang terjal di sepanjang garis Pantai Utara. Buih putihnya memantulkan cahaya rembulan yang tertutup tipis oleh gumpalan awan kelabu. Di atas pasir yang basah dan dingin, puluhan prajurit beristirahat dalam siaga tinggi. Mereka duduk berkelompok di balik bayangan gundukan bukit pasir, menyembunyikan diri dari pengintaian musuh yang sewaktu-waktu bisa melintas.

Di sela waktu menunggu aba-aba penyerangan, Arka menyelimuti pundak Tera yang kedinginan oleh terpaan angin laut. Kain jubah wol tebal yang kasar itu langsung memberikan kehangatan begitu membungkus tubuh Tera yang sejak tadi bergetar.

"Angin utara boleh dingin, Tera, tapi kehangatan niat kita akan selalu melindungi tempat ini," tutur Arka lembut sembari menatap mata anggun sang kekasih.

Tera mendongak, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan debar di dadanya. Aroma garam laut dan tanah basah bercampur menjadi satu, menemani keheningan yang tercipta di antara mereka berdua. Ia merapatkan jubah pemberian Arka, merasakan sisa kehangatan tubuh pemuda itu masih tertinggal di dalam serat-serat kainnya.

"Aku tidak takut pada dinginnya angin malam ini, Arka," jawab Tera pelan, suaranya hampir tenggelam di bawah deru ombak. "Yang kutakutkan adalah apa yang akan terjadi setelah fajar menyingsing. Pertempuran di benteng pelabuhan bukanlah sesuatu yang bisa kita anggap remeh. Pasukan Jenderal Vharis dikenal tidak kenal belas kasihan."

Arka mengangguk perlahan. Wajahnya yang tegas tampak terpahat oleh bayangan temaram cahaya bulan. Ia tahu betul risiko dari misi besar yang sedang mereka emban saat ini. Namun, ia juga tahu bahwa mundur bukanlah sebuah pilihan. Jika mereka gagal malam ini, seluruh wilayah pesisir utara akan jatuh ke tangan tirani yang haus kekuasaan.

"Kita tidak sedang berjalan sendirian, Tera," ucap Arka meyakinkan, jemarinya menggenggam jemari Tera yang terasa dingin. "Ada ratusan orang di belakang kita yang menggantungkan harapan pada langkah kita. Pasukan perlawanan telah bersiap di sisi timur, sementara kelompok sabotase menunggu aba-aba di gerbang utama. Kita hanya perlu menjalankan rencana ini dengan kepala dingin."

Tera menatap genggaman tangan itu. Ada kekuatan luar biasa yang mengalir dari sana, menepis keraguan yang sempat berkecamuk di dalam benaknya. Sebagai ahli strategi yang merancang peta penyerangan ini, Tera sadar betul setiap detail kecil sangat menentukan hidup mati mereka. Namun, di hadapan Arka, ia diizinkan untuk sejenak menjadi manusia biasa yang merindukan kedamaian.

"Ingatkah kamu saat pertama kali kita duduk di tepi pantai ini, bertahun-tahun yang lalu sebelum kekacauan ini dimulai?" tanya Tera tiba-tiba, senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. "Dulu, kita hanya dua orang anak muda yang bermimpi melihat dunia tanpa perang."

"Aku ingat setiap detik momen itu, Tera," balas Arka tersenyum hangat. "Dan mimpiku sampai detik ini tidak pernah berubah. Aku ingin mengakhiri semua kekacauan ini, agar kita bisa kembali duduk di sini tanpa harus memikirkan pedang atau strategi perang."

Percakapan singkat itu terhenti ketika sebuah bayangan mendekat dari arah barat. Senjata terhunus setengah, namun segera diturunkan begitu mengenali sosok yang datang. Itu adalah Seno, salah seorang komandan lapangan kepercayaan mereka, yang datang membawa laporan penting mengenai posisi pasukan musuh di mercusuar tua.

❖ ❖ ❖

Seno merunduk di hadapan Arka dan Tera, napasnya sedikit memburu setelah berlari menyusuri bibir pantai. "Laporan dari pos pengintai depan, Arka. Penjagaan di sekitar mercusuar ternyata jauh lebih ketat dari perkiraan awal kita. Jenderal Vharis menambah dua peleton pasukan lapis baja untuk mengamankan jalur logistik utama."

