SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Sinyal Biru di Atas Buana

Langit malam di atas Lembah Wilis yang biasanya diselimuti ketenangan mendadak koyak oleh sebuah garis cahaya pekat. Sebuah kembang api raksasa meledak di udara, memancarkan warna biru berpendar yang sangat terang, memantul di permukaan sungai dan dedaunan pinus yang basah oleh embun. Sinyal itu bukan perayaan, melainkan jeritan sunyi yang meminta pertolongan segera. Itu adalah Sinyal Biru—tanda bahaya tertinggi milik Perguruan Teratai Biru.

Arka berdiri di anjungan batu karang, jubah peraknya tersibak angin lembah yang menderu kencang. Matanya menatap tajam ke arah ufuk barat, tempat perguruan sahabat karib mereka berada. Di belakangnya, Tera melangkah mendekat dengan napas sedikit memburu, tangannya erat mencenggang gagang pedang bermata dua di pinggangnya.

"Kau melihatnya, Arka?" suara Tera terdengar berat, memecah kesunyian malam yang mencekam. "Itu bukan latihan. Perguruan Teratai Biru sedang diserang. Dan dari intensitas cahayanya, situasi di sana sudah sangat kritis."

Arka tidak langsung menjawab. Pikirannya melayang pada kenangan beberapa bulan lalu, saat ia dan Tera bertukar sumpah setia dengan para murid utama Teratai Biru untuk saling menjaga perdamaian di tanah perbatasan. Kini, sumpah itu diuji oleh sebuah ancaman tak dikenal yang datang di tengah malam.

Tak lama berselang, derap langkah kaki bergemuruh memecah keheningan perkemahan. Kedelapan sahabat mereka—Bayu, Raras, Kunto, Sita, Dika, Nila, Jati, dan Wulan—datang bergantian dengan perlengkapan tempur lengkap. Wajah mereka menyiratkan ketegangan yang sama, namun tidak ada secercah pun keraguan di mata mereka.

"Kami sudah memeriksa kuda dan persediaan," ujar Bayu sambil mengatur napasnya yang memburu. "Semuanya siap. Kita bisa berangkat sekarang sebelum fajar menyingsing, tetapi jarak ke Lembah Wilis memakan waktu setidaknya setengah malam jika kita menembus jalur tikus di perbukitan batu."

"Kita tidak punya waktu setengah malam, Bayu," seru Raras dengan nada mendesak. "Sinyal biru itu menyala. Artinya benteng pertahanan terluar mereka sudah jebol. Setiap detik yang kita buang berarti nyawa yang melayang."

Arka mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar rekan-rekannya tenang. Suasana kembali senyap, menyisakan deru angin malam yang mendinginkan kulit.

"Raras benar," ucap Arka tegas. "Kita akan mengambil jalur pintas menembus Hutan Kabut Hitam dan mendaki Tebing Tengkorak. Memang berbahaya, tetapi itu satu-satunya cara agar kita bisa tiba sebelum fajar menelan sisa-sisa pertahanan mereka. Tera, pimpin barisan depan. Aku akan mengawal di belakang bersama Bayu dan Raras."

"Baik!" seru mereka serempak.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, kesepuluh pendekar muda itu melompat ke pelana kuda masing-masing. Dengan cambuk bergemeretak dan teriakan singkat, kuda-kuda tangguh itu melesat membelah kegelapan malam, meninggalkan jejak debu yang mengepul di bawah terangnya sinar bulan sabit.

Perjalanan malam itu dipenuhi dengan ujian fisik yang berat. Hutan Kabut Hitam menyambut mereka dengan uap dingin yang pekat, membatasi jarak pandang hingga sejauh dua tombak. Akar-akar pohon beringin tua yang merentang di permukaan tanah siap menjegal kuda kapan saja.

"Tetap rapat! Jangan sampai ada yang terpisah di kabut ini!" teriak Tera dari barisan terdepan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin lembah.

"Awas di sebelah kiri!" seru Sita memperingatkan Nila saat seekor dahan besar hampir menyambar bahunya. Nila dengan sigap merunduk, melekat erat pada punggung kudanya.

Mereka terus memacu kuda menembus kegelapan, didorong oleh satu tekad yang sama: menyelamatkan Perguruan Teratai Biru sebelum semuanya terlambat.

❖ ❖ ❖

Setelah bertarung melawan waktu dan kepekatan malam di Hutan Kabut Hitam, rombongan Arka akhirnya tiba di kaki Tebing Tengkorak. Medan di tempat ini jauh lebih terjal dan berbahaya. Tebing batu cadas menjulang curam menghadap jurang yang menganga di sisi kiri, sementara dinding batu padas yang licin membentang di sisi kanan.

