SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Mekarnya Jurus Teratai Putih

Malam di dataran tinggi Lembah Kematian menyuguhkan pemandangan yang begitu mencekam. Kabut tebal turun merangkak dari puncak-puncak bukit batu, menyelimuti medan pertempuran yang kini telah berubah warna menjadi lautan darah. Pasukan gerombolan hitam pimpinan Jenderal Balau masih terus mendesak pertahanan kubu persilatan utara. Jeritan kesakitan, benturan logam yang nyaring, serta deru angin malam berpadu menjadi satu simfoni kematian yang memekakkan telinga.

Di tengah kecamuk perang yang nyaris merenggut seluruh harapan para pejuang kebenaran, dua sosok wanita berdiri berdampingan di atas sebuah batu karang besar yang menonjol. Angin malam yang menderu kencang membuat jubah dan pakaian putih mereka berkibar megah bagaikan sayap burung rajawali yang siap terbang menembus badai. Mereka adalah Pendekar Wanita Teratai Putih, seorang tokoh sepuh berilmu tinggi yang terkenal dengan kelembutan hatinya namun mematikan dalam pertempuran, dan Tera, seorang murid muda berbakat yang memiliki kecepatan luar biasa dalam memainkan selendang sutra putih miliknya.

"Situasi sudah semakin genting, Guru," bisik Tera dengan napas memburu, matanya tajam menatap barisan pengawal inti musuh yang mulai merangsek maju dengan formasi tempur berbentuk cakar garuda. "Pasukan kita di sayap kiri sudah mulai terpecah. Jika kita tidak segera memutus lini depan mereka, pertahanan utama benteng ini akan runtuh sebelum fajar menyingsing."

Pendekar Wanita Teratai Putih menoleh sejenak, menatap wajah murid kesayangannya dengan senyuman tipis yang menenangkan. Guratan usia di wajah sang guru tidak sedikit pun mengurangi pancaran wibawa dan ketenangan batin yang luar biasa. Ia mengangkat dagunya, membiarkan angin malam menerpa rambut kelabunya yang tergerai bebas.

"Jangan gentar, Tera," ucap Pendekar Teratai Putih dengan suara lembut namun berwibawa, mampu menembus deru angin pertempuran di sekitar mereka. "Kekuatan sejati bukanlah terletak pada seberapa banyak darah musuh yang tumpah, melainkan pada seberapa teguh hati kita menjaga keseimbangan alam ini. Perhatikan barisan mereka. Pasukan pengawal inti itu mengandalkan kekompakan fisik yang kaku. Di situlah kelemahan terbesar mereka."

Tera mengangguk perlahan, mencoba meresapi setiap petuah yang disampaikan oleh sang guru di tengah situasi hidup dan mati tersebut. Di hadapan mereka, sekitar lima puluh orang pengawal inti musuh—seluruhnya mengenakan baju zirah hitam legam berajah tengkorak—mendekat secara serentak. Mereka memegang tombak bermata bercabang tiga dengan tatapan mata kosong penuh kebencian, siap menghabisi siapapun yang berdiri di jalur mereka.

"Bersiaplah, anakku," lanjut Pendekar Teratai Putih sambil merenggangkan kedua tangannya. "Kita akan menyatukan inti tenaga dalam kita. Sudah saatnya kita memperlihatkan kepada mereka keindahan yang mematikan dari jurus pusaka kita."

❖ ❖ ❖

Mendengar instruksi sang guru, Tera tidak membuang waktu sedetik pun. Ia segera menghunus selendang sutra putihnya yang terbuat dari benang ulat salju pilihan. Selendang itu memancarkan kilau keperakan yang lembut di bawah temaram cahaya bulan sabit yang mulai tertutup awan mendung. Di saat yang sama, Pendekar Wanita Teratai Putih juga melejitkan selendang pusaka miliknya yang berukuran lebih panjang dengan sulaman benang emas di kedua ujungnya.

"Serbu mereka! Jangan beri kesempatan dua wanita itu merapal jurus!" komandan pengawal inti musuh berteriak garang, mengayunkan pedang besarnya ke udara.

Puluhan prajurit elit musuh berlari serentak, menghentakkan kaki ke tanah hingga menciptakan getaran kecil di bukit batu. Tombak-tombak beracun di tangan mereka terarah lurus ke dada Pendekar Teratai Putih dan Tera, siap menembus pertahanan apa pun yang menghalangi.

"Sekarang, Tera! Gabungkan aliran tenaga dalammu dengan aliranku!" seru Pendekar Teratai Putih penuh penekanan.

Kedua wanita itu melompat berputar secara bersamaan di udara. Gerakan mereka begitu gemulai, seolah mereka sedang menarikan tarian penyambutan dewi kayangan di tengah padang rumput. Namun, di balik kelembutan gerakan tersebut, pusaran tenaga dalam tingkat tinggi mulai bergolak dahsyat, memutar angin di sekitar mereka hingga membentuk pusaran badai kecil berwarna putih bersih.

Wusss!

Selendang putih milik sang guru dan selendang sutra milik Tera saling membelit dan bersilang di udara. Sesaat kemudian, kedua kain lembut itu berubah wujud menjadi keras bagaikan baja bersepuh racun suci begitu tenaga dalam murni mereka dialirkan secara bersamaan. Ikatan di antara kedua selendang tersebut menciptakan sebuah harmoni energi yin dan yang yang sangat seimbang.

"Ilmu apa itu? Tangkap mereka!" gerung salah seorang pengawal inti yang berada di barisan terdepan, mencoba melompat tinggi untuk menebas kepala Tera.

Tera melirik sekilas ke arah penyerang tersebut tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya. Dengan satu sentakan pergelangan tangan yang lembut, ia mengibaskan ujung selendangnya ke samping.

Bugh!

Meskipun gerakan selendang itu terlihat sangat pelan, hantaman angin tenaga dalam yang menyertainya mampu merontokkan keseimbangan prajurit tersebut seketika. Pengawal elit itu terpental mundur sejauh lima meter, menghantam batu karang besar dengan suara keras sebelum akhirnya jatuh pingsan bersimbah darah.

"Jangan biarkan mereka menyatukan selendang itu sepenuhnya!" teriak sang komandan pengawal dengan wajah mulai pucat pasi, merasakan aura intimidasi yang luar biasa besar mulai memancar dari tubuh kedua pendekar wanita tersebut.

❖ ❖ ❖

Tekanan dari pasukan pengawal inti musuh semakin menjadi-jadi. Mereka membentuk formasi melingkar, mengepung batu karang tempat Pendekar Teratai Putih dan Tera berdiri. Ratusan mata memandang penuh siaga, menyadari bahwa kedua wanita di hadapan mereka bukanlah lawan sembarangan yang bisa dikalahkan dengan cara mengeroyok secara serampangan.

Lihat selengkapnya