Lembah Wilis selalu diselimuti oleh kabut tipis yang merayap di antara pepohonan pinus dan tebing-tebing batu curam. Namun, pada pagi hari ini, kabut tersebut terasa lebih dingin dari biasanya—bukan lagi sekadar embun pegunungan, melainkan hawa kematian yang membekap seluruh kawasan Perguruan Teratai Biru. Suasana duka yang pekat dan ketegangan yang mencekam langsung menyergap siapa pun yang baru saja melangkah melewati gerbang batu perguruan silat yang selama ini dikenal damai dan terhormat itu.
Di ruang utama paviliun dalam, jasad Ketua Perguruan Teratai Biru terbujur kaku di atas pembaringan bambu. Tidak ada luka terbuka yang menganga, tidak ada tetesan darah yang mengotori lantai marmer putih. Wajah sang ketua tampak tenang, seolah ia hanya tertidur lelap. Namun, warna kebiruan yang pekat di sekitar kuku-kukunya dan aroma samar wangi bunga teratai beracun di udara menjadi bukti tak terbantahkan: sang pemimpin agung telah dibunuh dengan racun tingkat tinggi yang bekerja tanpa suara.
Berita kematian itu menyebar bagaikan api dalam sekam di antara para murid dan tetua perguruan. Kepanikan seketika merayap naik, menggantikan kedisiplinan ketat yang biasanya dijunjung tinggi di Perguruan Teratai Biru. Masalah terbesar yang langsung mencuat ke permukaan dan memicu perpecahan adalah kenyataan bahwa sang ketua mangkat tanpa sempat menunjuk seorang calon tunggal pewaris takhta kepemimpinan.
"Bagaimana mungkin beliau pergi begitu saja tanpa meninggalkan titah resmi?" suara Ki Arya, seorang tetua senior berjanggut putih, bergetar hebat di hadapan para murid utama yang berkumpul di halaman utama paviliun. Wajahnya merah padam karena amarah bercampur duka yang mendalam. "Perguruan kita tidak memiliki pemimpin sah saat ini, dan kursi ketua tidak boleh dibiarkan kosong terlalu lama!"
Suasana halaman utama langsung berdengung oleh bisikan-bisikan tegang. Para murid berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, saling melempar pandangan penuh kecurigaan. Di tengah kebingungan massal tersebut, dua sosok figur kuat perlahan maju ke depan, masing-masing membawa pendukung setianya sendiri.
Di sisi kiri berdiri Ki Raga, panglima latihan utama yang dikenal memiliki ilmu silat tangan kosong paling mematikan di lembah ini. Posturnya tinggi tegap, tatapan matanya tajam bagai elang, dan ia dikelilingi oleh para murid senior dari divisi eksekusi yang bertubuh kekar. Sementara itu, di sisi kanan berdiri Nyai Soka, kepala bagian keuangan sekaligus pengawas administrasi internal perguruan yang menguasai jaringan rahasia dan pengaruh luas di kalangan sesepuh.
"Ketenangan adalah hal utama yang kita butuhkan sekarang, Ki Arya," ucap Nyai Soka dengan suara tenang namun bernada dingin yang menusuk. "Menuduh atau berteriak di depan jasad ketua yang belum dimakamkan sama sekali tidak menyelesaikan masalah."
"Tenang katamu, Nyai?" potong Ki Raga dengan suara menggelegar yang memecah udara pagi. Ia melangkah mendekati Nyai Soka, jarak mereka kini hanya tinggal beberapa jengkal. "Ketua kita mati diracun di kamarnya sendiri! Ini adalah pembunuhan berencana dari dalam! Dan orang yang paling diuntungkan dari kekosongan kekuasaan ini adalah pihak yang memegang kendali atas keuangan dan logistik perguruan!"
"Jaga mulutmu, Ki Raga!" bentak salah seorang pengawal Nyai Soka sambil mencengkeram hulu pedangnya. "Apakah kau sedang menuduh Nyai Soka sebagai dalang di balik tragedi ini? Jangan mentang-mentang ilmumu tinggi, kau bisa menebar fitnah sembarangan!"
Ketegangan mencapai titik didih. Suasana di halaman paviliun mendadak sunyi senyap, kecuali suara angin lembah yang mendesir lewat. Dalam hitungan detik, Perguruan Teratai Biru yang megah kini telah resmi terbelah menjadi dua kubu yang saling bermusuhan, bersiap saling menerkam di atas abu sang pemimpin yang jasadnya bahkan masih hangat.
❖ ❖ ❖
Matahari perlahan naik menggantikan kabut pagi, namun kehangatannya gagal mencairkan atmosfer es yang membekukan Perguruan Teratai Biru. Perpecahan kini bukan lagi sekadar ancaman di bibir, melainkan kenyataan pahit yang membagi perguruan menjadi dua kubu yang saling mengawasi dengan mata penuh curiga.
Kubu pertama dipimpin oleh Ki Raga, yang mendeklarasikan dirinya sebagai pelindung darurat perguruan. Ia menduduki paviliun barat daya, menempatkan para murid penjaga di setiap sudut benteng, dan melarang siapa pun dari kubu lawan untuk mendekati jasad sang ketua. Menurut Ki Raga, kekuatan fisik dan ketegasan militer adalah satu-satunya benteng pertahanan agar Teratai Biru tidak runtuh diserang musuh dari luar.
Di sisi seberang, kubu kedua yang dipimpin oleh Nyai Soka menguasai paviliun timur laut. Nyai Soka bertindak cepat dengan mengamankan seluruh lumbung pangan, ruang penyimpanan pusaka, serta gulungan catatan rahasia teknik silat tingkat tinggi. Tanpa dukungan logistik dari Nyai Soka, kubu Ki Raga tidak akan mampu bertahan selama tiga hari ke depan.
