SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Pengintai Cerdik Menemukan Celah

Dari jauh, Yafid dan Rafar meniupkan isyarat peluit khusus. Kamil memberikan aba-aba titik lemah simpul jaring raksasa tersebut melalui sandi ketukan kayu yang hanya dipahami oleh rombongan Perguruan Teratai.

Desir angin malam di perbukitan karang Cirebon membawa aroma garam laut yang pekat dan debu mesiu yang menyesakkan dada. Di balik rimbunnya semak belukar berduri, Yafid menyipitkan mata, menatap tajam ke arah formasi musuh yang berjaga di sekitar gerbang benteng pertahanan Kaum Hitam. Di sampingnya, Rafar memegang sebatang bambu kecil yang ujungnya telah dilubungi khusus untuk menghasilkan nada rendah menyerupai burung hantu malam.

"Keadaan di pos depan semakin ketat, Rafar. Penjagaan mereka berlapis tiga," bisik Yafid pelan, nyaris tak terdengar oleh deru angin.

"Jangan khawatir, Yafid. Kita hanya perlu mengalihkan perhatian mereka sebentar saja agar Kamil bisa membaca pola simpul jaring itu," balas Rafar dengan nada tenang, jemarinya meraba kantong berisi peluit isyarat khusus yang terbuat dari tulang burung.

Tanpa membuang waktu lebih lama, keduanya mulai meniupkan peluit dengan ritme bersahutan. Suara itu melengking tipis, menembus kegelapan malam, terdengar persis seperti dengkingan binatang buruan yang terluka di tengah hutan. Para prajurit Kaum Hitam yang berjaga di pos depan langsung menoleh, saling berpandangan dengan curiga.

"Hei, suara apa itu? Periksa ke sana!" bentak salah seorang komandan gerbang kepada dua anak buahnya.

Begitu dua orang pengawal itu beranjak dari pos penjagaan untuk memeriksa sumber suara di balik semak, celah pertahanan yang dicari-cari akhirnya terbuka. Di tempat tersembunyi lainnya, Kamil yang sejak tadi mengamati dari balik batu besar langsung bergerak cepat. Ia mengambil sepotong ranting kayu kering dan mulai mengetuk-ngetuk permukaan batu karang di hadapannya dengan pola tertentu: tiga ketukan pendek, satu ketukan panjang, disusul dua ketukan cepat.

Sandi ketukan itu bergema pelan melalui getaran tanah karang, menyampaikan informasi vital mengenai titik lemah simpul jaring raksasa yang mengurung jalur masuk utama perkemahan musuh.

❖ ❖ ❖

Ketukan kayu dari Kamil merambat cepat melalui akar-akar pohon dan bebatuan, mencapai telinga para anggota Perguruan Teratai yang bersiaga di balik jurang batu.

"Kau dengar itu, Laras? Itu sandi dari Kamil," ucap Kian sambil menempelkan telinganya ke permukaan batu cadas. Wajahnya yang semula tegang kini sedikit mengendur, digantikan oleh kilatan optimisme.

Laras mengangguk paham, jemarinya dengan sigap meraba tas perlengkapan di pinggangnya untuk memastikan cairan pelarut tambang yang dibawanya siap digunakan. "Tiga ketukan pendek dan satu ketukan panjang. Artinya, simpul utama jaring baja itu terletak persis di bawah tiang penyangga kayu jati di sisi barat laut."

"Tepat sekali," sahut Raga yang berdiri di sisi mereka sambil menyilangkan tangan di dada. "Tetapi masalahnya, tempat itu tepat berada di bawah sorotan obor pasukan pengawas. Kita butuh pengalihan yang lebih besar daripada sekadar tiupan peluit Yafid dan Rafar."

"Biar aku dan Bara yang urus bagian itu," seru sebuah suara tegas dari arah belakang.

Arka dan Tera muncul dari balik bayangan tebing, langkah kaki mereka begitu ringan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Di belakang mereka, Bara menyeringai lebar sambil memutar-mutar gada besi pendek di tangan kanannya.

"Bagaimana caranya, Arka? Penjaga di sana tidak sedikit," tanya Kian meminta kejelasan.

"Kita buat kekacauan di gudang logistik bagian timur laut," jawab Arka tenang namun penuh wibawa. "Begitu api membakar perbekalan mereka, seluruh perhatian pasukan inti Kaum Hitam akan bergeser ke sana. Saat itulah Laras dan Kian menyusup untuk melumpuhkan jaring pengaman, sementara Tera dan aku memimpin serangan langsung ke pusat komando."

Tera menarik pedangnya setengah inci dari sarung, memperlihatkan kilatan baja dingin yang memantulkan cahaya bintang. "Rencana yang bagus. Ki Rante Wulung tidak akan menduga bahwa kita menyerang dari dua arah sekaligus."

Lihat selengkapnya