SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Jebakan Jaring Rantai Beracun

Malam di atas perairan Teluk Cirebon merangkak lambat, membawa aroma asin laut yang bercampur pekat dengan bau anyir darah serta belerang. Di tengah gulita yang hanya diterangi oleh pantulan cahaya obor dari armada kapal musuh, sebuah perahu kecil meluncur tanpa suara. Di atasnya, Arka berdiri tegak dengan mata tajam menatap sosok kapal induk raksasa yang menjulang tinggi bagaikan karang hitam di tengah badai. Di sampingnya, Tera mengatur napasnya, merentangkan jemari tangannya untuk memastikan aliran tenaga dalam di sekujur tubuhnya telah berjalan sempurna tanpa hambatan.

"Mereka menjaga kapal induk itu terlalu longgar di bagian buritan, Arka," bisik Tera pelan, matanya menyipit memperhatikan geladak kapal yang tampak lengang dari kejauhan. "Atau, itu memang sengaja disiapkan untuk menyambut kita?"

Arka mengulas senyum tipis, sudut bibirnya terangkat penuh keyakinan. "Sengaja atau tidak, kita tidak punya pilihan lain, Tera. Kitab Pusaka Surya Baskara dan sandera dari Perguruan Teratai Putih ada di dalam perut kapal itu. Kita harus merebutnya kembali malam ini juga sebelum fajar menyingsing."

Tanpa membuang waktu lebih lama, Arka memberi isyarat dengan menganggukkan kepala. Keduanya melompat bersamaan dari perahu kecil, mengerahkan ilmu keringanan tubuh tingkat tinggi. Tubuh mereka melesat ke udara bagaikan dua ekor burung elang yang menerobos kabut malam, melayang ringan sebelum akhirnya mendarat tanpa suara sedikit pun di atas geladak kayu kapal induk musuh yang luas dan basah oleh embun laut.

Suasana di atas geladak terasa sangat sunyi, seolah-olah seluruh awak kapal telah tertidur lelap. Namun, keheningan itu justru memancarkan aura bahaya yang teramat pekat. Arka mengangkat tangan kanannya, memberi aba-aba agar Tera bersiaga penuh dengan pedang di genggamannya.

"Tetap di belakangku," bisik Arka memperingatkan. "Ada sesuatu yang tidak beres dengan bau udara di sekitar sini. Terlalu amis dan menyesakkan."

Tera mengangguk tegas, menggeser posisi kaki kanannya sedikit ke belakang untuk kuda-kuda yang stabil. "Aku merasakannya juga, Arka. Hati-hati, instingku mengatakan kita sedang berjalan ke dalam sarang laba-laba."

❖ ❖ ❖

"Terlambat untuk menyadarinya, tikus-tikus darat!" sebuah suara melengking tiba-tiba memecah kesunyian malam dari atas anjungan kapal.

Seketika itu juga, puluhan obor di sekeliling geladak menyala terang secara bersamaan, mengubah malam yang gelap gulita menjadibenderang bagaikan siang hari. Dari balik dinding kemudi dan tumpukan peti kargo, puluhan prajurit bayangan hitam bermunculan sambil membawa busur panah teracung lurus ke arah Arka dan Tera. Namun, bukan panah biasa yang mereka siapkan. Di ujung tali busur tersebut, terikat jaring-jaring logam hitam yang berkilau mengerikan di bawah cahaya obor.

"Tenggelamkan mereka ke dasar laut!" perintah suara misterius itu penuh seringai kemenangan.

Sebelum Arka sempat melompat mundur untuk mencari perlindungan, puluhan prajurit bayangan hitam itu melemparkan jaring rantai berbisa yang telah dilumuri dengan minyak rawa beracun dari empat penjuru arah mata angin. Jaring tersebut berdesing di udara, mengeluarkan suara gemerincing logam yang memekakkan telinga sebelum akhirnya mengurung ruang gerak Arka dan Tera secara mendadak dan tanpa ampun.

"Sial! Kita terjebak!" seru Arka dengan suara menggelegar, wajahnya berubah tegang.

"Arka, apa yang harus kita lakukan?" Tera berteriak panik, mencoba mengayunkan pedangnya untuk menebas jaring yang meluncur deras ke arah mereka. Namun, tebasan pedangnya hanya memercikan bunga api ketika beradu dengan mata rantai besi baja hitam yang tebal dan dilapisi racun pekat.

"Jangan sentuh jaring itu secara langsung, Tera!" bentak Arka cepat. Ia langsung mendorong tubuh Tera ke samping untuk menghindari hantaman gelombang jaring pertama.

Namun, jaring rantai itu bergerak sangat lincah bagaikan makhluk hidup yang memiliki kesadaran sendiri. Ketika Arka dan Tera mencoba melompat ke atas untuk menghindari kurungan bawah, jaring-jaring dari empat penjuru tersebut berpadu di udara, menutup rapat seluruh jalur pelarian ke atas dan ke samping, hingga akhirnya membungkus tubuh mereka dengan erat di atas lantai geladak kapal.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya