SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Keanggunan Tari Selendang Dua Teratai

Malam di Lembah Besi Tua terasa semakin pekat dan menyesakkan. Suara deru angin malam bergesekan dengan dinding-dinding ngarai yang curam, menciptakan bunyi melengking menyerupai lolongan hantu penasaran. Di bawah naungan langit tanpa bintang itu, sebuah pertempuran hidup dan mati tengah berkecamuk dengan intensitas yang mengerikan. Ratusan prajurit bayaran dari gerombolan Lawan Arus mengepung ketat sebuah pelataran batu yang luas, mengunci setiap celah pelarian dengan barisan perisai baja berduri dan tombak-tombak panjang yang terhunus tajam.

Di tengah kepungan maut tersebut, Tera berdiri dengan napas memburu. Keringat dingin bercampur debu mengalir deras di pelipisnya. Pakaian ringannya robek di beberapa bagian akibat sabetan senjata musuh sebelumnya, namun tekad di dalam matanya menyala lebih terang daripada obor-obor bambu yang mengelilingi arena. Di sampingnya berdiri sosok anggun bergaun putih bersih yang memancarkan aura ketenangan luar biasa—sang pendekar wanita Teratai Putih. Kain sutra putih yang melilit di lengannya tampak berkilauan memantulkan cahaya api, sama sekali tidak ternoda oleh kotornya kancah pertempuran.

"Kondisi kita terjepit, Tera," bisik Teratai Putih lembut, suaranya tetap terdengar tenang meskipun puluhan busur panah di kegelapan sedang membidik ke arah mereka. "Musuh sengaja mengurung kita dalam formasi jaring laba-laba besi. Jika kita salah melangkah sedikit saja, rantai-rantai berduri itu akan merobek pertahanan kita."

"Aku tahu, Nyonya," jawab Tera, mencengkeram hulu pedangnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Tetapi kita tidak boleh menyerah di sini. Kamil telah berkorban banyak untuk memberikan kita celah informasi."

"Benar. Kamil telah mempertaruhkan nyawanya untuk menyusup ke markas musuh dan menemukan kelemahan formasi ini," lanjut Teratai Putih sambil menatap selembar peta usang berlumuran darah yang kini berada di genggaman Tera. "Petunjuk darinya adalah kunci utama kita untuk keluar dari labirin maut ini hidup-hidup."

Tera mengangguk cepat. Peringatan dan petunjuk taktis dari Kamil yang ia terima sesaat sebelum pemuda itu terluka parah kini terngiang jelas di benaknya. Kamil menemukan bahwa poros kekuatan jaring rantai baja yang dikendalikan oleh pasukan Lawan Arus terletak pada titik pusat gravitasi yang tidak seimbang di sisi timur pelataran.

"Kamil berkata, kita harus menyerang titik pertemuan rantai itu secara bersamaan dengan harmoni sempurna," ujar Tera dengan nada penuh keyakinan. "Tidak boleh ada keraguan, tidak boleh ada ego pribadi. Gerakan kita harus menyatu bagai dua kuntum bunga teratai yang mekar di atas air."

Teratai Putih tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh wibawa yang meredakan ketegangan di dada Tera. "Kalau begitu, mari kita tunjukkan pada mereka arti sebenarnya dari keanggunan yang mematikan. Bersiaplah, Tera. Angkat selendang sutramu dan selaraskan pernapasanmu dengan detak jantungku."

❖ ❖ ❖

Di seberang pelataran, komandan pasukan Lawan Arus yang bertubuh gempal dan memegang kapak algojo besar tertawa gelak. Suaranya memecah keheningan malam, penuh nada meremehkan. "Kalian pikir bisikan-bisikan pengkhianat itu bisa menyelamatkan kalian? Bodoh! Jaring rantai baja hitam ini ditempa dari bijih besi pilihan dan direndam dalam racun bangkai. Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa lolos darinya!"

"Jangan banyak bicara, Majikan Rantai!" seru Tera tajam, mengangkat selendang sutra pemberian Teratai Putih dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap menggenggam pedang.

"Habisi mereka! Tarik jaringnya sekarang juga!" bentak sang komandan dengan geram, melambaikan tangan kanannya ke udara.

Seketika itu juga, puluhan algojo di balik kegelapan menarik rantai-rantai besi raksasa yang mengelilingi pelataran. Suara gemerincing logam yang bergesekan menciptakan bunyi bising yang memekakkan telinga. Jaring rantai berduri itu mulai menyusut, bergerak maju secara serentak dari segala penjuru, mempersempit ruang gerak Tera dan Teratai Putih dalam hitungan detik. Dinding besi berduri itu tampak bagai raksasa kelaparan yang bersiap menelan mangsanya bulat-bulat.

"Ruang gerak kita tinggal tiga langkah lagi, Nyonya!" teriak Tera, merasakan hembusan angin dingin dari besi berduri yang semakin mendekat.

"Jangan panik, Tera. Perhatikan ritmenya," balas Teratai Putih tanpa sedikit pun mengubah posisinya yang anggun. Matanya terpejam sejenak, merasakan getaran yang merambat melalui tanah berbatu di bawah kaki mereka. "Musuh mengerahkan seluruh tenaga di sisi barat dan selatan untuk menekan kita, yang berarti titik lemah yang ditunjukkan Kamil di sisi timur kini berada dalam kondisi paling longgar namun rapuh."

"Tetapi para pemanah di atas tebing mulai melepaskan anak panah!" seru Tera lagi sambil menangkis sebatang anak panah beracun yang melesat cepat ke arah wajahnya menggunakan ujung pedangnya.

Lihat selengkapnya