Tera langsung bangkit dari duduknya, mengibaskan pasir yang menempel di ujung jubahnya. Insting taktisnya langsung mengambil alih. Ia membentangkan gulungan peta kulit domba di atas sebuah batu datar yang tersapu cahaya rembulan. Dengan sebatang ranting kayu kecil, ia menunjuk titik-titik krusial yang digambar dengan tinta hitam.

"Dua peleton tambahan?" gumam Tera serius. "Itu artinya mereka mengantisipasi serangan kita dari arah daratan. Tapi bagaimana dengan sisi laut? Apakah kapal patroli mereka sudah bergeser?"

"Itulah masalahnya, Tera," jawab Seno dengan nada suara tertahan. "Kapal-kapal perang mereka membentuk formasi pagar betis di Teluk Utara. Mereka sengaja menutup jalur pelarian kita ke arah timur. Jika kita memaksakan diri menyerang mercusuar sekarang, kita bisa terjepit di antara pasukan darat dan artileri kapal."

Arka mendekat, membungkuk untuk mengamati peta yang dibentangkan Tera. Alisnya berkerut tajam, membaca situasi genting yang kini mengancam keselamatan seluruh pasukan. Waktu penyerangan yang sudah disepakati tinggal hitungan jam. Mengubah rencana secara mendadak di tengah malam buta adalah sebuah perjudian besar yang bisa berujung pada kekacauan fatal.

"Jika kita menunda penyerangan hingga besok malam, pasukan musuh akan mendapat tambahan pasokan amunisi dari daratan selatan," kata Arka menganalisis. "Kita tidak punya pilihan selain tetap bergerak malam ini. Tapi kita harus mengubah strategi pendekatan."

"Bagaimana caranya?" tanya Seno cepat.

"Kita gunakan jalur air bawah tebing," usul Tera tanpa ragu. Matanya berbinar tajam, memancarkan kecerdasan yang membuat musuh-musuhnya kerap merasa gentar. "Arus laut di bawah tebing karang memang berbahaya, tapi celah itu tidak dijaga ketat oleh kapal patroli karena mereka mengira tidak ada manusia yang mampu melewatinya dalam cuaca seperti ini."

Seno tertegun mendengar usulan tersebut. "Melewati celah tebing karang utara? Itu bunuh diri, Tera! Gelombang di sana cukup kuat untuk menghancurkan perahu kayu mana pun."

"Kita tidak menggunakan perahu," sahut Arka tegas, seolah langsung memahami arah pemikiran kekasihnya. "Kita menggunakan pelampung bambu dan menyelam bersama arus. Hanya tim kecil yang bergerak cepat. Tugas kita bukan menghancurkan seluruh pasukan mereka di mercusuar, melainkan melumpuhkan meriam utama agar kapal perlawanan kita bisa masuk ke teluk."

Situasi di sekitar mereka mendadak tegang. Keputusan besar harus diambil dalam hitungan menit. Di satu sisi, jalur tebing karang menawarkan jalan masuk yang tidak terduga, namun di sisi lain, nyawa para prajurit yang melaluinya berada di ambang maut. Tera menatap Arka, mencari kepastian di dalam mata pemuda itu. Tidak ada kata-kata keraguan yang keluar, melainkan sebuah persetujuan mutlak.

"Baiklah," ucap Seno akhirnya dengan napas berat. "Aku akan memimpin tim penyelam gelombang pertama. Tapi Arka, kau harus tetap berada di garis komando utama bersama Tera. Pasukan pendukung darat membutuhkan kehadiran kalian berdua saat sinyal mercusuar dipadamkan."

"Tidak, Seno," tolak Arka tegas. "Aku akan memimpin tim penyelam bersama-sama denganmu. Tera akan memegang kendali komando utama di daratan."

Tera hendak melangkah protes, namun Arka menahan bahunya dengan lembut, memberikan isyarat penuh makna.

❖ ❖ ❖

Perdebatan kecil di antara mereka terpaksa dihentikan ketika suara derap kuda dari kejauhan mulai terdengar samar-samar, memecah keheningan malam di pesisir utara. Pasokan patroli musuh tampaknya datang lebih cepat dari jadwal rutin mereka. Para prajurit perlawanan segera tiarap, merapatkan tubuh ke dalam lekukan bukit pasir dan kegelapan malam.

"Mereka datang," bisik Seno sambil menghunus belati pendek dari sarungnya di pinggang.

Lihat selengkapnya