SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Keteguhan Jiwa Dua Benteng Utama

Malam di pesisir barat Teluk Kirana menyimpan gulita yang pekat, seolah langit menelan seluruh cahaya bintang dan menyisakan deru angin yang membawa bau amis air laut. Di atas karang-karang hitam yang licin oleh lumut purba, pertempuran mematikan tengah berkecamuk tanpa ampun. Ombak besar menghantam dinding karang berulang kali, menciptakan buih putih yang bergejolak bagaikan amukan lautan yang menolak kehadiran manusia. Di tengah kekacauan itu, lingkaran pelindung tipis yang memancarkan cahaya keemasan redup menjadi satu-satunya benteng pertahanan bagi Zahra dan Chafia, dua penyihir garis belakang yang tengah merapalkan mantra pemurni tingkat tinggi.

Namun, ketenangan ritual suci itu terancam hancur dalam hitungan detik. Dua sosok mengerikan berwujud setengah manusia dan setengah makhluk abyssal—Iblis Samudra—muncul dari balik gulungan ombak raksasa dengan kecepatan luar biasa. Kulit mereka bersisik hijau gelap, memantulkan cahaya bioluminesensi dari mata mereka yang kuning menyala. Di tangan masing-masing makhluk itu, tergenggam trisula bermata tiga yang dialiri oleh energi hitam beracun, siap menghujam jantung siapa saja yang menghalangi jalan mereka menuju pusat lingkaran sihir.

Melihat ancaman maut yang meluncur cepat ke arah Zahra dan Chafia, dua sosok kesatria berzirah baja legam langsung melompat menghadang di depan mereka. Fathan dan Galin, dua bersaudara yang terkenal sebagai perisai terkuat pasukan aliansi, berdiri kokoh bagai karang karismatik yang tak tergoyahkan.

Fathan, dengan pedang besar di tangan kanan dan perisai bundar berlambang singa di tangan kiri, menatap tajam ke arah iblis di sisi kanan. Napasnya memburu, mengepulkan uap putih di udara malam yang dingin. "Galin, jaga sisi kiri! Jangan biarkan cakar busuk mereka menyentuh lingkaran suci di belakang kita!" teriak Fathan, suaranya mengalahkan gemuruh ombak pantai.

"Serahkan padaku, Kak!" balas Galin tegas. Pemuda itu memutar tombak bermata ganda di tangannya hingga menciptakan desisan angin yang tajam. Wajahnya yang muda tampak dipenuhi tekad membaja, siap mempertaruhkan nyawa demi keselamatan rekan-rekan mereka.

Iblis Samudra pertama mendesis mengerikan, memperlihatkan taring-taring tajam yang meneteskan cairan asam. Tanpa aba-aba, makhluk itu melompat tinggi ke udara, mengayunkan trisulanya dengan kekuatan penuh ke arah kepala Fathan. Dentuman keras tercipta saat perisai Fathan menahan hantaman tersebut, mengirimkan getaran hebat hingga ke telapak kakinya yang tertancap di atas batu karang basah.

Fathan dan Galin menahan gempuran trisula dari dua Iblis Samudra lainnya demi melindungi posisi Zahra dan Chafia. Meski pakaian mereka robek dan tubuh mereka terkena goresan, benteng dua bersaudara ini tidak runtuh sedikit pun.

"Kalian tidak akan bisa melewati batas ini, para penguasa bangkai!" bentak Fathan sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam di otot-otot lengannya untuk mendorong mundur trisula yang menekan perisainya.

Galin di sisi kiri tidak tinggal diam. Ia meluncurkan tusukan kilat ke arah lambung Iblis Samudra kedua, memaksa makhluk itu menarik senjatanya untuk menangkis serangan mendadak tersebut. Percikan api menyala terang di tengah kegelapan malam setiap kali logam beradu dengan sisik keras iblis laut.

Zahra, yang duduk bersila di tengah lingkaran pelindung dengan keringat bercucuran di pelipisnya, mendongak sejenak melihat punggung kedua kesatria yang melindungi mereka. Matanya menyiratkan kecemasan mendalam. "Fathan! Galin! Pertahanan kalian sudah mulai menipis! Jangan paksakan diri jika kalian tidak sanggup!" serunya cemas, sementara tangannya terus bergetar menjaga kestabilan mantra.

"Fokuslah pada manframu, Zahra!" jawab Fathan tanpa menoleh sedikit pun, matanya tetap awas mengamati gerak-gerik musuh di hadapannya. "Tugas kami adalah berdiri di sini, dan kami tidak akan bergeser sejengkal pun!"

