Malam itu, langit di atas Teluk Bidadari tampak begitu pekat, seolah tersaput tinta hitam pekat yang menutupi ribuan bintang. Angin laut bertiup kencang, membawa serta bau amis garam dan firasat buruk yang merayap di setiap pori-pori kulit. Di bibir pantai, gelombang besar bergulung-gulung menghantam karang dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga, seakan menyuarakan amukan alam yang tak terbendung.
Para prajurit penjaga pantai berdiri tegang di balik benteng kayu darurat. Sorot mata mereka menyapu permukaan air yang bergolak. Di tengah gulungan ombak yang ganas, bayangan-bayangan hitam mendadak muncul bagaikan hantu dari dasar samudra. Perahu-perahu tanpa suara merapat dengan kecepatan yang tak wajar, memanfaatkan kegelapan malam sebagai selimut penyamaran.
"Siaga! Ada penyusup dari arah laut!" seru seorang komandan garnisun dengan suara parau, mengiris keheningan malam.
Belum sempat para penjaga menarik busur panah mereka, permukaan air meledak ke udara. Buih putih berhamburan bersamaan dengan melesatnya tiga sosok bertubuh kekar tinggi besar ke daratan. Mereka mendarat tanpa suara di atas pasir basah, seolah bobot tubuh mereka tak lebih ringan dari sehelai bulu.
Ciri paling mencolok dari ketiga orang itu adalah janggut mereka yang panjang terurai hingga ke dada, berwarna kelabu pekat yang berkilat aneh diterpa cahaya obor. Mereka adalah Tiga Iblis Samudra Berjanggut Kelabu—pimpinan tertinggi dari kaum hitam yang selama ini namanya saja sudah mampu membuat anak-anak kecil di sepanjang pesisir menghentikan tangisan mereka.
"Bunuh semua yang menghalangi jalan!" gerung si sulung dari ketiga iblis itu, suaranya menggelegar bagaikan Guntur di tengah badai.
Pertempuran tak seimbang langsung pecah. Para prajurit penjaga pantai, betapapun gagahnya mereka, bagaikan jerami kering di hadapan badai amukan kaum hitam. Senjata-senjata tajam berkelebat di dalam kegelapan. Darah segar menyiprat ke pasir pantai, mengubah warna keemasan pasir menjadi merah pekat yang berbau amis.
"Tahan mereka! Jangan biarkan mereka melewati batas gerbang!" teriak Ki Badra, seorang pendekar sepuh yang memimpin pertahanan malam itu.
Ki Badra melesat maju dengan sebilah golok bermata lebar di tangan kanannya. Tenaga dalam tingkat tinggi mengalir deras di setiap urat nadinya, membuat angin di sekitarnya berputar kencang. Ia mengincar si sulung Tiga Iblis Samudra yang berdiri paling depan dengan seringai mengerikan di wajahnya.
"Manusia bodoh yang mencari mati!" cemooh si sulung tanpa sedikit pun bergeser dari tempatnya berdiri.
❖ ❖ ❖
Benturan antara golok Ki Badra dan trisula di tangan si sulung menciptakan percikan api yang menyilaukan mata. Suara logam beradu nyaring menggema di antara deru ombak malam. Ki Badra merasakan getaran hebat menjalar dari lengannya hingga ke dada, membuat napasnya seketika sesak.
"Ilmu apa ini?" batin Ki Badra terkejut bukan main, menyadari bahwa tenaga dalam lawannya jauh melampaui perkiraannya.
"Kau kira golok tua berkarat itu bisa melukai kulit kami?" seru si sulung dengan nada merendahkan. Ia memutar trisulanya dengan gerakan melingkar yang menciptakan desiran angin beracun.
Bau busuk yang menyengat langsung tercium begitu trisula itu mendesis di udara. Ki Badra terpaksa menarik mundur langkahnya sambil menebas angin untuk menghalau kabut beracun yang mulai mengepung wajahnya. Namun, kecepatan si sulung jauh di luar dugaan. Senjata trisula beracun itu meluncur kilat bagaikan lidah ular berbisa, mengincar titik kematian di dada sang pendekar sepuh.
"Awas, Ki Badra!" teriakan peringatan terdengar dari arah belakang.
Seorang pendekar muda bernama Arya melompat bagaikan rajawali, mengayunkan pedang panjangnya tepat di antara lintasan trisula dan dada Ki Badra. Dentingan keras kembali terdengar. Arya terpelanting mundur tiga langkah, sementara telapak tangannya terasa kebas dan menghitam akibat uap racun yang menguar dari senjata musuh.
"Anak muda, kau ingin menyusul leluhurmu lebih cepat rupanya," desis si sulung dengan mata menyipit tajam.
"Kalianlah penjahat yang mengotori tanah pesisir ini! Kejahatan kalian harus dihentikan malam ini juga!" balas Arya lantang, meski keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Di sisi lain, dua saudara kembar dari Tiga Iblis Samudra Berjanggut Kelabu—si tengah dan si bungsu—mulai bergerak. Mereka tidak ikut mengeroyok Ki Badra, melainkan melompat melewati barisan pertahanan depan dan menebarkan maut di antara para prajurit. Dengan mengandalkan ilmu Gelombang Karang Pemecah Jiwa, setiap pukulan tangan kosong mereka yang dihantamkan ke udara mampu menciptakan gelombang kejut tak kasat mata.
Dugh!
Seorang prajurit terpental sejauh sepuluh meter tanpa ada senjata yang menyentuh tubuhnya. Darah segar menyembur deras dari mulut prajurit malang itu sebelum nyawanya melayang seketika akibat hancurnya organ dalam di dada. Ilmu Gelombang Karang Pemecah Jiwa memang terkenal kejam; ia merusak jiwa dan raga korban dari dalam tanpa meninggalkan luka luar yang berarti.
"Jangan biarkan mereka mendekati permukiman warga!" seru Arya, panik melihat korban berjatuhan begitu cepat.
"Fokus pada lawanmu di hadapanmu, anak muda! Kematianmu ada di ujung trisula ini!" potong si sulung yang kembali menyerang dengan membabi buta, menutup setiap celah bagi Arya untuk menolong rekan-rekannya.
❖ ❖ ❖