SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Tumbangnya Tiga Syetan Samudra

Malam di atas geladak kapal induk Naga Samudra mencapai puncaknya dalam kepekatan yang mencekam. Angin laut bertiup kencang, membawa percikan buih air asin yang terasa dingin membekukan kulit. Di tengah arena pertarungan yang bersimbah darah dan serpihan kayu patah, Arka berdiri tegak dengan napas memburu. Jubahnya robek di beberapa bagian, memperlihatkan goresan luka pertarungan yang mengeluarkan darah segar. Namun, sorot mata Arka tidak sedikit pun menunjukkan rasa gentar. Di hadapannya, tiga sosok raksasa berjubah biru gelap berdiri berdampingan—Tiga Iblis Samudra, datuk-datuk aliran hitam yang selama ini menebar teror di seluruh pesisir Nusantara.

"Kalian sudah kehabisan jalan, Tiga Iblis Samudra," suara Arka bergemerincing tajam, memotong deru ombak malam yang menghantam lambung kapal. "Kesombongan kalian atas lautan luas berakhir malam ini di hadapan keadilan rimba persilatan!"

Salah satu dari mereka, iblis berbadan paling besar dengan trisula raksasa di tangan, tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggetarkan geladak kapal. "Bocah lancang! Kau pikir dengan sedikit trik murahan kau bisa menumbangkan kami? Kami adalah penguasa palung laut terdalam! Darahmu akan menjadi pelumas bagi kebangkitan penguasa sejati kami!"

Tera, yang berdiri beberapa langkah di belakang Arka dengan pedang berlumuran darah di tangan kanannya, merapatkan barisan kuda-kadanya. Ia melirik sekilas ke arah Arka, lalu berbisik pelan di tengah desau angin malam. "Arka, pertahanan mereka sangat rapat. Ketiga iblis itu menggunakan formasi Segitiga Hitam. Kita tidak bisa menembus pertahanan fisik mereka dengan serangan biasa."

Arka mengangguk tegas, menyetujui analisis tajam rekannya itu. "Aku tahu, Tera. Mereka menggabungkan aliran tenaga dalam berbasis air yang saling menguatkan satu sama lain. Setiap pukulan yang kita arahkan ke salah satu dari mereka akan diserap dan dibagi rata oleh kedua iblis di sisi lainnya."

"Lantas, apa rencana kita?" tanya Tera cepat, sementara bayangan Tiga Iblis Samudra mulai bergerak melingkar, merapatkan jarak perlahan-lahan untuk melancarkan serangan maut pemungkas.

"Celahnya bukan pada pertahanan mereka, melainkan pada ritme pernapasan sinkronisasi tenaga dalam mereka," jawab Arka tenang sambil memejamkan mata sejenak, merasakan getaran energi yang terpancar dari gerak-gerik ketiga musuh besar di hadapannya. "Saat mereka bersiap melancarkan jurus pamungkas, akan ada sepersekian detik jeda di mana aliran tenaga dalam mereka terputus. Di situlah kita hancurkan mereka sekaligus."

❖ ❖ ❖

Mendengar bisikan rencana Arka, Tiga Iblis Samudra menyadari bahwa rahasia formasi mereka telah terbaca. Iblis tengah yang bertindak sebagai pemimpin kelompok itu mendengus dingin, matanya menyipit penuh kebencian yang mendalam. "Anak ini terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup lebih lama lagi! Jangan beri mereka kesempatan bernapas! Hancurkan mereka sekarang juga dengan kekuatan penuh!"

Seketika itu juga, ketiga iblis tersebut mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi ke udara. Trisula, tombak es, dan rantai berat berputar serempak, menghimpun hawa dingin dari air laut di sekitar kapal hingga menciptakan pusaran angin badai mini di atas geladak. Suhu udara di sekitar mereka merosot drastis dalam hitungan detik, membuat tetesan air laut di lantai membeku menjadi kristal es tajam yang berserakan.

"Formasi Kehancuran Samudra Jilid Ketiga!" teriak ketiganya berbarengan, memancarkan gelombang energi hitam kebiruan yang sangat pekat dan menyesakkan dada.

Arka merasakan tekanan luar biasa menindih sekujur tubuhnya. Tekanan itu begitu masif hingga lututnya terasa berat, seolah-olah gravitasi bumi dilipatgandakan ribuan kali lipat di titik tempat ia berdiri. Tera di belakangnya bahkan terdorong mundur selangkah, batuk kecil mengeluarkan setetes darah segar dari sudut bibirnya akibat hantaman gelombang kejut tenaga hitam tersebut.

"Arka... tekanan ini... luar biasa kuat!" seru Tera tertahan, mencoba menahan beban dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga dalam di dantiannya.

"Bertahanlah, Tera!" Arka berteriak memberi semangat, meski keringat dingin kini mengalir deras membasahi sekujur wajahnya. Ia tahu betul, jika mereka gagal menahan gelombang serangan pertama ini, maka bukan hanya nyawa mereka berdua yang melayang, melainkan seluruh siasat pembebasan pesisir utara akan mengalami kegagalan total.

Lihat selengkapnya