Medan pertempuran di pesisir Teluk Karang telah berubah menjadi arena uji kekuatan para pendekar tingkat tinggi. Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam yang pekat bercampur dengan bau hangus mesiu serta debu reruntuhan benteng pertahanan. Di tengah kancah pertempuran yang membara itu, dua kekuatan alam yang bertolak belakang bersiap untuk berbenturan secara langsung.
Arka berdiri tegak dengan kuda-kuda yang kokoh di atas karang hitam yang basah oleh buih ombak. Di hadapannya, berdiri sosok yang memancarkan aura mengerikan—pimpinan tertua dari kelompok legendaris Tiga Iblis Samudra. Tubuh sang iblis tua tampak kurus kering namun memancarkan energi biru kehitaman yang bergolak dahsyat, seolah-olah ia mampu mengendalikan seluruh amukan badai di lautan luas hanya dengan lambaian tangannya.
"Anak muda, keberanianmu patut diacungi jempol. Namun, menghadapi kekuatan lautan purba sama artinya dengan menantang takdir kehancuranmu sendiri," suara pimpinan Tiga Iblis Samudra itu menggema berat, menyerupai deru ombak yang menghantam karang karam.
Arka tidak gentar. Tatapannya tajam menatap musuh di depannya, sementara aliran tenaga dalam di dalam meridian tubuhnya mulai berputar cepat, menghangatkan setiap jengkal darahnya. "Kalian telah menebarkan teror dan penderitaan terlalu lama di wilayah ini. Hari ini, akhir dari riwayat kalian telah tiba."
"Sombong!" geram sang iblis tua.
Tanpa buang waktu lagi, pimpinan Tiga Iblis Samudra itu mengentakkan kedua telapak tangannya ke permukaan air laut di samping karang. Seketika itu juga, gelombang air laut raksasa setinggi sepuluh meter melesat naik ke udara, membeku menjadi ribuan bilah es tajam yang memancarkan kilau kebiruan yang mematikan. Suhu di sekitar mereka merosot drastis dalam hitungan detik, mengubah udara hangat pantai menjadi sedingin es di kutub utara.
"Rasakan ini! Formasi Pemusnah Samudra: Pembeku Jiwa!" teriak sang iblis tua sambil mendorong gelombang es raksasa itu ke arah Arka.
Melihat serangan masif yang datang menerjang, Arka menarik napas dalam-dalam. Ia memusatkan seluruh kesadarannya pada inti tenaga dalam yang selama ini ia latih dengan susah payah. Di dalam tubuhnya, sebuah titik cahaya keemasan mulai berpendar terang, menjalar ke seluruh urat nadi dan memancarkan gelombang panas yang luar biasa kuat.
"Matahari Teratai Emas: Pancaran Kehidupan!" seru Arka lantang.
Dari tubuh Arka, meledaklah cahaya keemasan yang menyilaukan mata, menyerupai kemunculan sang surya di pagi hari. Pukulan gelombang es musuh yang tadinya begitu mendominasi dan membekukan udara seketika berbenturan langsung dengan gelombang panas murni yang dipancarkan oleh teknik tingkat tinggi milik Arka. Uap putih tebal mengepul hebat ke udara saat suhu ekstrem panas dan dingin saling bertubrukan, menciptakan kabut tebal yang menutupi pandangan di sepanjang garis pantai.
❖ ❖ ❖
Benturan tenaga dalam antara Arka dan pimpinan Tiga Iblis Samudra menciptakan gelombang kejut dahsyat yang meretakkan batu-batu karang di sekitar mereka. Kabut tebal hasil penguapan air laut dan es membuat jarak pandang menyusut drastis, menyulitkan siapa pun untuk melihat apa yang sedang terjadi di pusat pertempuran.
"Uapnya terlalu tebal, kita tidak bisa melihat posisi Arka dengan jelas," ucap Rafar cemas sambil terus mengawasi dari jarak aman bersama Tera dan Kamil.
"Tenanglah, Rafar. Arka tahu apa yang sedang ia lakukan. Energi panas yang ia keluarkan jauh melampaui apa yang bisa ditahan oleh es biasa," jawab Tera dengan nada meyakinkan, meski tangannya sendiri mengepal erat menahan ketegangan.
Di tengah kepulan uap putih yang menyesakkan, pimpinan Tiga Iblis Samudra terkejut bukan kepalang. Ia tidak menyangka bahwa hawa panas murni yang dimiliki oleh seorang pemuda seusia Arka mampu menguapkan seluruh teknik pembeku miliknya dengan begitu mudah. Belum sempat ia memulihkan keseimbangan tenaganya, bayangan emas melesat menembus kabut dengan kecepatan kilat.
Bang!
Sebuah pukulan telapak tangan berlapis energi matahari mendarat telak di perisai tenaga dalam sang iblis tua. Pimpinan Tiga Iblis Samudra terdorong mundur hingga tiga langkah ke belakang, meninggalkan jejak sepatu bot yang terbenam dalam di atas pasir basah. Wajahnya yang tadinya angkuh kini mulai menunjukkan ekspresi keterkejutan yang mendalam.
"Tenaga dalam macam apa ini? Kau bukan sekadar pendekar biasa!" geram sang iblis tua sambil menyeka sedikit darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
"Ilmu ini lahir dari tekad untuk melindungi mereka yang tertindas, bukan untuk menghancurkan seperti yang kalian lakukan selama ini," balas Arka dingin, berdiri dengan postur tubuh yang siap siaga menghadapi serangan balik.
Sang iblis tua tertawa dingin, meski napasnya mulai sedikit memburu akibat terkuras oleh hantaman panas murni Arka. "Jangan besar kepala, anak muda! Pertarungan ini baru saja dimulai. Kau pikir Tiga Iblis Samudra hanya mengandalkan satu trik murahan?"
Tiba-tiba, kedua tangan sang iblis tua membentuk gestur aneh, merapal sebuah mantra kuno yang membuat air laut di sekitar karang mereka berpijar dengan cahaya biru gelap. Suara gemuruh aneh terdengar dari dasar laut, seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang ditarik ke permukaan.
"Hati-hati, Arka! Ia sedang mengumpulkan kekuatan dari arus bawah laut!" seru Tera memperingatkan melalui saluran komunikasi jarak dekat.
Arka menyipitkan matanya, merasakan tekanan atmosfer di sekitarnya mendadak berubah menjadi sangat berat. Udara yang tadinya panas akibat pancaran Teratai Emas kini mulai terasa lembap dan mencekam, seolah-olah langit dan lautan sedang bersekongkol untuk menekan keberadaannya.
❖ ❖ ❖
Tekanan udara yang berat membuat dada Arka terasa sesak. Pimpinan Tiga Iblis Samudra kini dikelilingi oleh pusaran air kecil yang berputar dengan kecepatan tinggi, menghasilkan suara dengungan bernada rendah yang menggetarkan gendang telinga.