Malam di pelabuhan Cirebon menyisakan bau anyir darah yang bercampur dengan aroma garam laut. Di atas geladak kapal utama yang menjadi saksi bisu pertempuran sengit sebelumnya, keheningan merayap perlahan menggantikan suara dentingan baja. Azalia dan Risha berdiri berdampingan, napas keduanya masih sedikit memburu setelah mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk menaklukkan para pengawal bayaran Jenderal Kaelen. Di tangan Azalia, sebuah gulungan dokumen rahasia yang ditemukan dari ruang kapten musuh terbuka setengah, menampilkan deretan sandi dan stempel lilin merah yang tidak asing bagi dunia persilatan tingkat atas.
"Dokumen ini..." bisik Azalia, jemarinya meraba tekstur kertas kulit rusa yang tebal dan berkualitas tinggi, jauh melampaui standar perlengkapan armada bajak laut biasa. "Isinya jauh lebih berbahaya daripada sekadar rencana penjarahan harta benda pelabuhan."
Risha melangkah mendekat, matanya menyipit membaca bait-bait tulisan sandi yang terukir rapi dengan tinta emas di atas gulungan tersebut. "Apa yang kau temukan, Azalia? Apakah ada petunjuk mengenai siapa dalang di balik serangan malam ini?"
"Lebih dari itu, Risha," jawab Azalia dengan nada suara yang bergetar tertahan oleh kemarahan yang mendalam. "Serangan ke Cirebon ini bukanlah aksi kriminal acak yang dilakukan oleh kelompok perampok pesisir. Ini adalah titik awal dari sebuah badai besar yang akan menghancurkan fondasi seluruh dunia persilatan Nusantara."
"Jangan bertele-tele, katakan apa maksud dokumen itu sebenarnya," desak Risha, tangannya secara insting menggenggam hulu pedang peraknya.
"Dokumen kapal ini memuat perjanjian rahasia antara sisa-sisa kekuatan gelap pesisir dengan kekuatan asing dari seberang lautan. Mereka menyebut diri mereka sebagai Persekutuan Kaum Hitam Lintas Laut," jelas Azalia sambil menatap tajam ke arah Risha. "Tujuan akhir mereka bukan sekadar menguasai Cirebon, melainkan memonopoli seluruh jalur perdagangan maritim dan darat di rimba persilatan tanah air."
Risha terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya. Angin malam pesisir bertiup kencang, menerbangkan ujung jubah mereka yang ternoda abu kebakaran. "Monopoli jalur perdagangan? Jika jalur utama rempah dan jalur sutra persilatan jatuh ke tangan kaum hitam, maka seluruh perguruan lurus di daratan akan kehilangan pasokan logistik dan terisolasi dalam hitungan bulan."
"Tepat sekali," sahut Azalia dengan suara dingin. "Mereka ingin melumpuhkan jalur ekonomi persilatan terlebih dahulu sebelum menghancurkan perguruan-perguruan besar satu per satu tanpa perlawanan berarti."
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, matahari menerbitkan sinarnya di atas reruntuhan dermaga Cirebon yang mulai dibersihkan oleh warga setempat. Azalia dan Risha tidak punya waktu untuk beristirahat. Mereka segera membawa dokumen rahasia tersebut ke paviliun pertemuan darurat di markas besar perlawanan lokal, tempat para sesepuh dan tokoh persilatan Cirebon berkumpul untuk mendengarkan laporan langsung dari medan pertempuran.
Di dalam ruangan yang beraroma kayu gaharu itu, Ki Ageng Cirebon—seorang pendekar sepuh berambut putih dan janggut panjang yang memimpin aliansi pertahanan lokal—menyimak dengan seksama setiap penjelasan yang diberikan oleh Azalia. Wajah tua sang sesepuh tampak semakin tegang seiring berjalannya cerita, sementara para murid senior di sekelilingnya saling bertukar pandang dengan ekspresi cemas.
"Jadi, anak muda, kau yakin bahwa penyerangan ini diotaki oleh persekutuan lintas laut?" tanya Ki Ageng Cirebon dengan suara berat yang memenuhi ruangan. "Bukan rahasia lagi bahwa kaum hitam di pesisir utara sering berulah, tetapi melibatkan kekuatan asing adalah bentuk pengkhianatan terhadap bumi pertiwi."
"Kami memiliki bukti otentik di tangan kami, Ki Ageng," kata Risha sambil meletakkan gulungan dokumen dan stempel lilin merah di atas meja kayu jati yang besar. "Stempel ini adalah cap resmi dari Persatuan Bayangan Samudra Seberang, sebuah aliansi gelap yang selama puluhan tahun beroperasi di perairan internasional dan jarang menyentuh daratan Nusantara secara terbuka."
"Ini buruk, sangat buruk," gumam Ki Ageng Cirebon sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Jika persekutuan kaum hitam lintas laut ini telah berhasil membangun basis logistik rahasia di sepanjang pesisir pulau Jawa, itu artinya mata-mata mereka telah menyusup jauh ke dalam struktur birokrasi perdagangan kita."
"Apakah krisis ini hanya akan berdampak pada wilayah Cirebon saja, Ki Ageng?" tanya Azalia dengan nada menyelidik, mencondongkan tubuhnya ke depan meja.
"Tidak, Nak. Dampaknya akan jauh lebih luas dari yang kalian bayangkan," jawab Ki Ageng Cirebon dengan tatapan menerawang penuh kepedulian. "Jalur perdagangan di rimba persilatan adalah urat nadi kehidupan. Di sanalah berbagai perguruan mendapatkan bahan obat-obatan langka, senjata pusaka, hingga beras untuk menghidupi ribuan murid mereka. Jika jalur itu dikuasai oleh mereka, kelaparan dan perpecahan akan terjadi di kalangan pendekar dalam waktu singkat."
Situasi di dalam paviliun mendadak menjadi tegang. Para sesepuh menyadari bahwa ancaman kali ini bukan lagi sengketa antar-perguruan biasa, melainkan invasi tersembunyi yang mengancam kedaulatan seluruh dunia persilatan.
❖ ❖ ❖