SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Hujan Panah Membelah Badai

Malam di atas Selat Tengkorak bukan lagi sekadar gelap; malam itu telah berubah menjadi monster yang mengamuk, menelan apa saja dengan gelombang hitam setinggi rumah. Di tengah amukan badai yang memekakkan telinga, aroma garam, amis darah, dan bau mesiu berputar-putar di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada. Kapal-kapal perang musuh merapat bagaikan barisan hiu haus darah, merayap mendekati armada utama kerajaan dengan tiang-tiang layar yang merentang lebar bagaikan sayap kelelawar raksasa.

Di atas geladak kapal utama yang basah oleh terjangan air laut, ketegangan merayap di setiap jengkal ruang. Prajurit berpegangan erat pada tali temali, sementara para perwira berteriak memberikan aba-aba yang tenggelam di antara deru angin ribut. Namun, di anjungan buritan yang letaknya lebih tinggi, dua sosok wanita berdiri tegak tanpa gentar menghadapi terpaan badai.

Judul itu terukir nyata dalam denyut nadi setiap prajurit yang menyaksikan ketenangan luar biasa dari Azalia dan Risha. Di hadapan mereka, ratusan algojo utama Iblis Samudra—pasukan elite laut lepas yang terkenal kejam dan tidak pernah kenal kata ampun—mulai menaiki tiang-tiang kapal mereka, bersiap meluncurkan serangan mematikan dari ketinggian untuk melumpuhkan pertahanan armada darat yang terjebak di teluk.

Ketika jarak antara kapal musuh dan garis pertahanan semakin dekat, dan teriakan perang pasukan Iblis Samudra mulai menembus deru angin, Azalia dan Risha mengambil langkah maju secara bersamaan. Keduanya saling bertukar pandang, sebuah isyarat sunyi yang lahir dari latihan bertahun-tahun di lembah pemanah bayangan.

"Mereka mencoba mengambil alih tiang pengintai kapal utama, Risha," ucap Azalia dengan suara dingin namun tegas, matanya menyipit tajam menembus tirai air hujan yang lebat ke arah barisan musuh di atas tiang kapal seberang.

Risha mendengus pelan, meraba tabung panah khusus di punggungnya sebelum menarik busur panjang berlapis ukiran perak. "Biar saja, Azalia. Semakin tinggi mereka memanjat, semakin mudah kita menjatuhkan mereka ke dalam pelukan air laut."

Tanpa aba-aba panjang, Azalia dan Risha mengangkat busur mereka serentak. Gerakan mereka begitu sinkron, seolah dikendalikan oleh satu pikiran yang sama. Dengan satu sentakan tangan yang luar biasa kuat, mereka merentangkan tali busur hingga batas maksimal, membiarkan tenaga dalam mereka mengalir ke dalam kayu busur yang berdengung nyaring.

Siiiing!

Azalia dan Risha melepaskan panah-panah berantai berujung besi tajam secara bersamaan. Anak panah itu meluncur deras menembus badai, meninggalkan jejak cahaya putih kehijauan yang menyibak kegelapan malam.

Anak panah berantai itu melesat cepat, berputar sinkron di udara sebelum menghantam sasaran dengan presisi yang mengerikan. Anak panah mereka menembus barisan pertahanan perisai kayu besi musuh dan menjatuhkan para algojo utama Iblis Samudra dari atas tiang kapal dengan hantaman telak. Suara jeritan kesakitan langsung tenggelam di antara deburan ombak besar, menandakan awal dari pertempuran udara yang mematikan.

❖ ❖ ❖

Hantaman anak panah berantai itu tidak hanya merobohkan barisan terdepan musuh, tetapi juga menciptakan kekacauan besar di antara para algojo yang tersisa di atas tiang kapal. Namun, pasukan Iblis Samudra bukanlah prajurit sembarangan yang mudah menyerah. Di balik jatuhnya rekan-rekan mereka, para panglima lapangan segera membaca arah datangnya serangan dan mengerahkan pasukan pemanah tandingan.