Kuda-kuda sudah tidak mungkin digunakan lagi. Dengan napas terengah-engah dan keringat membasahi jubah tempur, Arka memberi komando untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

"Turun dari kuda! Kita lanjutkan dengan mendaki jalur setapak batu," perintah Arka sambil melompat turun dari kudanya dan menepuk leher hewannya yang basah oleh keringat.

"Medan ini sangat rawan longsor, Arka," kata Kunto sambil memperhatikan bebatuan rapuh di tepi jurang. "Terutama setelah hujan lebat kemarin malam."

"Kita harus tetap bergerak cepat," timpal Tera sambil menguji kekuatan pijakannya pada sebuah batu besar. "Aku bisa merasakan getaran aneh dari arah lembah. Sesuatu yang besar sedang bergerak di sana."

Baru saja Tera menyelesaikan kalimatnya, suara gemuruh hebat menggelegar dari atas tebing. Bebatuan sebesar kerbau meluncur turun dengan kecepatan tinggi, mengancam menghantam barisan mereka yang tengah merayap di dinding tebing.

"Longsor! Lindungi diri kalian!" teriak Arka lantang.

Suasana seketika berubah menjadi kekacauan yang menegangkan. Bebatuan berjatuhan menghantam tanah dengan suara dentuman keras. Wulan, yang berada di posisi tengah, hampir kehilangan keseimbangan saat pijakannya runtuh ke jurang.

"Wulan!" seru Raras sambil melemparkan cambuk panjangnya.

Ujung cambuk itu melilit dengan kuat pada pergelangan tangan Wulan tepat pada detik-detik yang menentukan. Dengan sekuat tenaga, Raras menarik Wulan ke atas, membanting tubuh temannya itu ke dekat dinding batu yang aman, sementara bongkahan batu besar meluncur tepat di tempat Wulan berdiri sedetik sebelumnya.

"Terima kasih, Raras," bisik Wulan dengan wajah pucat pasi, dadanya naik turun menahan debar jantung yang luar biasa kencang.

"Jangan banyak bicara, fokus pada pijakanmu!" balas Raras sambil menarik kembali cambuknya.

Di barisan depan, Tera dan Dika harus menghadapi rintangan lain. Sekelompok kelelawar raksasa penghuni tebing, yang terganggu oleh keributan batu longsor, beterbangan secara agresif dan menyerang kepala mereka. Tera mengayunkan pedangnya dengan gerakan melingkar, menciptakan angin tajam yang mengusir kawanan binatang buas tersebut tanpa melukai mereka secara fatal.

"Kita terjepit di sini," ujar Dika dengan gigi kertak. "Jika kita memaksakan diri mendaki sekarang, kita bisa jatuh ke jurang. Tapi jika kita berdiam diri, longsor susulan akan mengubur kita hidup-hidup."

Arka merayap mendekati posisi Dika dan Tera. Matanya menyapu sekeliling, mencari celah aman di antara hujan batu yang mulai mereda.

"Ada gua kecil di balik air terjun kering itu," tunjuk Arka ke arah celah batu sekitar sepuluh tombak di atas mereka. "Kita gunakan itu sebagai tempat berlindung sementara untuk mengatur strategi."

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, kesepuluh sahabat itu merangkak naik secara beriringan, saling bahu-membahu menarik rekan yang kelelahan. Sesampainya di dalam gua, mereka terduduk lemas, mengatur napas di tengah udara gua yang lembap dan berbau belerang.

"Ini baru permulaan," ucap Arka pelan, menatap rekan-rekannya satu per satu dengan pandangan penuh tanggung jawab. "Perjalanan kita masih panjang, dan bahaya yang sebenarnya baru akan kita temui di gerbang Perguruan Teratai Biru."

❖ ❖ ❖

Matahari mulai merangkak naik, mengusir sisa-sisa kabut malam dan menggantinya dengan cahaya kemerahan yang menyelimuti Lembah Wilis. Namun, keindahan pagi itu ternoda oleh pemandangan yang membuat darah Arka dan kawan-kawan mendidih.

Dari ambang gua tempat mereka berlindung, tampak jelas kompleks Perguruan Teratai Biru yang terletak di seberang lembah. Gerbang utama yang megah kini tinggal puing-puing yang terbakar. Asap hitam mengepul tebal dari arah aula utama, menandakan bahwa pertempuran besar telah terjadi dan sebagian besar bangunan telah luluh lantak.

"Ya ampun..." gumam Nila, menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata nyaris menetes di pipinya. "Apa yang sebenarnya terjadi di sana?"

"Bendera perguruan sudah diturunkan," amati Bayu dengan rahang mengeras. "Itu artinya pertahanan terakhir mereka telah jatuh ke tangan musuh."

Lihat selengkapnya