Chafia mengangguk setuju di sebelah Zahra, merapalkan bait-bait lanjutan untuk memperkuat perisai cahaya. "Mereka benar, Zahra. Kita harus mempercepat penyelesaian mantra pemurni ini sebelum gelombang kedua iblis laut naik ke daratan."

❖ ❖ ❖

Pertempuran semakin sengit ketika Iblis Samudra menyadari bahwa serangan frontal biasa tidak mampu menembus pertahanan fisik Fathan dan Galin. Makhluk-makhluk keji itu mulai mengubah taktik. Mereka memanfaatkan cipratan air laut yang berubah menjadi cambuk-cambuk air bertekanan tinggi, melesat liar menghantam segala arah untuk memecah konsentrasi kedua kesatria.

Sebuah cambuk air berkecepatan tinggi meluncur tanpa suara dari sisi gelap, menyambar lengan kiri Galin dengan telak. Kain zirah di lengannya robek seketika, meninggalkan luka sayatan panjang yang langsung mengeluarkan darah segar. Galin menggeram tertahan, menahan rasa perih yang membakar kulitnya akibat racun laut yang terkandung dalam cambuk tersebut.

"Galin! Kau terluka?" seru Fathan dari jarak beberapa meter, mendengar desisan napas adiknya yang mendadak berat.

"Aku baik-baik saja, Kak! Fokus pada lawanmu!" jawab Galin cepat, meski wajahnya tampak pucat pasi akibat racun yang mulai menjalar di pembuluh darahnya. Ia memaksakan kakinya untuk tetap berpijak kokoh di atas batu karang yang licin, mengangkat tombaknya tinggi-tinggi untuk menakut-nakuti iblis yang kembali mendesis di hadapannya.

Fathan melirik sekilas ke arah adiknya, dan kemarahan membara langsung menyelimuti hatinya. Aura keemasan tipis mulai terpancar dari tubuh Fathan, sebuah teknik rahasia keluarga kesatria yang hanya bisa bangkit dalam situasi desakan maut. Ia tahu betul bahwa racun iblis laut bekerja sangat cepat dalam melumpuhkan sistem saraf tubuh manusia.

"Kalian sudah melangkah terlalu jauh," ucap Fathan dengan suara dingin yang mengintimidasi. Ia mengayunkan pedang besarnya dalam sebuah busur melingkar yang lebar, menciptakan gelombang kejut angin yang memaksa Iblis Samudra di depannya terdorong mundur beberapa meter ke arah buih ombak.

Di dalam lingkaran perlindungan, Chafia menyadari kondisi gawat tersebut. Ia melirik Zahra yang wajahnya semakin pucat karena kehabisan energi sihir. "Zahra, racun di tubuh Galin mulai bereaksi. Kita harus mengirimkan sedikit energi pemurni ke arah mereka, atau mereka akan tumbang sebelum mantra ini selesai."

"Aku sedang mencoba, Chafia, tapi energi di sekitarnya terlalu pekat oleh aura kegelapan iblis," jawab Zahra terengah-engah, bibirnya bergetar hebat saat ia terus merapalkan bait mantra yang semakin rumit.

Di luar lingkaran, Iblis Samudra memanfaatkan momen keraguan tersebut untuk melancarkan serangan kombinasi. Kedua makhluk itu menggabungkan kekuatan trisula mereka, menciptakan pusaran air beracun kecil yang berputar kencang di atas permukaan karang, langsung mengarah ke kaki Fathan dan Galin untuk merobohkan keseimbangan mereka.

"Awas, Galin! Lompat ke kanan!" komando Fathan seketika.

Kedua bersaudara itu melompat serentak ke samping, menghindari pusaran air beracun yang menghantam batu karang tempat mereka berdiri sebelumnya hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Deburan air laut menyiram tubuh mereka basah kuyup, membuat pakaian zirah mereka terasa semakin berat dan membatasi gerak.

Namun, di tengah kesulitan luar biasa itu, Fathan dan Galin kembali berdiri berdampingan. Perisai Fathan kini retak di bagian sudut kiri, dan tombak Galin berlumuran darah hijau milik musuh serta darah merah dari luka di lengannya sendiri. Mereka berdua terengah-engah, namun sorot mata mereka sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah.

"Kau masih bisa berdiri, adik kecil?" tanya Fathan dengan sedikit senyuman tipis di sudut bibirnya, mencoba mencairkan ketegangan di antara deru ombak malam.

Lihat selengkapnya