Malam di perkemahan pesisir Cirebon terasa begitu pekat, dihimpit oleh keheningan yang mencekam dan bau anyir lumpur beracun yang menguar dari rawa-rawa di sekelilingnya. Di dalam tenda besar berlapis kain kanvas kasar, ratusan pesilat berdarah pendekar terbaring lemas di atas tikar jerami. Napas mereka berat dan tersengat deru angin laut yang membawa hawa dingin menusuk tulang. Racun lumpuh yang disebarkan oleh pasukan musuh telah merasuk ke dalam aliran darah para pendekar tangguh itu, melumpuhkan sendi-sendi dan membekukan tenaga dalam mereka tanpa ampun.
Chafia menyeka peluh di dahinya dengan punggung tangan yang berlumuran getah daun jombang dan akar bajakah. Matanya merah karena kurang tidur, namun ia tidak berhenti menggerakkan tangannya di atas lesung batu besar. Di hadapannya, tumpukan rempah-rempah lokal beraroma tajam mengepulkan uap hangat yang berkhasiat tinggi.
"Zahra, bagaimana kondisi ekstrak akar kelor hitam di sudut tenda?" tanya Chafia dengan suara parau namun tegas, matanya tetap awas mengawasi cairan hijau pekat yang mendidih perlahan di atas perapian kecil.
Zahra, yang berdiri tidak jauh dari meja peracikan sambil memegang mangkuk tanah liat berisi air embun pegunungan, segera mendekat. Wajah gadis muda itu tampak tegang, mencerminkan beban berat yang harus mereka pikul demi menyelamatkan ratusan nyawa yang kini berada di ambang kematian.
"Sudah mencapai titik didih yang tepat, Chafia," jawab Zahra, menyerahkan mangkuk tersebut dengan hati-hati. "Tetapi cairan ini belum cukup stabil jika kita tidak segera mencampurnya dengan serbuk daun pegagan segar yang baru ditumbuk. Racun lumpuh ini berbeda dari racun biasa; ia menyerang titik syaraf utama di sepanjang tulang belakang korban."
Chafia mengangguk cepat. Ia menerima air embun itu dan menuangkannya perlahan ke dalam lesung batu, menciptakan desis air hangat yang berpadu dengan aroma rempah pekat. "Kita tidak punya banyak waktu. Jika fajar menyingsing dan racun itu sepenuhnya menguasai jantung mereka, organ dalam para pesilat Cirebon ini akan rusak permanen dan kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi."
Di sudut tenda, Ki Raga—sesepuh pesilat Cirebon yang tubuhnya masih setengah lumpuh—mencoba bangkit bertumpu pada siku tangannya. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah dua tabib muda yang bekerja tanpa kenal lelah menyelamatkan rekan-rekannya. "Anak muda... jangan paksakan diri kalian," bisik Ki Raga dengan suara bergetar lemah, menahan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. "Racun itu racun pusaka Kerajaan Seberang. Tidak mungkin bisa disembuhkan hanya dengan dedaunan liar dari hutan pesisir ini."
Chafia menoleh sesaat, melemparkan senyuman penuh keyakinan di tengah peluh yang membasahi wajahnya. "Ki Raga, racun buatan manusia selalu memiliki celah buatan manusia pula. Alam Cirebon ini menyimpan penawar bagi setiap penyakit yang ditimbulkannya. Percayakan pada kami."
Zahra menambahkan serbuk daun pegagan ke dalam adonan, membuat cairan di lesung batu berubah warna menjadi kebiruan pekat dengan aroma mint yang menyegarkan. Mereka berdua tahu, racun masal ini menuntut penawar masal yang harus disebarkan seketika, sebelum fajar benar-benar memecah malam dan pasukan musuh kembali datang menyerbu.
❖ ❖ ❖
Suara gemerisik di luar tenda mendadak memecah konsentrasi Chafia dan Zahra. Di luar, penjaga gerbang perkemahan melaporkan bahwa barisan terdepan pasukan musuh mulai merapatkan kepungan dari arah bukit karang. Tekanan psikologis ini memperburuk situasi di dalam tenda; beberapa pesilat yang mulai sadar setengah sadar mulai mengerang kesakitan, panik karena merasa tenaga dalam mereka terkuras habis dan tidak mampu lagi mengangkat senjata.
Zahra merasakan tangannya bergetar hebat saat memegang sendok perunggu pengaduk ramuan. "Chafia, pengintai di luar bilang musuh membakar semak-semak di batas hutan. Asap beracun susulan mulai ditiupkan angin ke arah perkemahan kita!"
Chafia segera menghentikan pekerjaannya sejenak, menegakkan tubuhnya untuk meredakan ketegangan yang merambat di udara. "Tetap fokus pada ramuan, Zahra! Jangan biarkan asap luar mencemari wadah penawar kita. Tutup ventilasi tenda dengan kain basah sekarang juga!"
Dengan sigap, Zahra berlari mengambil beberapa helai kain tebal yang telah dicelupkan ke dalam air garam, lalu menutup celah-celah angin di dinding tenda. Suasana di dalam langsung meredup, hanya diterangi oleh nyala api kecil dari perapian ramuan yang berpendar kemerahan di wajah mereka berdua.
Ki Raga yang terbaring di dekat mereka mendesis pelan, giginya bergemeretuk menahan sakit. "Kalian tidak akan sempat menyelesaikan penawar itu... Pasukan musuh sengaja mempercepat serangan malam ini karena tahu kita sedang lemah. Jika kalian gagal, seluruh marga pesilat Cirebon akan musnah tanpa perlawanan."
"Kami tidak akan gagal, Ki," sahut Chafia mantap, meski dadanya sendiri berdegup kencang menahan rasa cemas. Tantangan terbesar saat ini bukanlah meracik bahannya, melainkan bagaimana menyatukan ekstrak getah jombang yang bersifat panas dengan air embun pegunungan yang bersifat dingin tanpa merusak enzim penawarnya.
"Zahra, perhatikan suhu cairannya," instruksi Chafia sambil mengatur napasnya agar tetap stabil. "Jika terlalu panas, khasiat daun pegagan akan menguap. Jika terlalu dingin, racun lumpuh di tubuh mereka akan mengeras dan mengunci aliran darah selamanya."
Zahra membungkuk, mendekatkan telapak tangannya ke mangkuk besar untuk merasakan radiasi panas dari ramuan tersebut. "Suhunya hampir pas... tapi cairan ini mulai mengental lebih cepat dari perkiraan kita. Kita butuh pelarut tambahan agar bisa diminum oleh ratusan orang sekaligus."
"Gunakan sisa air kelapa muda yang kita rendam dengan garam karang semalam," perintah Chafia tanpa ragu. "Sifat elektrolit alami kelapa muda akan mempercepat penyerapan penawar ke dalam pembuluh darah yang membeku."
Namun, di tengah kesibukan mereka menakar bahan tambahan tersebut, suara benturan pedang dan teriakan peringatan terdengar nyaring dari luar tenda. Pasukan pengintai musuh rupanya berhasil menembus lapis pertahanan pertama dan kini mulai merangsek masuk ke area bangsal pengobatan darurat. Ketegangan mencapai puncaknya; waktu untuk meracik obat semakin menipis, sementara ancaman fisik di depan mata sudah berada di ambang pintu tenda.
❖ ❖ ❖