"Mereka bertindak sewenang-wenang," gerutu Raden Mahesa, murid kepercayaan Ki Raga, sambil mondar-mandir di dalam aula paviliun barat daya. Tangannya tak lepas dari gagang pedang panjangnya. "Nyai Soka sengaja menahan pasokan obat dan makanan untuk menekan kita. Jika dibiarkan, para murid kita akan kelaparan sebelum sempat mencari siapa pembunuh sebenarnya."
Ki Raga duduk bersila di atas tikar pandan, matanya terpejam namun napasnya memburu menandakan ia sedang menahan amarah yang luar biasa besar. "Biarkan dia bermain dengan logistiknya, Mahesa. Kekuatan sejati di dunia persilatan tidak ditentukan oleh seberapa banyak beras di lumbung, melainkan seberapa tajam pedang di tangan kita."
"Tapi Guru..." Mahesa ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Ada laporan dari pengintai kita di perbatasan lembah. Kelompok bayangan dari Perguruan Naga Hitam terlihat berkeliaran di dekat air terjun. Mereka pasti tahu kalau kita sedang rapuh."
Mendengar nama Perguruan Naga Hitam disebut, mata Ki Raga terbuka lebar. Kilatan amarah terpancar jelas dari maniknya. "Musuh buyut kita... Jika mereka berani memanfaatkan situasi ini, aku sendiri yang akan meremukkan tulang-tulang mereka."
Sementara itu, di paviliun timur laut, suasana jauh dari kata tenang meskipun tempat itu dipenuhi persediaan makanan. Nyai Soka mondar-mandir di depan meja kerjanya yang dipenuhi gulungan dokumen keuangan. Di hadapannya duduk Sekar, seorang gadis muda bermata tajam yang merupakan murid paling cerdas dalam bidang pengobatan dan racun di perguruan.
"Bagaimana hasil pemeriksaanmu terhadap cangkir teh ketua, Sekar?" tanya Nyai Soka tanpa membuang waktu. Suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar oleh penjaga di luar.
Sekar menarik napas panjang, wajahnya menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Sangat mengerikan, Nyai. Racun yang digunakan bukanlah racun biasa yang bisa dibeli di pasar gelap. Itu adalah Bunga Salju Abadi, racun langka yang hanya tumbuh di puncak Gunung Es Utara. Racun itu tidak berasa dan meleleh sempurna dalam air panas tanpa meninggalkan endapan."
Nyai Soka mengerutkan keningnya. "Gunung Es Utara? Tempat itu sangat jauh dari Lembah Wilis. Siapa yang memiliki akses ke sana dalam beberapa bulan terakhir?"
"Hanya satu orang," jawab Sekar pelan. "Atau... seseorang yang memiliki hubungan dagang rahasia dengan sindikat utara. Dan orang yang memegang kendali penuh atas jalur perdagangan luar perguruan adalah bagian logistik yang dulu berada di bawah pengawasan langsung Ki Raga."
"Jadi kau menduga Ki Raga pelakunya?" tanya Nyai Soka menyelidik.
"Saya tidak berani menuduh secara pasti, Nyai," jawab Sekar hati-hati. "Tetapi ada kemungkinan besar bahwa salah satu dari orang dekat Ki Raga adalah pengkhianat yang membuka jalan bagi racun itu masuk ke kamar ketua."
Situasi semakin menjepit. Kedua kubu sama-sama meyakini bahwa musuh terbesar mereka ada di dalam gerbang perguruan sendiri, sementara ancaman luar dari Perguruan Naga Hitam sudah mengintai di balik kabut tebal Lembah Wilis.
❖ ❖ ❖
Hawa lembap di dalam gua batu bawah tanah Perguruan Teratai Biru terasa semakin menyesakkan dada. Di tengah kegelapan yang hanya diterangi oleh pendar samar lumut bercahaya di dinding batu, Kamil berdiri tegak dengan tatapan mata yang tidak pernah lepas dari pola gerakan para penjaga bayaran di ujung terowongan. Mereka adalah barisan pendekar bayaran elit yang dibayar mahal oleh pengkhianat internal untuk menjaga ruang rahasia tempat gulungan rahasia dan bukti kejahatan disimpan rapat-rapat.
"Formasi Pedang Cakar Naga," bisik Kamil pelan, nyaris tanpa suara, namun cukup jelas tertangkap oleh pendengaran tajam Arka dan Tera yang berdiri tepat di sisi kiri dan kanannya.
Arka mengernyitkan dahi, matanya menyipit memperhatikan kilatan bilah pedang musuh yang berputar bagaikan roda besi berduri. "Formasi itu terlihat sempurna tanpa cela, Mil. Setiap celah yang kita lihat sepertinya sengaja dibiarkan terbuka sebagai umpan untuk menjebak kita."
"Kau benar, Arka," balas Kamil tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun. Jari telunjuknya terangkat, menunjuk ke arah genangan air jernih yang berasal dari tetesan stalaktit di lantai gua. "Tetapi perhatikan sudut pantulan air itu. Bayangan pedang mereka tidak sinkron dengan gerakan tubuh bagian bawah mereka. Ada jeda sepersekian detik saat mereka memindahkan tumpuan kaki."
Tera mendekatkan wajahnya ke arah genangan air yang ditunjuk Kamil. Alisnya berkerut dalam, mencoba mencerna perhitungan matematis dan taktis yang sedang dipaparkan oleh rekan mudanya itu. "Titik buta... Jadi di situlah kelemahan dari formasi bertahan mereka?"