"Lindungi posisi tiang! Balas tembakan mereka dari atas!" teriak seorang petinggi Iblis Samudra dengan suara melengking yang membelah badai.

Puluhan pemanah bayangan musuh segera merayap naik ke puncak tiang utama, mengangkat busur silang bermuatan racun hitam pekat yang langsung diarahkan ke anjungan tempat Azalia dan Risha berdiri. Ketika pelatuk ditarik, puluhan anak panah beracun meluncur deras bagaikan hujan duri hitam.

Azalia mengertakkan gigi, merasakan desingan angin tajam mengancam nyawa mereka. "Risha, mereka membalas dengan busur silang! Lindungi sisi kanan!"

Risha tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melompat gesit ke samping, memutar busurnya untuk menepis tiga anak panah beracun yang mengincar bahunya. Tring, tring, tring! Anak-anak panah itu terpental jatuh ke geladak, meninggalkan bekas cairan hitam mendesis yang langsung melubangi kayu kapal.

Di belakang mereka, para perwira kapal berteriak panik karena beberapa prajurit pengawal mulai terkena sambaran panah nyasar. Tekanan psikologis itu menghujam mental pertahanan secara bersamaan. Di satu sisi, mereka harus menjaga akurasi tembakan di tengah badai; di sisi lain, mereka memikul beban nyawa ratusan awak kapal yang bergantung pada kejituan bidikan mereka.

"Azalia! Rantai panah di sisi kiri mulai kusut!" seru Risha memperingatkan saat sebuah terjangan angin badai membuat gulungan rantai baja mereka hampir melilit tiang utama anjungan.

Benar saja, sambaran angin laut yang teramat kencang membuat keseimbangan mekanis rantai panah terganggu. Para algojo Iblis Samudra yang melihat celah tersebut langsung bersorak girang. Mereka kembali merangsek naik, menggunakan perisai kulit hiu tebal untuk menangkis sisa-sisa terjangan panah berikutnya.

"Tahan sebentar lagi!" Azalia membentak keras, melompati batas kemampuannya sendiri. Ia menarik tali busur dengan satu tangan, mengalirkan seluruh sisa tenaga dalam di dadanya, lalu melepaskan panah rantai dengan sudut melengkung yang tidak biasa.

Bum!

Sebuah ledakan kecil dari gesekan tenaga dalam seketika menyembur di udara, memecah perisai kulit hiu musuh dan menjatuhkan lima algojo sekaligus ke dalam laut yang bergejolak. Namun, tindakan ekstrem tersebut harus dibayar mahal oleh Azalia. Darah segar tiba-tiba merembes keluar dari sudut bibirnya, menandakan bahwa aliran energi di dalam tubuhnya mulai mengalami tekanan berlebih akibat cuaca ekstrem.

Risha melirik sekilas ke arah sahabatnya dengan tatapan cemas. "Kau memaksakan diri, Azalia! Kondisi meridianmu belum pulih sepenuhnya dari pertempuran di pelabuhan utara kemarin!"

"Kalau aku tidak melakukannya, kita berdua akan tertusuk panah beracun itu, dan kapal ini akan dikuasai mereka dalam hitungan menit!" jawab Azalia dengan napas memburu, matanya tetap menyala tajam menatap gelombang musuh berikutnya yang kini mulai merangkak naik ke tiang-tiang kapal dengan formasi yang lebih rapi.

❖ ❖ ❖

Pertempuran telah memasuki fase paling melelahkan. Udara malam terasa semakin tipis, dipenuhi oleh cipratan air laut yang asin dan dingin, bercampur dengan bau mesiu serta keringat dingin yang mengucur deras di tubuh para pemanah. Di titik tengah medan laga ini, Azalia dan Risha terjebak dalam lingkaran badai dan kepungan musuh yang semakin mempersempit ruang gerak mereka di atas anjungan yang sempit.

Lihat selengkapnya