SERI 7: TERATAI PUTIH PENYAPU ANGIN

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Sinyal dari Perguruan Teratai Biru

Kemenangan di pesisir utara disambut sukacita oleh warga dan pesilat Cirebon. Namun, saat merayakan keselamatan kota, sebuah kembang api sinyal berwarna biru meledak di angkasa selatan. Sinyal darurat itu datang dari Perguruan Teratai Biru yang mengabarkan terjadinya perang saudara dan perebutan tahta kepemimpinan. Arka, Tera, dan kedelapan sahabatnya pun segera bersiap melangkah menuju Seri Ke-8: Kemelut Teratai Biru.

Suara riuh rendah kegembiraan masih menggema di setiap sudut pelabuhan Cirebon tatkala matahari perlahan-lahan mulai tenggelam ke dalam pelukan garis horizon barat. Penduduk kota, para nelayan, hingga para pendekar aliran putih berdampingan merayakan kemenangan besar atas hancurnya gerombolan Kaum Hitam. Meja-meja panjang dipenuhi hidangan sederhana namun sarat kehangatan, sementara anak-anak kecil berlarian gembira membawa obor bambu di sepanjang jalan utama yang baru saja pulih dari puing-puing peperangan.

Arka berdiri di atas anjungan dermaga batu, membiarkan angin laut malam menyapu rambutnya yang sedikit berantakan. Di sampingnya, Tera meneguk air kendi gerabah dengan tenang, menikmati ketenangan langka yang baru saja mereka renggut dari cengkeraman maut.

"Rasanya luar biasa melihat Cirebon kembali bernapas lega," ucap Tera pelan, matanya menatap lurus ke arah kerumunan warga yang sedang menari dan bernyanyi merayakan keselamatan bersama Bara dan Kian.

Arka tersenyum tipis, namun garis wajahnya tetap menyiratkan ketegasan seorang pemimpin muda. "Kemenangan ini adalah buah dari kerja keras kita semua, Tera. Tapi aku tahu betul, kedamaian di dunia persilatan tidak pernah bertahan lama. Selalu ada bara yang tertinggal di balik abu dingin."

"Kau benar, Arka. Lihatlah ke selatan," jawab Tera tiba-tiba sambil menunjuk lurus ke arah kegelapan malam di balik barisan bukit karang.

Seketika itu pula, sebuah pijar cahaya terang benderang melesat menembus angkasa gelap dari ufuk selatan, meledak hebat di ketinggian malam dan memancarkan warna biru berpendar yang sangat mencolok. Kilau cahaya itu menyinari seluruh langit malam Cirebon layaknya bulan purnama kedua yang mendadak muncul dan membawa pertanda buruk.

Suara ledakan tumpul dari kembang api itu menyusul beberapa detik kemudian, memecah keheningan malam dan langsung meredam riuh rendah suara kegembiraan warga di bawah sana.

Bara yang tadinya tertawa lebar bersama Kian seketika menghentikan langkahnya. Pria berotot itu mendongak, menatap tajam ke arah langit biru yang perlahan memudar. "Sinyal apa itu? Warnanya biru terang. Bukankah itu..."

"Benar, Bara," potong Kian dengan nada suara yang mendadak serius, wajahnya memucat pasi. "Itu adalah kembang api sinyal darurat tingkat tinggi milik Perguruan Teratai Biru. Sinyal yang hanya boleh dinyalakan apabila perguruan menghadapi ancaman kepunahan dari dalam."

Suasana pelabuhan yang tadinya penuh tawa mendadak berubah menjadi sunyi mencekam. Kedelapan sahabat Arka dan Tera—Bara, Kian, Laras, Raga, Sekar, Bayu, Tika, dan Jati—segera merapat ke dermaga, meninggalkan perayaan yang belum usai demi merespons panggilan darurat yang sarat akan pertumpahan darah tersebut.

❖ ❖ ❖

Arka melangkah cepat menuruni tangga dermaga, menghampiri kawan-kawannya yang kini telah berkumpul dalam lingkaran tegang. "Kalian semua melihatnya? Sinyal itu tidak datang dari tempat yang jauh. Itu berasal dari puncak bukit barat daya, markas utama Perguruan Teratai Biru."

Lihat selengkapnya